Transient ischemic attack (TIA) atau serangan iskemik transien sering disebut stroke ringan. Kondisi ini terjadi ketika aliran darah ke otak terhenti sementara waktu. Meski gejalanya cepat membaik, TIA merupakan tanda penting ada risiko stroke di kemudian hari.
Dunialansia.com – Sahabat Lansia, TIA atau transient ischemic attack (serangan iskemik transien) sering disebut stroke ringan karena tidak menyebabkan kerusakan jangka panjang.
Walau begitu, jangan anggap remeh TIA, karena kondisi ini merupakan tanda peringatan dini akan terjadinya stroke di kemudian hari.
Sekitar satu dari tiga orang yang mengalami TIA pada akhirnya akan mengalami stroke—dan sekitar setengahnya terjadi dalam waktu satu tahun setelah TIA.
Penyebabnya Mirip dengan Stroke Iskemik
Mirip dengan stroke iskemik—jenis stroke paling umum—TIA terjadi karena adanya penyumbatan pada pembuluh darah di otak. Bedanya, penyumbatan pada TIA bersifat sementara dan tidak menimbulkan kerusakan permanen.
Umumnya, penyumbatan saat TIA disebabkan oleh penumpukan lemak yang mengandung kolesterol—disebut plak—di dalam arteri. Kondisi ini dikenal sebagai aterosklerosis. Penumpukan tersebut juga dapat terjadi pada cabang-cabang arteri yang memasok oksigen dan nutrisi ke otak.
Plak dapat mengurangi aliran darah atau menyebabkan pembentukan gumpalan darah. Gumpalan ini bisa berpindah dari bagian tubuh lain, seperti jantung, menuju arteri yang menyuplai darah ke otak, sehingga menyebabkan TIA.
Dua Perbedaan Penting TIA dan Stroke
- TIA berhenti dengan sendirinya, sedangkan stroke tidak dan membutuhkan perawatan untuk menghentikan serta membalikkan efeknya.
- Stroke meninggalkan jejak pada hasil pemindaian MRI (magnetic resonance imaging), meskipun gejalanya hilang.
Sumber: Cleveland Clinic
Gejalanya Muncul Tiba-tiba
Biasanya TIA berlangsung hanya beberapa menit dan sebagian besar gejala menghilang dalam waktu satu jam. Jarang sekali gejalanya bertahan hingga 24 jam.
Gejala TIA serupa dengan tanda-tanda awal stroke dan dapat meliputi:
- Kelemahan, mati rasa atau kelumpuhan pada wajah, lengan atau kaki—biasanya pada satu sisi tubuh.
- Bicara tidak jelas atau kesulitan memahami pembicaraan orang lain.
- Kehilangan penglihatan pada satu atau kedua mata, atau penglihatan ganda.
- Pusing, kehilangan keseimbangan, atau gangguan koordinasi.
Gejala-gejala tersebut muncul secara mendadak, dan seseorang bisa mengalami lebih dari satu kali TIA. Gejalanya bisa sama atau berbeda, bergantung pada area otak yang terlibat.
🕐 Kapan Harus ke Dokter?
Segera dapatkan pertolongan medis jika merasa sedang atau pernah mengalami TIA. Kondisi ini sering kali terjadi beberapa jam atau beberapa hari sebelum stroke. Dengan evaluasi yang cepat, tenaga kesehatan dapat mengidentifikasi kondisi yang bisa diobati, sehingga membantu mencegah stroke di kemudian hari.
Artikel Terkait:
- Mengenal Dua Jenis Utama Stroke agar Lebih Siaga
- Kenali Tanda-Tanda Peringatan Stroke
- Mencegah Stroke: Ubah Gaya Hidup, Kendalikan Faktor Risiko
- Hindari Stroke Berulang dengan Tiga Cara Ini
Sahabat Lansia, jangan abaikan gejala yang tampak ringan sekalipun. Meski TIA biasanya tidak menimbulkan kerusakan permanen, kondisi ini bisa menjadi tanda bahaya bahwa aliran darah ke otak berisiko tersumbat sepenuhnya.
Dengan mengenali gejalanya sejak dini dan segera memeriksakan diri ke tenaga kesehatan, kita dapat mencegah stroke sebelum terjadi. (*)
Sumber:
Mayo Clinic
Foto:
Freepik

Dibangun oleh sejumlah orang muda dan calon lansia. Melalui dunialansia.com, kami mengajak seluruh orang muda untuk peduli lansia, sekaligus mempersiapkan diri menjadi lansia yang SMART (Sehat, Mandiri, Aktif, Rajin, Taat).




