Hari PPOK Sedunia menjadi pengingat global akan pentingnya memahami penyakit paru kronis yang sering terlambat dikenali. Momentum ini menekankan urgensi deteksi dini, penanganan berkelanjutan, serta peningkatan kesadaran mengenai gejala dan faktor risikonya.
Dunialansia.com – Sahabat Lansia, setiap tahun kita memperingati Hari PPOK Sedunia pada Rabu ketiga bulan November. Tahun ini, peringatan tersebut jatuh pada 19 November 2025.
Hari PPOK Sedunia adalah kampanye kesadaran global yang didedikasikan untuk menyebarkan pengetahuan tentang PPOK atau Penyakit Paru Obstruktif Kronik (Chronic Obstructive Pulmonary Disease/COPD).
Menurut WHO (2024), PPOK adalah penyakit paru-paru umum yang menyebabkan aliran udara terbatas dan masalah pernapasan. Kondisi ini terkadang disebut emfisema atau bronkitis kronis.
Sejarah Hari PPOK Sedunia
World COPD Day atau Hari PPOK Sedunia diselenggarakan oleh Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD) bekerja sama dengan para tenaga kesehatan profesional dan kelompok pasien PPOK di seluruh dunia.
Hari PPOK Sedunia pertama kali diadakan pada 2002 dengan tujuan meningkatkan kesadaran, berbagi pengetahuan, serta membahas cara-cara untuk mengurangi beban PPOK secara global.
Sejak awal, lebih dari 50 negara berpartisipasi melalui berbagai kegiatan, menjadikannya salah satu momen edukasi PPOK yang paling penting.
Selama bertahun-tahun, peringatan ini juga membantu mengubah persepsi masyarakat—dari memandang PPOK sebagai penyakit perokok semata, menjadi memahami bahwa ini adalah kondisi kronis yang dapat dikelola.
Sesak Napas, Pikirkan PPOK
Setiap tahun, GOLD memilih tema serta mengoordinasikan persiapan dan penyebaran materi Hari PPOK Sedunia.
Tema 2025 adalah “Sesak Napas, Pikirkan PPOK”, yang menekankan pentingnya deteksi dini, perawatan berkelanjutan, serta pemberdayaan pasien melalui edukasi dan dukungan komunitas.
Meski menjadi penyebab kematian ketiga terbanyak di dunia, PPOK masih sering tidak terdiagnosis. Padahal, kondisi ini umum, dapat dicegah, dan diobati. Namun, kurangnya diagnosis—atau salah diagnosis—membuat banyak pasien tidak menerima pengobatan yang tepat.
Diagnosis PPOK perlu dipertimbangkan pada setiap pasien dengan sesak napas, batuk kronis atau produksi sputum berlebihan, riwayat infeksi saluran pernapasan bawah berulang, serta riwayat paparan faktor risiko, seperti asap rokok, bahan bakar memasak, atau bahaya pekerjaan.
Dengan diagnosis tepat waktu, perubahan gaya hidup, serta dukungan medis berkelanjutan, PPOK dapat ditangani secara efektif sehingga pasien tetap dapat menjalani hidup aktif.
Sahabat Lansia, PPOK dapat dicegah dan ditangani apabila dikenali lebih awal dan ditangani dengan tepat. Hari PPOK Sedunia mengingatkan kita bahwa kesehatan paru-paru harus dirawat setiap hari—bukan hanya setelah gejala muncul. (*)
Artikel Terkait:
- Merokok Sekarang, PPOK Kemudian. Kenali Penyakit Paru yang Satu Ini (1)
- PPOK: Secara Bertahap, Gejala Makin Memburuk (2)
- PPOK: Bagaimana Mendiagnosisnya? (3)
- PPOK: Berhenti Merokok, Bagian Terpenting Dari Pengobatan (4)
Sumber:
* Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease
* Metropolis Healthcare
Foto:
Freepik

Dibangun oleh sejumlah orang muda dan calon lansia. Melalui dunialansia.com, kami mengajak seluruh orang muda untuk peduli lansia, sekaligus mempersiapkan diri menjadi lansia yang SMART (Sehat, Mandiri, Aktif, Rajin, Taat).




