Demensia memengaruhi ingatan, cara berpikir, dan perilaku. Beberapa faktor risikonya tidak dapat diubah karena berkaitan dengan usia, jenis kelamin, atau genetik. Memahaminya penting agar deteksi dini dilakukan dengan lebih tepat.
Dunialansia.com – Sahabat Lansia, demensia memengaruhi ingatan, cara berpikir, dan perilaku. Penyakit Alzheimer adalah penyebabnya yang paling umum, berikutnya demensia vaskular, demensia dengan badan Lewy, dan demensia frontotemporal.
Gejala demensia bervariasi, bergantung pada area otak yang terpengaruh. Sebagian besar gejala memburuk seiring waktu, sementara sebagian lainnya baru muncul ketika penyakit memasuki tahap lanjut.
Namun, siapa saja yang berisiko mengalami demensia? Pastinya, tidak semua lansia akan mengalami kondisi ini. Banyak faktor yang dapat berkontribusi terhadap terjadinya demensia. Beberapa faktor tidak dapat diubah, sedangkan yang lainnya dapat dikendalikan untuk menurunkan risiko.
Artikel ini akan membahas faktor-faktor risiko yang tidak dapat diubah atau berada di luar kendali manusia.
# Usia
Risiko demensia meningkat seiring bertambahnya usia, terutama setelah usia 65. Namun, demensia bukanlah bagian normal dari proses penuaan. Artinya, tidak semua lansia akan mengalami kondisi ini.
Meski umumnya risiko meningkat dengan bertambahnya usia, demensia juga bisa terjadi pada orang yang lebih muda. Young Onset Dementia (YOD) atau Working Onset Dementia (WOD) adalah istilah untuk menggambarkan demensia yang terjadi sebelum usia 65.
# Riwayat Keluarga
Memiliki riwayat demensia dalam keluarga meningkatkan risiko seseorang mengalami kondisi ini., terutama jika orangtua atau saudara kandung mengalaminya. Tes genetik dapat membantu mengungkap kemungkinan seseorang mengalami jenis demensia tertentu.
Namun, banyak orang dengan riwayat demensia dalam keluarga tidak pernah mengalami gejala, dan banyak orang tanpa riwayat demensia mengalaminya. Tes dapat menentukan apakah seseorang memiliki perubahan gen tertentu yang dapat meningkatkan risikonya.
# Jenis Kelamin
Perempuan memiliki risiko lebih tinggi terkena demensia selama hidup mereka. Salah satu alasannya, diduga karena perempuan hidup lebih lama daripada laki-laki. Usia merupakan faktor risiko terbesar demensia, sehingga semakin panjang usia harapan hidup, semakin besar pula risikonya.
Jumlah perempuan yang menderita penyakit Alzheimer—jenis demensia paling umum—sekitar dua kali lebih banyak daripada laki-laki. Namun, jenis demensia lain, seperti demensia vaskular, demensia dengan badan Lewy, dan demensia frontotemporal, lebih sering terjadi pada laki-laki.
# Ras dan Etnis
Lansia kulit hitam memiliki kemungkinan dua kali lebih tinggi untuk mengalami demensia dibandingkan lansia kulit putih, sementara lansia hispanik memiliki kemungkinan satu setengah kali lebih tinggi.
# Sindrom Down
Orang dengan sindrom Down memiliki risiko lebih tinggi terkena demensia. Seiring bertambahnya usia, hampir semua dari mereka akan mengalami perubahan pada lobus frontal otak. Perubahan ini dapat menimbulkan gejala, seperti kesulitan mengambil keputusan dan merencanakan sesuatu, serta perubahan perilaku.
Namun, tidak semua orang dengan sindrom Down akan mengalami demensia. Risiko tinggi terhadap Alzheimer diduga terkait dengan salinan ekstra kromosom 21, yang menyebabkan penumpukan protein pembentuk plak—ciri khas penyakit Alzheimer.
Sahabat Lansia, memahami faktor risiko demensia yang tidak dapat diubah membantu kita menyadari bahwa masih ada hal-hal lain yang bisa dijaga dan dikendalikan. Dengan begitu, peluang menjaga kesehatan otak di usia lanjut dapat tetap terjaga. Nantikan pembahasannya pada artikel berikutnya. (*)
Sumber:
* Mayo Clinic
* NCOA
Foto:
Freepik

Dibangun oleh sejumlah orang muda dan calon lansia. Melalui dunialansia.com, kami mengajak seluruh orang muda untuk peduli lansia, sekaligus mempersiapkan diri menjadi lansia yang SMART (Sehat, Mandiri, Aktif, Rajin, Taat).




