Tips MAKAN SEHAT untuk Penderita LUPUS

Tips MAKAN SEHAT untuk Penderita LUPUS

Makanan yang menyehatkan jantung dan produk susu rendah lemak adalah pilihan cerdas bagi penderita lupus.

Dunialansia.com – Sahabat Lansia, mengonsumsi makanan bergizi baik untuk semua orang, terlebih bagi mereka yang memiliki kondisi peradangan kronis, seperti lupus. Seperti apa pola makan sehat untuk penderita lupus?

Lupus merupakan penyakit autoimun kronis. Sistem kekebalan tubuh menjadi terlalu aktif dan menyerang jaringan sehat, sehingga menyebabkan peradangan. Akibatnya, terjadi kerusakan ringan hingga parah pada sendi dan organ tubuh, termasuk kulit, jantung, dan ginjal.

Gejala lupus dapat hilang dan muncul kembali selama kambuh. Meski belum ada obat penyembuhnya, lupus dapat dikelola dengan pengobatan dan terapi gaya hidup, termasuk pola makan sehat.

Makanan tertentu dapat membantu meredakan peradangan dan meminimalkan kekambuhan.

 

# Makanan yang menyehatkan jantung.

Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab utama kematian bagi penderita lupus. Peradangan dapat merusak jantung dan pembuluh darah yang menyebabkan pengerasan arteri dan penyakit jantung.

Pola makan yang menyehatkan jantung, seperti diet Mediterania, melindungi jantung dengan menurunkan tekanan darah dan kolesterol. Pola makan antiperadangan ini juga meredakan peradangan yang menyebabkan nyeri sendi.

Makanan yang menyehatkan jantung adalah makanan yang rendah garam, lemak jenuh, dan lemak trans. Makanan tersebut meliputi:

  • Ikan yang kaya akan asam lemak omega-3, seperti salmon, sarden, dan tuna.
  • Buah dan sayuran segar
  • Kacang-kacangan, biji-bijian, dan sumber protein nabati
  • Sumber protein rendah lemak, seperti ayam dan telur.
  • Biji-bijian utuh, meliputi beras, jelai, bulgur (gandum pecah), oatmeal, quinoa, serta roti, pasta, dan/atau sereal gandum utuh.

 

Asam lemak omega-3, khususnya asam eikosapentaenoat (EPA) dan asam dokosaheksaenoat (DHA), dapat mengurangi peradangan yang menyebabkan berbagai kondisi medis, termasuk penyakit jantung dan radang sendi.

Penelitian menunjukkan, orang yang mengonsumsi salmon atau suplemen EPA dan DHA mengalami penurunan penanda C-reaktif, yaitu protein yang bertanggung jawab untuk memicu peradangan dalam tubuh.

Usahakan mengonsumsi ikan berlemak setidaknya dua kali seminggu untuk menikmati efek antiperadangannya.

 

# Produk Susu Rendah Lemak

Beberapa faktor meningkatkan risiko tulang lemah pada penderita lupus, termasuk perawatan yang dapat memengaruhi seberapa baik penyerapan kalsium.

Penelitian menunjukkan, wanita yang menderita lupus lima kali lebih mungkin mengalami patah tulang akibat osteoporosis. Mengonsumsi makanan yang kaya kalsium dan vitamin D sangat penting bagi penderita lupus.

Makanan olahan susu dapat membantu. Namun, bagi yang intoleran laktosa atau memiliki alergi susu, dapat mengonsumsi produk olahan susu rendah lemak yang kaya kalsium setiap hari.

Susu rendah lemak dan yoghurt termasuk dalam daftar makanan yang dapat membantu menjaga tulang tetap kuat.

Penelitian menunjukkan, jenis bakteri sehat yang ditemukan dalam yoghurt dan produk olahan susu lainnya dapat mengurangi gejala penyakit pada beberapa orang yang menderita lupus.

Jika sama sekali tidak dapat mengonsumsi susu, beralihlah ke makanan lain yang dapat menyediakan nutrisi pembentuk tulang, seperti:

  • Alternatif susu atau susu bebas laktosa, seperti susu almond dan susu kedelai.
  • Ikan, seperti salmon.
  • Sereal dan jus buah yang diperkaya dengan kalsium dan vitamin D.
  • Tahu dan produk kedelai
  • Sayuran, seperti brokoli dan bayam.

Sahabat Lansia, meskipun makanan tertentu dapat membantu meredakan peradangan, perubahan pola makan bukan berarti dapat menyembuhkan atau mengobati lupus. Penyakit autoimun kronis ini belum dapat disembuhkan, tetapi dapat dikelola untuk mencegah kekambuhkan, salah satunya dengan pola makan sehat. (*)

 

( Makanan Terlarang bagi Penderita Lupus )

 

Sumber:
1. Cleveland Clinic Health Essentials (16/1/2025)
2. Verywell Health (23/11/2024)

 
Foto:
Freepik

 

 

Sahabat Lansia, dunialansia.com bukan merupakan praktik konsultasi medis, diagnosis, ataupun pengobatan. Informasi di situs web ini tidak boleh digunakan sebagai pengganti konsultasi atau saran medis profesional. Bila Sahabat Lansia memiliki masalah kesehatan atau penyakit tertentu atau kebutuhan medis yang spesifik, konsultasikan dengan tenaga medis atau tenaga kesehatan profesional.
Yuk, berbagi artikel ini agar manfaatnya dirasakan oleh banyak orang.