Kanker pankreas termasuk jenis kanker yang sering terlambat terdeteksi. Memahami faktor risikonya dapat membantu mengambil langkah pencegahan sejak dini dan menjaga kesehatan pankreas dengan lebih bijaksana.
Dunialansia.com – Sahabat Lansia, ada tiga faktor risiko yang telah terbukti secara ilmiah memiliki hubungan biologis atau genetik dengan kanker pankreas, yaitu penggunaan tembakau, pankreatitis kronis, dan riwayat keluarga (genetik).
Pankreas adalah kelenjar yang terletak di belakang lambung dan di depan tulang belakang. Organ ini menghasilkan enzim pencernaan sekaligus hormon yang mengontrol kadar gula darah.
Kanker pankreas muncul ketika sel-sel di pankreas tumbuh secara abnormal, membentuk tumor. Tumor ini bisa bersifat ganas (kanker) atau jinak (non-kanker).
Sebagian besar kasus (sekitar 95 %) adalah kanker pankreas eksokrin—berasal dari sel penghasil enzim pencernaan. Sisanya, sekitar 5%, adalah kanker pankreas endokrin yang berasal dari sel penghasil hormon.
Berikut tiga faktor risiko kanker pankreas yang terbukti secara ilmiah.
1. Penggunaan Tembakau
Merokok adalah salah satu faktor risiko paling signifikan. Perokok memiliki risiko dua kali lebih tinggi terkena kanker pankreas dibandingkan mereka yang tidak merokok.
Sekitar 25% kasus kanker pankreas diperkirakan berkaitan dengan kebiasaan merokok.
Tidak hanya rokok, tetapi cerutu, pipa, dan produk tembakau tanpa asap juga turut meningkatkan risiko. Kabar baiknya, risiko kanker pankreas akan menurun setelah seseorang berhenti merokok—tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai hidup sehat.
Artikel Terkait – Tips Berhenti Merokok:
1. Temukan Alasan Berhenti Merokok
2. Temui Dokter
3. Meminta Bantuan dan Dukungan Orang-Orang Terdekat
4. Melakukan Aktivitas Fisik
5. Mengatasi Tantangan Hari-Hari Pertama Berhenti Merokok
2. Pankreatitis Kronis
Pankreatitis kronis adalah peradangan pankreas jangka panjang yang terbukti meningkatkan risiko kanker pankreas. Studi ilmiah menunjukkan, konsumsi alkohol berlebihan dapat menyebabkan pankreatitis kronis.
Belum jelas seberapa banyak alkohol yang dapat menimbulkan pankreatitis kronis. Namun, konsumsi alkohol dalam jumlah besar dan berlangsung lama meningkatkan risiko peradangan, yang pada akhirnya berdampak pada meningkatnya risiko kanker.
Pankreatitis kronis juga sering ditemukan pada perokok berat. Selain itu, peradangan kronis pada pankreas dapat disebabkan oleh mutasi genetik yang diturunkan, membuat risiko kanker pankreas seumur hidup yang lebih tinggi.
3. Riwayat Keluarga
Riwayat keluarga memang merupakan salah satu faktor risiko, tetapi sebagian besar orang yang terkena kanker pankreas tidak memiliki anggota keluarga yang pernah mengalami penyakit ini.
Sekitar 10% kasus kanker pankreas terjadi akibat mutasi genetik yang diwariskan dari orangtua.
Mutasi ini kadang menimbulkan sindrom genetik tertentu yang mencakup peningkatan risiko kanker lain (atau masalah kesehatan lainnya). Penilaian risiko dapat dilakukan melalui tes genetik.
Sahabat Lansia, memiliki faktor risiko bukan berarti seseorang pasti akan terkena kanker. Ada yang tidak memiliki faktor risiko sama sekali, tetapi tetap mengalaminya. Ada pula yang memiliki banyak faktor risiko, tetapi tidak mengalaminya sepanjang hidup.
Namun, memahami faktor risiko sangatlah penting. Dengan mengetahui apa yang meningkatkan risiko, deteksi dini bisa dilakukan lebih cepat, dan pengobatan dapat dimulai lebih awal dengan cara yang tepat. Mengetahui faktor risiko juga penting agar kita dapat melakukan berbagai upaya guna menurunkannya. (*)
Artikel Terkait:
Sebagian Besar Kasus Kanker Pankreas Berkembang di Usia Lanjut
Sumber:
* American Cancer Society
* Johns Hopkins Medicine
* NIH MedlinePlus Magazine
Foto:
Freepik

Dibangun oleh sejumlah orang muda dan calon lansia. Melalui dunialansia.com, kami mengajak seluruh orang muda untuk peduli lansia, sekaligus mempersiapkan diri menjadi lansia yang SMART (Sehat, Mandiri, Aktif, Rajin, Taat).




