Mengenali Demensia: Penyebab & Jenisnya

Mengenali Demensia: Penyebab & Jenisnya

Demensia adalah gangguan fungsi otak yang menyebabkan penurunan daya ingat, kemampuan berpikir, dan perilaku, sehingga memengaruhi kehidupan sehari-hari. Ketahui penyebab dan jenis-jenis demensia yang paling umum terjadi.

Dunialansia.com – Sahabat Lansia, demensia lebih dari sekadar lupa. Kondisi ini menyebabkan penurunan ingatan yang nyata dan memengaruhi kehidupan sehari-hari.

Demensia bukan penyakit tunggal, melainkan istilah untuk sekumpulan gejala yang memengaruhi fungsi otak penting dalam kehidupan sehari-hari.

Setiap tiga detik muncul satu kasus baru demensia di dunia. Pada 2020, lebih dari 55 juta orang hidup dengan demensia. Jumlah ini diperkirakan meningkat dua kali lipat setiap 20 tahun, mencapai 78 juta pada 2030  dan 139 juta pada 2050.

Demensia terjadi akibat kerusakan atau hilangnya sel-sel saraf beserta koneksinya di otak. Penyakit Alzheimer merupakan penyebab paling umum, disusul oleh demensia vaskular, demensia badan Lewy, dan demensia frontotemporal.

 

1. Penyakit Alzheimer

Penyakit Alzheimer menyumbang hingga sekitar 80% dari seluruh kasus demensia. Kondisi ini membuat otak menyusut akibat penumpukan plak dan kusut dari kerusakan sel saraf.

(Plak terbentuk dari gumpalan protein beta-amiloid, sedangkan kusut berasal dari serabut protein tau.)

Pada tahap awal, penderita sering lupa terhadap informasi baru. Seiring waktu, gangguan ini berkembang menjadi masalah dalam berbicara dan berperilaku.

Belum semua penyebab Alzheimer diketahui. Sebagian kecil kasus berkaitan dengan perubahan pada tiga gen yang dapat diturunkan dari orangtua ke anak. Salah satu gen yang diketahui meningkatkan risiko Alzheimer adalah apolipoprotein E (APOE).

 

2. Demensia Vaskular

Jenis ini merupakan penyebab kedua paling umum, mencakup 17—30 persen dari seluruh kasus.

Demensia vaskular terjadi karena terhambatnya aliran darah dan oksigen ke otak, yang sering kali berkaitan dengan stroke atau kerusakan pada serat-serat materi putih otak.

Gejalanya bervariasi bergantung pada bagian otak yang rusak. Stroke berulang dapat memperburuk kondisi. Gejala yang sering muncul meliputi kesulitan memecahkan masalah, berpikir lambat, serta kehilangan fokus dan keteraturan.

Demensia vaskular juga dapat terjadi bersamaan dengan bentuk demensia lain, seperti Alzheimer atau demensia badan Lewy.

 

3. Demensia Badan Lewy

Jenis ini menyumbang sekitar 10—15 persen dari selurh kasus. Badan Lewy adalah gumpalan protein berbentuk seperti balon di otak, yang juga dapat  ditemukan pada Alzheimer dan Parkinson. Seiring waktu, gumpalan menyebabkan kekakuan otot, gemetar, dan gerakan lambat.

Penderita bisa mengalami kesulitan tidur, halusinasi visual (melihat hal-hal yang sebenarnya tidak ada), serta masalah fokus dan perhatian. Gejala lainnya meliputi gerakan yang tidak terkoordinasi atau lambat, tremor, dan kekakuan, yang disebut parkinsonisme.

 

4. Demensia Frontotemporal

Jenis ini relatif jarang dan biasanya muncul pada usia yang lebih muda daripada Alzheimer. Kondisi ini merusak sel-sel saraf dan koneksinya di lobus frontal dan temporal otak—area yang berkaitan dengan kepribadian, perilaku, dan bahasa.

Demensia frontotemporal memengaruhi perilaku, kepribadian, cara berpikir, penilaian, bahasa, dan gerakan. Penderitanya dapat menunjukkan perilaku tidak pantas, seperti berbicara kasar, hingga kehilangan kemampuan untuk berjalan, makan, serta menggunakan kamar mandi.

Mirip dengan Alzheimer, penurunan kemampuan mental berlangsung secara bertahap selama beberapa tahun. Namun, kerusakan lebih terlokalisasi dan biasanya dimulai di lobus frontal.

 

5. Demensia Campuran

Kondisi ini lebih umum pada lansia 80 tahun ke atas. Demensia campuran terjadi ketika seseorang mengalami kombinasi dua atau lebih jenis demensia sekaligus—paling sering kombinasi penyakit Alzheimer dan demensia vaskular.

Gejalanya sangat bervariasi, bergantung pada jenis perubahan otak dan area otak yang terdampak. Dalam banyak kasus, gejalanya mungkin mirip atau bahkan sulit dibedakan dari Alzheimer atau jenis demensia lainnya. Dalam kasus lain, gejala dapat menunjukkan lebih dari satu jenis demensia.

 

Sahabat Lansia, memahami berbagai jenis demensia penting agar kita dapat mengenali penyebab dan perbedaannya. Dengan pemahaman ini, penanganan bisa dilakukan secara tepat, sekaligus memberikan dukungan yang sesuai bagi penderita dan keluarganya. (*)

Sumber:
* Alzheimer’s Association
* Alzheimer’s Disease International
* Mayo Clinic
* NCOA

Foto:
Freepik

 

 

Sahabat Lansia, dunialansia.com bukan merupakan praktik konsultasi medis, diagnosis, ataupun pengobatan. Informasi di situs web ini tidak boleh digunakan sebagai pengganti konsultasi atau saran medis profesional. Bila Sahabat Lansia memiliki masalah kesehatan atau penyakit tertentu atau kebutuhan medis yang spesifik, konsultasikan dengan tenaga medis atau tenaga kesehatan profesional.

 

Yuk, berbagi artikel ini agar manfaatnya dirasakan oleh banyak orang.