Osteoporosis vs Osteoartritis #3: Penyebab & Faktor Risiko Osteoporosis

Osteoporosis vs Osteoartritis #3: Penyebab & Faktor Risiko Osteoporosis

Osteoporosis dan osteoartritis adalah dua kondisi berbeda. Osteoporosis berfokus pada masalah kepadatan tulang, sedangkan osteoartritis berkaitan dengan kerusakan tulang rawan di sendi. Karena itu, penyebab dan faktor risikonya juga berbeda.

Dunialansia.com – Sahabat Lansia, osteoporosis dan osteoartritis sama-sama memengaruhi sistem gerak tubuh. Meski begitu, keduanya merupakan kondisi yang berbeda.

Pada artikel sebelumnya dibahas secara garis besar perbedaan antara keduanya. Osteoporosis berfokus pada masalah kepadatan tulang, sedangkan osteoartritis berkaitan dengan kerusakan tulang rawan di sendi. Baca selengkapnya di sini.

Walau sama-sama melibatkan tulang dan sendi, penyebab dan faktor risikonya berbeda. Artikel ini akan mengulas lebih dalam penyebab dan faktor risiko osteoporosis.

Baca Juga:
Osteoporosis vs Osteoartritis #2: Mengenali Perbedaan Gejalanya

 

Penyebab: Menurunnya Massa dan Kepadatan Tulang

Osteoporosis adalah penyakit tulang yang disebabkan oleh penurunan massa dan kepadatan tulang secara progresif, sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah.

Perlu diketahui, tulang sebenarnya selalu mengalami proses pembaruan. Tulang baru terus terbentuk, sementara tulang lama diuraikan.

Saat muda, tubuh memproduksi tulang lebih cepat daripada menghancurkan yang lama, sehingga massa tulang meningkat. Namun, setelah usia 20-an, proses ini melambat.

Sekitar usia 30, kebanyakan orang telah mencapai massa tulang puncak. Setelah itu, seiring bertambahnya usia, massa tulang hilang lebih cepat daripada terbentuknya.

Kemungkinan seseorang terkena osteoporosis, sebagian bergantung pada seberapa banyak massa tulang yang berhasil dibangun saat muda.

Semakin tinggi massa tulang puncak, semakin besar “cadangan tulang” yang dimiliki—dan semakin kecil risikonya mengalami osteoporosis di usia lanjut.

 

Faktor Risiko: Tidak Semuanya Dapat Dikendalikan

Beberapa faktor dapat membuat seseorang lebih rentan terhadap osteoporosis. Sebagian di antaranya tidak dapat diubah, tetapi sebagian lainnya bisa dikembangkan melalui pola hidup sehat.

 

# Faktor Risiko yang Tidak Dapat Diubah

  • Usia. Semakin tua usia, semakin besar risikonya.
  • Jenis kelamin. Perempuan lebih berisiko karena penurunan hormon estrogen selama menopause memengaruhi kepadatan tulang.
  • Ras. Orang berkulit putih atau keturunan Asia cenderung lebih berisiko.
  • Riwayat keluarga.Memiliki orangtua atau saudara kandung dengan osteoporosis, terutama yang pernah mengalami patah tulang pinggul.
  • Ukuran tubuh.Orang dengan ukuran tubuh kecil biasanya memiliki massa tulang lebih sedikit.

 

# Kadar Hormon Tidak Seimbang.

Ketidakseimbangan hormon bisa mempercepat pengeroposan tulang, seperti:

  • Penurunan hormon estrogen pada perempuan atau rendahnya hormon testosteron pada laki-laki.
  • Kelebihan hormon tiroid—baik karena tubuh memproduksinya terlalu banyak maupun akibat dosis obat tiroid yang berlebihan.
  • Gangguan pada kelenjar paratiroid atau adrenal dapat memicu produksi hormon berlebih.

# Faktor Makanan

Asupan kalsium yang rendah atau pola makan terlalu ketat hingga menyebabkan berat badan turun drastis dapat mempercepat pengeroposan tulang. Selain itu, operasi pada saluran pencernaan—seperti pengecilan lambung atau pengangkatan sebagian usus—juga bisa menghambat penyerapan nutrisi penting, termasuk kalsium, yang dibutuhkan untuk menjaga kekuatan tulang.

# Gaya Hidup

Gaya hidup kurang gerak, seperti terlalu sering duduk dan jarang beraktivitas fisik, dapat membuat tulang lebih rapuh. Kebiasaan lain, seperti mengonsumsi alkohol berlebihan atau merokok, juga berkontribusi terhadap tulang yang lemah.

# Kondisi Medis Tertentu

Beberapa penyakit dapat meningkatkan risiko osteoporosis. Di antaranya penyakit celiac, radang usus, gangguan ginjal atau hati, kanker, multiple myeloma, serta rheumatoid arthritis.

# Penggunaan Obat-Obatan Tertentu

Pemakaian obat kortikosteroid jangka panjang, seperti prednisone atau kortison, dapat mengganggu proses pembentukan tulang baru. Beberapa jenis obat lain juga dapat meningkatkan risiko osteoporosis, termasuk obat untuk kejang, refluks lambung, kanker, dan penolakan transplantasi.

Sahabat Lansia, mengenali penyebab dan faktor risiko osteoporosis membantu kita membedakannya dari osteoartritis, sehingga kita bisa lebih tepat memahami kondisi tulang dan sendi yang dialami.

Nantikan artikel berikutnya, yang akan membahas penyebab dan faktor risiko osteoartritis (OA), agar semakin lengkap memahami kesehatan tulang dan sendi. (*)

Sumber:
* Mayo Clinic
* UCF Health

Foto:
Freepik

 

 

Sahabat Lansia, dunialansia.com bukan merupakan praktik konsultasi medis, diagnosis, ataupun pengobatan. Informasi di situs web ini tidak boleh digunakan sebagai pengganti konsultasi atau saran medis profesional. Bila Sahabat Lansia memiliki masalah kesehatan atau penyakit tertentu atau kebutuhan medis yang spesifik, konsultasikan dengan tenaga medis atau tenaga kesehatan profesional.
Yuk, berbagi artikel ini agar manfaatnya dirasakan oleh banyak orang.