Osteoporosis vs Osteoartritis #2: Mengenali Perbedaan Gejalanya

Osteoporosis vs Osteoartritis #2: Mengenali Perbedaan Gejalanya

Osteoporosis dan osteoartritis (OA) adalah dua kondisi yang berbeda meskipun sering dianggap sama. Keduanya sama-sama memengaruhi sistem gerak tubuh, tetapi menyerang bagian yang berbeda. Kenali gejalanya masing-masing

Dunialansia.com – Sahabat Lansia, osteoporosis dan osteoartritis (OA) adalah dua kondisi yang berbeda, tetapi sering disamakan.

Pada artikel sebelumnya dijelaskan, osteoporosis adalah penyakit tulang, sedangkan osteoartritis merupakan penyakit sendi. Pada artikel ini akan dibahas gejalanya masing-masing.

 

Gejala Osteoporosis

Osteoporosis biasanya tidak menimbulkan gejala yang jelas hingga terjadi patah tulang. Tak heran jika osteoporosis dikenal sebagai penyakit diam.

Penyakit ini dapat berkembang selama bertahun-tahun tanpa disadari, sehingga diagnosis sering kali baru ditegakkan setelah tulang mengalami kerusakan.

Berikut beberapa tanda dan gejala yang dapat mengindikasikan osteoporosis:

  • Patah tulang terjadi lebih mudah dari yang seharusnya (misalnya, setelah cedera ringan).
  • Kehilangan tinggi badan secara bertahap, biasanya lebih dari 2,5 cm (sekitar satu inci).
  • Perubahan postur tubuh, seperti punggung membungkuk akibat fraktur kompresi tulang belakang.
  • Nyeri punggung, terutama di punggung bawah.
  • Sesak napas akibat berkurangnya kapasitas paru-paru karena fraktur kompresi tulang belakang yang menekan rongga dada.
  • Kesulitan berjalan atau beraktivitas karena rasa sakit dan kelemahan tulang.

Pemeriksaan seperti tes kepadatan mineral tulang (Bone Mineral Density/BMD) dapat membantu menentukan apakah seseorang berisiko atau sudah mengalami osteoporosis.
 

Gejala Osteoartritis (OA)

Berbeda dari osteoporosis, OA umumnya menunjukkan berbagai gejala yang dapat bervariasi, bergantung pada sendi yang terkena. Gejala OA biasanya muncul secara bertahap dan memburuk seiring waktu.

Beberapa gejala umum OA meliputi:

  • Nyeri sendi saat atau setelah bergerak.
  • Kekakuan sendi, terutama pada pagi hari atau setelah lama tidak beraktivitas.
  • Rentang gerak terbatas, sehingga sulit menggerakkan sendi tertentu.
  • Pembengkakan dan nyeri tekan di dekat atau di sekitar sendi yang terkena.
  • Taji tulang (bone spurs) atau benjolan keras di sekitar sendi yang terkena.
  • Deformitas sendi, seperti perubahan bentuk atau ukuran sendi.
  • Suara gesekan atau “krek” saat sendi digerakkan
  • Pincang saat berjalan jika osteoartritis menyerang pinggul atau lutut.

 

Sahabat Lansia, osteoporosis dan OA dapat terjadi bersamaan, sehingga diagnosisnya lebih sulit.

Karena itu, jika mengalami tanda atau gejalanya—baik OA maupun osteoporosis—segera periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat. (*)

 

Sumber:
* UCF Health
* University of Rochester Medical Center

Foto:
Freepik

 

 

Sahabat Lansia, dunialansia.com bukan merupakan praktik konsultasi medis, diagnosis, ataupun pengobatan. Informasi di situs web ini tidak boleh digunakan sebagai pengganti konsultasi atau saran medis profesional. Bila Sahabat Lansia memiliki masalah kesehatan atau penyakit tertentu atau kebutuhan medis yang spesifik, konsultasikan dengan tenaga medis atau tenaga kesehatan profesional.
Yuk, berbagi artikel ini agar manfaatnya dirasakan oleh banyak orang.