Mengenali Demensia: Faktor Risiko yang Dapat Dikendalikan (1)

Mengenali Demensia: Faktor Risiko yang Dapat Dikendalikan (1)

Meski risiko demensia meningkat seiring bertambahnya usia, banyak faktor yang sebenarnya dapat dikendalikan untuk menurunkan kemungkinan terjadinya demensia. Kenali berbagai faktor risiko yang dapat dimodifikasi agar kesehatan otak tetap terjaga.

Dunialansia.com – Sahabat Lansia, seiring bertambahnya usia, risiko demensia cenderung meningkat, terutama setelah usia 65 tahun. Namun, demensia bukan bagian normal dari proses penuaan. Karena itu, tidak semua lansia akan mengalami demensia.

Lantas, siapa saja yang berisiko mengalami demensia? Banyak faktor yang dapat berkontribusi terhadap terjadinya demensia. Beberapa faktor berada di luar kendali kita alias tidak dapat diubah, sedangkan yang lainnya dapat dikendalikan untuk menurunkan risiko.

Artikel ini membahas faktor-faktor risiko yang dapat dimodifikasi sehingga risiko demensia dapat dikurangi. Berikut lima faktor pertama yang dapat dimodifikasi.

 

1. Pola Makan

Pola makan pro-inflamasi (yang memicu peradangan) dalam jumlah tinggi dapat mempercepat penuaan otak dan meningkatkan risiko demensia, menurut sebuah studi (2022).

Pola makan yang tergolong pro-inflamasi biasanya mengandung lebih banyak gula sederhana, kolesterol, lemak jenuh, dan makanan yang digoreng.

Artikel Terkait:

 

2. Konsumsi Alkohol

Beberapa studi dan tinjauan besar telah mengaitkan gangguan penggunaan alkohol dengan peningkatan risiko demensia, terutama demensia dini.

Konsumsi alkohol berlebihan dapat mengakibatkan perubahan otak yang bahkan dapat menyebabkan demensia sebelum usia 65 tahun.

Tidak ada tingkat konsumsi alkohol yang aman, semuanya meningkatkan risiko demensia.

 

3. Faktor Risiko Kardiovaskular

Faktor-faktor ini meliputi obesitas, hipertensi (tekanan darah tinggi), kolesterol tinggi, dan penumpukan lemak di dinding arteri, yang dikenal sebagai aterosklerosis. Kadar lipoprotein densitas rendah (LDL) yang tinggi merupakan salah satu faktor risiko penting penurunan kognitif dan demensia.

Diabetes dan merokok juga merupakan faktor risiko kardiovaskular. Diabetes dapat meningkatkan risiko demensia, terutama jika gula darah tidak terkontrol dengan baik. Merokok dapat meningkatkan risiko demensia dan penyakit pembuluh darah.

 

4. Gangguan Pendengaran

Gangguan pendengaran dikaitkan dengan risiko demensia yang lebih tinggi. Semakin parah gangguan pendengarannya, semakin tinggi risikonya. Mereka yang mengalami gangguan pendengaran pada usia paruh baya memiliki kemungkinan lebih besar terkena demensia di usia lanjut.

 

5. Gangguan Penglihatan

Penelitian menunjukkan gangguan penglihatan dapat meningkatkan risiko demensia, sementara penanganan gangguan penglihatan dapat menurunkan risikonya.

Dalam sampel hampir 3.000 lansia yang menjalani tes penglihatan dan tes kognitif selama kunjungan rumah, risiko demensia jauh lebih tinggi di antara mereka yang memiliki masalah penglihatan—termasuk mereka yang tidak dapat melihat dengan baik bahkan ketika mereka mengenakan kacamata atau lensa kontak biasa.

 

Sahabat Lansia, memahami faktor-faktor risiko yang dapat dikendalikan memberi kita kesempatan untuk menjaga kesehatan otak sejak dini. Pada bagian berikutnya, kita akan melanjutkan pembahasan lima faktor risiko lain yang juga bisa dimodifikasi. (*)

 Sumber:
* Mayo Clinic
* NCOA

Foto:
Freepik

 

 

Sahabat Lansia, dunialansia.com bukan merupakan praktik konsultasi medis, diagnosis, ataupun pengobatan. Informasi di situs web ini tidak boleh digunakan sebagai pengganti konsultasi atau saran medis profesional. Bila Sahabat Lansia memiliki masalah kesehatan atau penyakit tertentu atau kebutuhan medis yang spesifik, konsultasikan dengan tenaga medis atau tenaga kesehatan profesional.
Yuk, berbagi artikel ini agar manfaatnya dirasakan oleh banyak orang.