Kanker Pankreas: Sebagian Besar Kasus Berkembang di Usia Lanjut

Kanker Pankreas: Sebagian Besar Kasus Berkembang di Usia Lanjut

Mayoritas kasus kanker pankreas terjadi pada usia 60–80 tahun dan lebih umum terjadi pada laki-laki. Kenali berbagai faktor risikonya agar dapat melakukan deteksi dini dan menurunkan risikonya.

Dunialansia.com – Sahabat Lansia, sebagian besar kasus kanker pankreas berkembang antara usia 60 dan 80 tahun. Kanker pankreas juga lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan.

Pada artikel sebelumnya telah kita bahas tiga faktor risiko yang terbukti berkaitan dengan kanker pankreas, yaitu penggunaan tembakau, pankreatitis kronis, dan riwayat keluarga (genetik).

Masih ada sejumlah faktor risiko lainnya yang juga berperan dalam perkembangan kanker pankreas.

 

# Usia

Risiko meningkat seiring bertambahnya usia. Hampir semua pasien berusia di atas 45 tahun. Sebagian besar kasus berkembang pada usia 60—80 tahun, dan sekitar dua pertiganya berusia minimal 65 tahun. Usia rata-rata saat diagnosis adalah 70 tahun.

 

# Jenis Kelamin

Laki-laki sedikit lebih mungkin terkena kanker pankreas dibandingkan perempuan. Salah satu alasannya dapat berkaitan dengan tingginya penggunaan tembakau pada laki-laki. Penggunaan tembakau telah terbukti secara ilmiah sebagai salah satu faktor yang meningkatkan risiko kanker pankreas.

 

# Ras

Orang Afrika Amerika memiliki angka kejadian kanker pankreas lebih tinggi daripada orang kulit putih, Asia, atau Hispanik. Alasannya belum sepenuhnya jelas, tetapi diduga terkait dengan tingginya prevalensi diabetes, merokok, dan kelebihan berat badan.

 

# Diabetes

Kanker pankreas lebih banyak ditemukan pada penderita diabetes, terutama diabetes tipe 2. Namun, penyebab pasti hubungan ini belum jelas.  Pada orang dewasa, diabetes tipe 2 juga sering dikaitkan dengan berat badan berlebih.

 

# Pola Makan

Konsumsi berlebihan daging merah, daging olahan, dan lemak jenuh dapat meningkatkan risiko terkena kanker pankreas.

Beberapa penelitian juga menyebutkan kemungkinan hubungan antara konsumsi minuman ringan dan kanker pankreas, tetapi masih membutuhkan bukti lebih lanjut. Sebagian besar pakar kesehatan menyarankan membatasi minuman ringan berkalori tinggi untuk mencegah obesitas dan diabetes.

Penelitian lama sempat menyebut kopi sebagai faktor risiko, tetapi penelitian terbaru tidak mengonfirmasi hal tersebut.

 

# Berat Badan Berlebih

Orang dengan obesitas (indeks massa tubuh/IMT ≥ 30) memiliki risiko sekitar 20% lebih tinggi terkena kanker pankreas. Kelebihan lemak di area perut juga dapat meningkatkan risiko, bahkan pada orang dengan berat badan total yang tidak terlalu berlebih.

 

# Tumor Kistik Pankreas

Kista pankreas (juga disebut neoplasma musinosa papiler intraduktal) dapat bersifat prakanker atau berkembang menjadi kanker, bergantung pada lokasinya di pankreas.

 

# Infeksi

Beberapa penelitian menunjukkan infeksi Helicobacter pylori (penyebab tukak lambung) atau infeksi hepatitis B dapat meningkatkan risiko kanker pankreas. Namun, penelitian lebih lanjut masih diperlukan.

 

# Paparan Bahan Kimia Industri

Paparan berat terhadap bahan kimia tertentu di tempat kerja—seperti karsinogen dalam industri dry cleaning atau pengerjaan logam—dapat meningkatkan risiko kanker pankreas.

 

# Kurangnya aktivitas fisik

Beberapa penelitian menunjukkan aktivitas fisik yang rendah dapat meningkatkan risiko, meski tidak semua penelitian menunjukkan hasil yang sama. Aktivitas fisik teratur dapat membantu menurunkan risiko.

 

Sahabat Lansia, faktor risiko adalah segala sesuatu yang dapat meningkatkan risiko terkena penyakit, termasuk kanker. Beberapa faktor, seperti merokok dan pola makan, dapat dikendalikan, sementara faktor risiko lain, seperti usia, jenis kelamin, dan genetik tidak dapat diubah.

Kabar baiknya, memiliki faktor risiko tidak berarti seseorang pasti akan terkena kanker. Banyak orang dengan faktor risiko tinggi tetap sehat, sementara ada pula yang mengalami kanker tanpa memiliki faktor risiko yang jelas. (*)

 

Sumber:
American Cancer Society
Johns Hopkins Medicine
NIH MedlinePlus Magazine

Foto:
Freepik

 

 

Sahabat Lansia, dunialansia.com bukan merupakan praktik konsultasi medis, diagnosis, ataupun pengobatan. Informasi di situs web ini tidak boleh digunakan sebagai pengganti konsultasi atau saran medis profesional. Bila Sahabat Lansia memiliki masalah kesehatan atau penyakit tertentu atau kebutuhan medis yang spesifik, konsultasikan dengan tenaga medis atau tenaga kesehatan profesional.
Yuk, berbagi artikel ini agar manfaatnya dirasakan oleh banyak orang.