Mengenal Dua Jenis Utama Stroke agar Lebih Siaga

Mengenal Dua Jenis Utama Stroke agar Lebih Siaga

Stroke terjadi ketika aliran darah ke otak terhenti akibat sumbatan atau perdarahan. Jenis yang paling sering adalah stroke iskemik, yang umumnya dialami oleh para lansia, terutama mereka dengan diabetes atau kadar kolesterol tinggi.

Dunialansia.com – Sahabat Lansia, stroke bisa terjadi secara tiba-tiba dan meninggalkan dampak besar pada kesehatan otak maupun tubuh. Memahami jenis-jenisnya membantu kita lebih siaga terhadap gejala awal dan pentingnya penanganan cepat.

Melansir Johns Hopkins Medicine, terdapat dua jenis utama stroke, yaitu stroke iskemik dan stroke hemoragik. Berikut penjelasannya.

 

1 | Stroke Iskemik

Stroke iskemik adalah jenis stroke yang paling sering terjadi—sekitar 87% dari seluruh kasus stroke.

Kondisi ini terjadi ketika pembuluh darah yang membawa darah ke otak tersumbat. Akibatnya, sel-sel otak mulai mati hanya dalam hitungan menit karena terhentinya pasokan oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan otak.

Stroke iskemik dibagi menjadi dua kelompok, yaitu stroke trombotik dan stroke embolik.

# Stroke Trombotik

Terjadi ketika gumpalan darah (trombus) terbentuk di arteri yang memasok darah ke otak. Kondisi ini sering dialami oleh lansia dengan kolesterol tinggi, diabetes, atau aterosklerosis (penumpukan lemak dan lipid di dalam dinding pembuluh darah).

Gejalanya bisa muncul tiba-tiba—sering kali saat tidur atau pagi hari—tetapi juga dapat muncul secara bertahap selama beberapa jam atau bahkan berhari-hari.

Kadang, stroke trombotik didahului oleh TIA (Transient Ischemic Attack), yaitu “stroke ringan” yang berlangsung singkat—selama beberapa menit hingga 24 jam. TIA sering kali menjadi tanda peringatan bahwa stroke mungkin terjadi.

Pada penderita diabetes atau hipertensi, sering ditemukan infark lakular, yaitu jenis stroke lain yang terjadi pada pembuluh darah kecil di otak.

# Stroke Embolik

Disebabkan oleh gumpalan darah atau serpihan plak yang terbentuk di tempat lain di tubuh, lalu terbawa aliran darah hingga menyumbat salah satu pembuluh darah di otak.

Stroke embolik biasanya muncul secara mendadak tanpa gejala peringatan dan sering berkaitan dengan penyakit jantung atau operasi jantung.

Sekitar 15% kasus stroke embolik terjadi pada orang dengan fibrilasi atrium, yaitu gangguan irama jantung ketika bilik jantung bagian atas tidak berdetak secara efektif.

 

2 | Stroke Hemoragik

Stroke hemoragik terjadi ketika pembuluh darah di otak pecah dan menyebabkan perdarahan. Jenis stroke  ini lebih jarang—sekitar 13% dari semua kasus stroke—tetapi dapat menyebabkan kerusakan otak yang lebih berat.

Stroke hemoragik juga dibagi menjadi dua kelompok, yaitu perdarahan intraserebral dan perdarahan subaraknoid.

# Perdarahan Intraserebral

Biasanya disebabkan oleh tekanan darah tinggi. Perdarahan terjadi secara tiba-tiba tanpa tanda-tanda peringatan dan bisa sangat berat hingga menyebabkan koma atau kematian.

# Perdarahan Subaraknoid

Perdarahan terjadi di ruang subaraknoid (ruang antara otak dan selaput yang melapisi otak). Penyebab tersering adalah aneurisma atau malformasi arteriovenosa (AVM), dan bisa juga akibat trauma.

Aneurisma adalah area yang melemah, menggelembung, dan berisiko pecah pada dinding arteri; dapat bersifat kongenital (sejak lahir) atau berkembang di kemudian hari akibat tekanan darah tinggi atau aterosklerosis.

AVM merupakan kelainan bawaan, berupa jaringan arteri dan vena yang kusut dan tidak teratur.

Sahabat Lansia, memahami dua jenis utama stroke membantu kita mengenali bagaimana penyakit ini bekerja dan mengapa penanganan cepat sangat penting.

Baik stroke iskemik maupun hemoragik sama-sama membutuhkan pertolongan medis segera untuk mencegah kerusakan otak lebih lanjut dan meningkatkan peluang pemulihan.

Ingat, saat menghadapi stroke, setiap menit sangat berharga! (*)

Artikel Terkait:

 

Foto:
Freepik

 

 

Sahabat Lansia, dunialansia.com bukan merupakan praktik konsultasi medis, diagnosis, ataupun pengobatan. Informasi di situs web ini tidak boleh digunakan sebagai pengganti konsultasi atau saran medis profesional. Bila Sahabat Lansia memiliki masalah kesehatan atau penyakit tertentu serta kebutuhan medis yang spesifik, konsultasikan dengan tenaga medis atau tenaga kesehatan profesional.
Yuk, berbagi artikel ini agar manfaatnya dirasakan oleh banyak orang.