Seiring bertambahnya usia, perubahan ingatan dan fungsi kognitif wajar terjadi. Namun, demensia menimbulkan penurunan ingatan dan kemampuan berpikir yang nyata, memengaruhi komunikasi, pengambilan keputusan, dan aktivitas sehari-hari. Mengenali gejala sedini mungkin penting untuk mendapatkan diagnosis dan perawatan yang tepat.
Dunialansia.com – Sahabat Lansia, pernahkah kamu lupa di mana menaruh barang, semisal kunci mobil atau dompet tetapi kemudian menemukannya kembali? Atau lupa nama seseorang yang baru dikenal? Atau, pernahkah kamu berjuang untuk menemukan sebuah kata dan mengingatnya kemudian?
Semua kelupaan itu wajar seiring bertambahnya usia. Terkadang membuat frustrasi, tetapi tidak sampai memengaruhi kehidupan sehari-hari. Biasanya kita akan mampu mengingatnya kembali.
Tak demikian halnya dengan demensia. Lupa yang dialami cukup parah karena yang bersangkutan sama sekali tidak bisa mengingat beberapa hal penting, seperti lupa nama anak kandung atau lupa jalan pulang ke rumah (sehingga tersesat).
Demensia menyebabkan penurunan ingatan yang nyata dan memengaruhi kehidupan sehari-hari.
Apa Itu Demensia?
Menurut WHO, pada 2021, sekitar 57 juta orang di seluruh dunia hidup dengan demensia, dan hampir 10 juta kasus baru terdiagnosis setiap tahun. Saat ini, demensia menjadi penyebab ketujuh kematian di dunia dan salah satu penyebab utama kecacatan serta ketergantungan di usia lanjut.
Demensia bukan penyakit tunggal, melainkan istilah untuk sekumpulan gejala yang memengaruhi daya ingat, kemampuan berpikir, komunikasi, pengambilan keputusan, dan kemampuan sosial—semua fungsi penting yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kehilangan ingatan merupakan salah satu gejala awal demensia. Namun, hilangnya ingatan saja tidak selalu berarti seseorang menderita demensia, karena hilangnya ingatan dapat disebabkan oleh berbagai hal.
Yuk, kenali lebih lanjut gejala umum dan tanda-tanda peringatan demensia agar penanganan bisa dilakukan cepat.
Gejala Memburuk Seiring Waktu
Gejala demensia bervariasi, bergantung pada area otak yang terpengaruh. Sebagian besar gejala memburuk seiring waktu, sementara gejala lainnya baru terlihat ketika penyakit memasuki tahap lanjut.
Seiring perkembangan penyakit, kebutuhan akan bantuan untuk perawatan pribadi meningkat. Penderita mungkin mengalami kesulitan mengenali anggota keluarga atau teman, mengalami kesulitan bergerak, kehilangan kendali atas kandung kemih dan usus, kesulitan makan dan minum, serta mengalami perubahan perilaku.
Pada akhirnya, kebanyakan penderita demensia akan membutuhkan bantuan orang lain untuk menjalani aktivitas sehari-hari.
Gejala Umum Demensia
Gejala umum demensia meliputi perubahan kognitif dan psikologis/perilaku.
Perubahan kognitif:
- Hilangnya ingatan, yang biasanya disadari oleh orang lain.
- Masalah dalam berkomunikasi atau menemukan kata-kata.
- Masalah dengan kemampuan visual dan spasial, seperti tersesat saat mengemudi.
- Masalah dengan penalaran atau pemecahan masalah.
- Kesulitan melakukan tugas yang rumit.
- Masalah dengan perencanaan dan pengorganisasian.
- Koordinasi dan kontrol gerakan yang buruk.
- Kebingungan dan disorientasi.
Perubahan psikologis
- Perubahan kepribadian.
- Depresi.
- Kecemasan.
- Agitasi.
- Perilaku yang tidak sesuai dengan situasi.
- Merasa curiga (paranoia).
- Melihat hal-hal yang tidak ada (halusinasi).
Tanda-tanda Peringatan Demesia
Tanda-tanda berikut dapat mengindikasikan demensia:
- Tersesat di lingkungan yang sudah dikenal.
- Lupa nama anggota keluarga dekat atau teman.
- Melupakan kenangan lama.
- Tidak mampu menyelesaikan tugas-tugas umum sendiri.
- Menggunakan kata-kata yang tidak umum untuk merujuk pada objek yang dikenal.
Jika mendapati tanda-tanda tersebut, segera temui dokter untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
Sahabat Lansia, perubahan ingatan memang bisa datang seiring bertambahnya usia. Namun, ketika perubahan tersebut mulai memengaruhi kegiatan sehari-hari, itu bisa menjadi tanda untuk lebih memperhatikannya.
Tidak perlu panik—yang terpenting adalah mengenali gejalanya dan tidak ragu untuk berdiskusi dengan tenaga kesehatan. Dengan mengetahui lebih awal, keluarga dan orang tercinta dapat memberikan dukungan yang lebih tepat, sehingga kehidupan sehari-hari tetap dapat dijalani dengan tenang dan bermakna. (*)
Sumber:
* CDC
* Mayo Clinic
* WHO
Foto:
Freepik

Dibangun oleh sejumlah orang muda dan calon lansia. Melalui dunialansia.com, kami mengajak seluruh orang muda untuk peduli lansia, sekaligus mempersiapkan diri menjadi lansia yang SMART (Sehat, Mandiri, Aktif, Rajin, Taat).




