Stroke tak berhenti setelah serangan pertama. Risiko kekambuhan tetap tinggi, terutama pada tahun-tahun awal setelah stroke. Ketahui tiga langkah sederhana tapi penting yang dapat membantu mencegah stroke kedua (atau bahkan stroke pertama).
Dunialansia.com – Sahabat Lansia, stroke—sekalipun ringan—tak bisa dianggap sepele. Penyakit ini menempati urutan kedua penyebab kematian di dunia.
Bahkan setelah berhasil selamat dari stroke, risiko belum benar-benar hilang. Seseorang yang pernah terkena stroke memiliki kemungkinan jauh lebih besar untuk mengalaminya lagi.
Stroke berulang terjadi pada sekitar 1 dari 4 orang yang pernah mengalami stroke dalam 5 tahun setelah stroke pertama. Risikonya paling tinggi tepat setelah stroke dan menurun seiring waktu. Kemungkinan kecacatan parah dan kematian meningkat setiap kali terjadi stroke berulang. Sekitar 3% orang yang pernah terkena stroke, mengalami stroke kedua dalam 30 hari setelah stroke pertama, dan sekitar sepertiganya mengalami stroke kedua dalam 2 tahun.
Sumber: Johns Hopkins Medicine
Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk mencegah kekambuhan?
Ternyata, stroke memiliki banyak kesamaan faktor risiko dengan penyakit kronis lain, seperti diabetes, masalah kardiovaskular, dan tekanan darah tinggi.
Berikut tiga cara yang bisa membantu mencegah terjadinya stroke kedua (atau bahkan stroke pertama):
1 | Berhenti Merokok
Daftar penyakit yang disebabkan atau diperparah oleh rokok sangat panjang. Menghentikan kebiasaan merokok dapat mengurangi tekanan berbahaya pada pembuluh darah di otak, jantung, dan seluruh tubuh. Selain itu, risikonya terhadap berbagai jenis kanker juga akan menurun.
Tips berhenti merokok:
1. Temukan Alasan Berhenti Merokok
2. Temui Dokter
3. Meminta Bantuan dan Dukungan Orang-Orang Terdekat
4. Melakukan Aktivitas Fisik
5. Mengatasi Tantangan Hari-Hari Pertama Berhenti Merokok
2 | Minum Obat Sesuai Anjuran
Jika dokter meresepkan obat untuk mengontrol kolesterol, tekanan darah, atau diabetes, jangan mengabaikannya atau melewatkan dosis.
Tidak meminum obat sesuai petunjuk merupakan salah satu faktor risiko utama stroke berulang. Menurut sebuah penelitian pada pasien penyakit jantung koroner, mereka yang hanya meminum 75% atau kurang dari obat yang diresepkan, memiliki risiko stroke empat kali lebih tinggi dibandingkan dengan yang patuh minum obat sesuai arahan dokter.
Meskipun setelah stroke merasa sudah membaik, sangat penting menjaga tekanan darah, kolesterol, dan gula darah tetap stabil. Minumlah semua obat yang diresepkan sesuai petunjuk dan jangan menghentikannya tanpa izin dokter.
Obat memang tidak bisa menyembuhkan penyakit kronis sepenuhnya, tapi dapat menurunkan risiko komplikasi serius, seperti stroke, stroke berulang, dan serangan jantung.
Artikel Terkait: Mencegah Stroke: Ubah Gaya Hidup, Kendalikan Faktor Risiko
3 | Terapkan Pola Makan ala Mediterania
Penelitian yang dilakukan oleh pakar stroke dari Johns Hopkins menunjukkan, penderita stroke dapat mencegah kekambuhan dengan menerapkan pola makan sehat.
Walau sulit melacak pola makan jangka panjang seseorang, hasil gabungan beberapa studi menunjukkan, diet kaya buah dan sayur dapat menurunkan risiko stroke hingga 21%.
Pola makan khas Mediterania secara konsisten dikaitkan dengan penurunan angka kejadian stroke. Pola makan ini banyak mengandung buah, sayur, dan biji-bijian utuh, rendah makanan olahan, serta menggunakan sumber lemak sehat seperti minyak zaitun.
Artikel Terkait: Mengenal Diet Mediterania yang Kaya Manfaat Kesehatan
Sahabat Lansia, ketiga kebiasaan sehat ini bukan hanya bermanfaat bagi mereka yang pernah mengalami stroke dan ingin mencegah kekambuhan, tetapi juga bagi siapa pun yang ingin tetap sehat dan bebas stroke. (*)
Baca Juga:
- Kenali Tanda-Tanda Peringatan Stroke
- Mengenal Dua Jenis Utama Stroke agar Lebih Siaga
- Apa Itu TIA, Stroke Ringan yang Jadi Tanda Peringatan Dini? Kenali Gejalanya
- Mencegah Stroke: Ubah Gaya Hidup, Kendalikan Faktor Risiko
Sumber:
Johns Hopkins Medicine
Foto:
Freepik

Dibangun oleh sejumlah orang muda dan calon lansia. Melalui dunialansia.com, kami mengajak seluruh orang muda untuk peduli lansia, sekaligus mempersiapkan diri menjadi lansia yang SMART (Sehat, Mandiri, Aktif, Rajin, Taat).




