Kolesterol sering mendapat cap buruk, padahal tubuh justru membutuhkan kolesterol. Yang penting, kadarnya tepat. Jika berlebihan atau justru kurang, risiko penyakit jantung dan stroke akan meningkat.
Dunialansia.com – Sahabat Lansia, tentu tak asing lagi dengan dua istilah ini: kolesterol “baik” dan kolesterol “jahat”.
Disebut “baik”, karena membantu tubuh membuang kolesterol yang tidak dibutuhkan, sedangkan yang “jahat” dapat menumpuk di pembuluh darah hingga menyebabkan serangan jantung atau stroke.
KOLESTEROL “BAIK”
Kolesterol baik atau HDL (high-density lipoprotein atau lipoprotein densitas tinggi) berfungsi melindungi jantung dengan membawa kolesterol berlebih kembali ke hati untuk dibuang.
- Kadar ideal: di atas 60 mg/dL.
- Waspada: di bawah 40 mg/dL, risiko penyakit jantung meningkat.
KOLESTEROL “JAHAT”
Kolesterol jahat atau LDL (low-density lipoprotein atau lipoprotein densitas rendah) dapat menumpuk sebagai plak di arteri yang akhirnya meningkatkan risiko serangan jantung atau stroke.
- Normal: di bawah 100 mg/dL.
- Masih aman: 100—129 mg/dL.
- Waspada: ≥ 130 mg/dL.
VLDL (TRIGLISERIDA)
Jenis lain adalah VLDL (very low-density lipoprotein atau LDL sangat rendah) yang mengandung trigliserida (triglycerides)—jenis lemak paling umum di dalam tubuh.
Trigliserida berasal dari makanan berlemak (mentega, minyak) serta dari kalori berlebih yang tidak langsung dipakai tubuh.
- Batas normal: di bawah 150 mg/dL.
- Waspada: di atas 150 mg/dL, risiko gangguan jantung meningkat.
KOLESTEROL TOTAL
Ini adalah jumlah keseluruhan kolesterol dalam darah.
- Normal: di bawah 200 mg/dL.
- Borderline (mendekati batas atas normal): 200–239 mg/dL.
- Waspada: ≥ 240 mg/dL.
Kadar Normal Kolesterol (mg/dL) Berdasarkan Jenis Kelamin untuk Usia 20 ke Atas
| Jenis Kelamin | HDL | LDL | Trigliserida | Kolesterol Total |
| Pria | ≥ 40 | < 100 | < 150 | 125–200 |
| Wanita | ≥ 50 | < 100 | < 150 | 125–200 |
KOLESTEROL TINGGI, BAGAIMANA BISA TERJADI?
Kolesterol tinggi (hiperkolesterolemia) umumnya berarti kadar kolesterol total mencapai 200 mg/dL atau lebih tinggi. Kondisi ini dapat dipicu oleh beberapa faktor.
# Gaya hidup tidak sehat adalah penyebab paling umum, meliputi:
- Konsumsi lemak jenuh berlebihan (meningkatkan LDL).
- Kurang aktivitas fisik (menurunkan HDL).
- Merokok (menurunkan HDL, meningkatkan LDL).
- Stres (memicu hormon tertentu yang mendorong produksi kolesterol berlebih).
- Terlalu banyak minum alkohol (meningkatkan kadar trigliserida).
# Faktor genetik (bawaan).
Seperti hiperkolesterolemia familial (FH).
# Faktor risiko lain:
Usia (kadar kolesterol cenderung meningkat seiring bertambahnya usia).- Jenis kelamin (pria berisiko lebih tinggi pada usia 20—39, sedangkan wanita meningkat risikonya setelah menopause).
- Riwayat keluarga dengan kolesterol tinggi.
- Berat badan berlebih atau obesitas.
- Penyakit tertentu, seperti diabetes, penyakit ginjal kronis, HIV, dan lupus.
- Obat-obatan tertentu yang memengaruhi kadar kolesterol.
- Ras/etnis tertentu. Misalnya, orang Asia-Amerika lebih cenderung memiliki LDL tinggi, sedangkan orang kulit putih non-Hispanik lebih sering memiliki kolesterol total tinggi.
Sahabat Lansia, kolesterol memang tidak bisa dianggap sepele, tetapi juga tidak perlu ditakuti berlebihan. Mengetahui jenis dan kadar kolesterol adalah langkah awal menjaga kesehatan jantung. Artikel berikutnya akan membahas tips mengendalikan kolesterol agar tetap dalam batas normal. (*)
Sumber:
Cleveland Clinic
MedlinePlus
Foto:
Freepik

Dibangun oleh sejumlah orang muda dan calon lansia. Melalui dunialansia.com, kami mengajak seluruh orang muda untuk peduli lansia, sekaligus mempersiapkan diri menjadi lansia yang SMART (Sehat, Mandiri, Aktif, Rajin, Taat).




