Bulan Alzheimer Sedunia: Tidur REM yang Tertunda, TANDA AWAL ALZHEIMER

Bulan Alzheimer Sedunia: Tidur REM yang Tertunda, TANDA AWAL ALZHEIMER

Keterlambatan tidur REM bisa jadi tanda awal Alzheimer. Menerapkan kebiasaan tidur yang sehat sangat penting agar otak tetap berfungsi optimal dan memori terjaga.

Dunialansia.com – Sahabat Lansia, tidur sangat penting untuk kesehatan otak. Para ahli menemukan, kualitas dan kuantitas tidur bisa memengaruhi risiko seseorang terkena Alzheimer.

Dalam penelitian terbaru, orang yang butuh waktu lama untuk masuk ke fase tidur mimpi—disebut tidur REM (rapid eye movement)—mungkin mengalami gejala awal penyakit ini.

 

Tahapan Tidur dan Peran REM

Ada empat tahapan tidur—tiga tahap tidur non-REM yang semakin dalam dan diikuti tidur REM. Satu siklus tidur lengkap biasanya memakan waktu sekitar 90 menit atau lebih, bergantung pada usia. Dalam satu malam, kita dapat melewatinya 4—5 kali. Lansia membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai fase REM.

Nah, di fase REM inilah, otak memproses memori, terutama ingatan yang terkait dengan emosi. Memori ini kemudian disimpan dalam penyimpanan jangka panjang.

Penundaan tidur REM dapat mengganggu kemampuan otak untuk belajar dan mengingat. Selain itu, hal ini bisa meningkatkan hormon stres kortisol yang dapat mengganggu hipokampus, bagian otak penting untuk konsolidasi memori.

Para peneliti mengamati 128 orang berusia rata-rata 70 tahun. Separuhnya menderita Alzheimer, sekitar sepertiganya mengalami gangguan kognitif ringan, dan sisanya memiliki kemampuan kognitif normal.

Hasil penelitian menunjukkan, mereka yang menderita Alzheimer cenderung mengalami keterlambatan tidur REM. Mereka juga cenderung memiliki kadar protein beracun (amiloid dan tau) yang lebih tinggi dan lebih sedikit protein sehat yang disebut faktor neurotropik turunan otak (BDNF).

[ Kurang Tidur di Usia Paruh Baya Dapat Meningkatkan Risiko Demensia ]

 

Cara Menjaga Kualitas Tidur

Kabar baiknya, ada cara untuk membantu kualitas tidur. Melatonin, misalnya, terbukti bisa meningkatkan tidur REM dan mengurangi penumpukan protein beracun dalam penelitian pada hewan.

Selain itu, menerapkan kebiasaan tidur sehat sangat penting, termasuk mengatasi sleep apnea dan menghindari konsumsi alkohol berlebihan. Kebiasaan tidur sehat membantu transisi dari tidur ringan ke tidur REM.

Bagi yang mengonsumsi obat-obatan tertentu, seperti antidepresan atau obat tidur yang dapat mengurangi fase REM, disarankan berkonsultasi dengan dokter, terutama bila ada kekhawatiran risiko Alzheimer. (*)

[ Pentingnya Sleep Hygiene untuk Meningkatkan Kualitas Tidur ]

 

 Foto:
Freepik

 

 

Sahabat Lansia, dunialansia.com bukan merupakan praktik konsultasi medis, diagnosis, ataupun pengobatan. Informasi di situs web ini tidak boleh digunakan sebagai pengganti konsultasi atau saran medis profesional. Bila Sahabat Lansia memiliki masalah kesehatan atau penyakit tertentu atau kebutuhan medis yang spesifik, konsultasikan dengan tenaga medis atau tenaga kesehatan profesional.
Yuk, berbagi artikel ini agar manfaatnya dirasakan oleh banyak orang.