Jangan tertipu oleh mitos seputar kanker pankreas. Pelajari fakta sebenarnya dari para pakar onkologi untuk membantu deteksi dini dan keputusan kesehatan yang tepat.
Dunialansia.com – Sahabat Lansia, kanker pankreas masih menjadi salah satu penyakit paling sulit dikenali dan sering disalahpahami. Banyak mitos berkembang dan menimbulkan kebingungan di masyarakat.
Untuk meluruskan persepsi publik berdasarkan pengalaman klinis dan bukti ilmiah, para pakar onkologi memberikan klarifikasi mengenai sejumlah mitos yang beredar.
Mitos #1: Kanker pankreas tidak dapat diobati
Anggapan ini muncul karena rendahnya angka kelangsungan hidup rata-rata. Padahal, kanker pankreas tetap bisa diobati.
Pada stadium awal, pembedahan menjadi pilihan utama. Prosedur ini memberi peluang bertahan hidup jangka panjang tanpa kekambuhan pada sebagian pasien.
Pada stadium lanjut, pembedahan, kemoterapi, dan terapi radiasi dapat dipertimbangkan. Mayoritas pasien bisa dikontrol selama beberapa waktu dengan pengobatan ini. Sebagian kecil bahkan dapat menjalani pembedahan yang bersifat kuratif .
Untuk kanker yang sudah menyebar luas (metastasis), pilihannya terbatas pada kemoterapi. Stadium ini memang tidak dapat disembuhkan.
Meski demikian, berbagai pengobatan yang ada tetap dapat memperpanjangan harapan hidup. Banyak uji klinis juga sedang berlangsung untuk menemukan pendekatan pengobatan yang lebih efektif.
Mitos #2: Kanker pankreas berkembang dengan cepat.
Banyak orang mengira kanker pankreas tumbuh dan menyebar dalam waktu singkat. Faktanya, pertumbuhannya berlangsung selama beberapa tahun sebelum akhirnya terlihat sebagai tumor pada CT scan atau pemeriksaan pencitraan lainnya. Setelah itu, butuh sekitar dua tahun lagi sebelum sel kanker menyebar ke organ lain.
Masalahnya, kanker pankreas sulit dideteksi pada tahap awal, sehingga banyak orang baru menyadari penyakit ini setelah berlangsung cukup lama.
Mitos #3: Kanker pankreas selalu menyebabkan diabetes.
Diabetes dan kanker pankreas memang saling berkaitan, tetapi hubungan ini tidak bersifat mutlak. Banyak pasien kanker pankreas yang tidak pernah mengalami diabetes.
Diabetes dapat muncul ketika pankreas tidak mampu menghasilkan insulin dalam jumlah cukup. Kondisi ini bisa terjadi—meski tidak selalu—jika sebagian pankreas rusak akibat kanker atau setelah sebagian pankreas diangkat melalui pembedahan.
Jika seluruh pankreas harus diangkat, barulah diabetes pasti terjadi karena tubuh tidak dapat lagi memproduksi insulin.
Mitos 4: Kanker pankreas hanya menyerang lansia.
Risikonya memang meningkat seiring bertambahnya usia. Rata-rata, kanker ini didiagnosis pada usia 72 tahun. Namun, kanker pankreas tidak hanya menyerang lansia. Kasus pada orang dewasa usia 25—45 tahun juga semakin banyak dilaporkan. Usia memang faktor risiko, tapi bukan satu-satunya.
Mitos 5: Penderita kanker pankreas tidak akan merasakan gejala apa pun.
Meski sebagian kasus memang terdeteksi secara tidak sengaja, sering kali terdapat tanda dan gejala kanker pankreas. Namun, gejalanya samar dan mirip dengan penyakit lain, seperti:
- Gangguan pencernaan.
- Nyeri punggung tengah.
- Perubahan kebiasaan buang air besar.
- Penurunan berat badan.
- Kelelahan yang tidak dapat dijelaskan.
- Menjadi penderita diabetes baru.
Jika mengalami satu atau lebih gejala ini yang menetap dan terasa tidak normal, segera periksakan ke dokter. Kesadaran terhadap gejala dapat membantu deteksi dini dan meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan.
Mitos #6: Hanya orang dengan riwayat keluarga yang bisa terkena kanker pankreas.
Riwayat keluarga memang meningkatkan risiko, tetapi bukan satu-satunya faktor. Obesitas, kebiasaan merokok, serta pankreatitis kronis, juga berperan besar. Artinya, siapa pun bisa berisiko, meski tidak memiliki anggota keluarga dengan penyakit ini.
Mitos #7: Kanker pankreas dapat menular dari satu orang ke orang lain.
Mitos ini salah sepenuhnya! Kanker pankreas tidak menular dan tidak dapat berpindah dari satu orang ke orang lain. Penyakit ini dipengaruhi oleh faktor risiko, seperti obesitas, merokok, pankreatitis kronis, riwayat keluarga, dan genetik.
Jika memiliki kekhawatiran atau pertanyaan, konsultasikan langsung dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan penjelasan yang tepat.
Sahabat Lansia, dengan memahami fakta-fakta dari para pakar, kita dapat membuat keputusan kesehatan yang lebih tepat—dari mengenali gejala, mencari pertolongan medis tepat waktu, hingga mengikuti pemeriksaan jika memiliki faktor risiko.
Meluruskan mitos bukan hanya soal memberikan informasi yang benar, tetapi juga membuka peluang deteksi lebih dini dan memberi lebih banyak harapan bagi para pasien. (*)
Sumber:
* IndiaTV News
* The Clatterbridge Cancer Center
Foto:
Freepik

Dibangun oleh sejumlah orang muda dan calon lansia. Melalui dunialansia.com, kami mengajak seluruh orang muda untuk peduli lansia, sekaligus mempersiapkan diri menjadi lansia yang SMART (Sehat, Mandiri, Aktif, Rajin, Taat).




