Bunuh diri pada lansia menjadi fenomena yang memilukan. Kesepian, kehilangan, penyakit, hingga masalah finansial membuat sebagian lansia merasa tak sanggup lagi menjalani hidup.
Dunialansia.com – Sahabat Lansia, miris sekali menghadapi fakta tingkat bunuh diri global tertinggi ada pada lansia, terutama pria. Mengapa lansia memilih mengakhiri hidupnya?
Faktor kesepian dan isolasi sosial, terutama setelah kehilangan pasangan atau ketika hidup sendiri, merupakan penyebab tingginya angka bunuh diri pada lansia.
Tia Dole, PhD, Chief 988 Suicide & Crisis Lifeline Officer, menyebut kesepian sebagai faktor utama, bahkan menjadi “epidemi kesepian.”
Kabar baiknya, menurut Kathleen Cameron, mantan Direktur Senior NCOA’s Center for Healthy Aging, seiring bertambahnya usia, kita justru memiliki ketahanan mental yang lebih besar.
Namun, ia mengingatkan, kesepian yang berlarut-larut perlu diwaspadai sebagai tanda depresi dan harus segera ditangani oleh tenaga medis.
Psikiater Geriatri John Sanitato, MD menjelaskan, faktor kehilangan merupakan kekhawatiran terbesar lansia yang membuat mereka berisiko mengakhiri hidup.
Kehilangan yang dimaksud meliputi kehilangan fungsi, kognisi, kelompok sebaya, stabilitas finansial, dan kesejahteraan secara umum.
ALASAN LAIN DI BALIK BUNUH DIRINYA LANSIA
Berikut ini sejumlah faktor yang meningkatkan risiko bunuh diri pada lansia.
1. Duka karena kehilangan orang terkasih.
Lansia yang hidup lebih lama mungkin mulai kehilangan anggota keluarga dan teman dekat akibat usia tua dan penyakit.
Mereka bisa bergumul dengan kesadaran akan kematian sendiri serta kecemasan tentang ajal. Masa kehilangan ini kerap terasa sangat berat, memperdalam kesepian dan keputusasaan.
Kehilangan pasangan adalah stresor umum di antara lansia. Pasangan yang telah bersama bertahun-tahun sering kali menjalani hidup sebagai satu kesatuan.
Ketika salah satunya meninggal, bisa sangat sulit bagi yang lain untuk menentukan arah hidup selanjutnya.
[ Mengatasi Rasa Duka Kehilangan Pasangan ]
2. Kehilangan kemandirian.
Lansia yang dulu bisa berpakaian sendiri, mengemudi, membaca, dan menjalani hidup aktif mungkin kesulitan menerima hilangnya identitas.
Mereka berduka atas sosok mandiri dan penuh semangat yang dulu mereka kenal dalam diri sendiri.
3. Penyakit kronis dan rasa sakit.
Lansia lebih rentan terhadap penyakit kronis, seperti artritis, masalah jantung, tekanan darah tinggi, dan diabetes.
Kondisi ini sering menimbulkan rasa sakit atau nyeri dan masalah mobilitas yang menurunkan kualitas hidup.
Penurunan penglihatan atau pendengaran juga membuat mereka semakin sulit melakukan hal-hal yang disukai.

4. Gangguan kognitif.
Sebuah penelitian menemukan, lansia dengan gangguan kognitif ringan dan demensia memiliki risiko bunuh diri lebih tinggi.
Penurunan fungsi kognitif dapat memengaruhi kemampuan dalam mengambil keputusan dan meningkatkan impulsivitas.
Studi lain menemukan, lansia di bawah 65 tahun yang telah didiagnosis demensia hampir dua kali lebih mungkin meninggal karena bunuh diri dibandingkan orang tanpa diagnosis demensia.
5. Penyakit mental.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) memperkirakan 46% orang yang meninggal karena bunuh diri pernah didiagnosis dengan kondisi kesehatan mental, seperti depresi.
Namun, angka sebenarnya kemungkinan lebih tinggi karena banyak yang kondisi mentalnya tidak terdiagnosis.
6. Pensiun
Meninggalkan pekerjaan yang pernah memberi rasa terpenuhi dan produktif bisa menjadi stresor mental dan emosional besar.
Sebuah studi di Kanada menemukan, bulan pertama setelah pensiun adalah waktu krusial untuk membantu orang menyesuaikan diri dengan gaya hidup baru.
Demikian pula, studi di Australia melaporkan, layanan transisi bagi pensiunan baru dapat membantu mengurangi risiko kecenderungan bunuh diri.
7. Masalah keuangan.
Lansia yang hidup dengan penghasilan tetap bisa kesulitan membayar tagihan atau memenuhi kebutuhan pangan.
Jika sudah disertai masalah kesehatan atau duka, tekanan finansial ini bisa menjadi pemicu munculnya pikiran untuk bunuh diri.
8. Ketidakstabilan pangan.
Sebuah studi pada orang dewasa usia 50+ di lima negara berpenghasilan rendah dan menengah menemukan, lansia yang mengalami ketidakamanan pangan sedang 2,59 kali lebih mungkin mencoba bunuh diri dibandingkan rekan-rekan yang aman pangan. Lansia yang mengalami ketidakamanan pangan parah 5,15 kali lebih mungkin.
DEPRESI KLINIS PADA LANSIA
Masalah fisik, emosional, dan kognitif dapat membuat lansia rentan mengalami depresi. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa berkembang menjadi depresi klinis.
Depresi klinis bukanlah bagian normal dari penuaan, tetapi sering kali tidak dikenali, terdiagnosis, maupun tertangani dengan baik.
Minimnya tenaga kesehatan mental dengan pelatihan khusus geriatri serta kendala asuransi membuat kesehatan mental lansia kerap terabaikan.
Padahal, kondisi ini mengkhawatirkan. Meski tidak semua penderita depresi klinis melakukan bunuh diri, depresi berat tetap meningkatkan risikonya.
PENTINGNYA TETAP TERHUBUNG
Sahabat Lansia, semua faktor di atas dapat berperan dalam meningkatkan perasaan kesepian dan isolasi.
Kesepian terbukti meningkatkan risiko perilaku melukai diri sendiri dan bunuh diri—dan bagi pria yang tinggal sendiri, risikonya paling tinggi.
Berbagai penelitian menunjukkan betapa pentingnya bagi lansia untuk tetap terhubung. Karena itu, tetaplah saling berbagi, mendukung, dan hadir bagi orang-orang yang kita cintai di usia senja. (*)
Sumber:
Cleveland Clinic (4/4/2023)
NCOA (3/1/2025)
Foto:
Freepik

Dibangun oleh sejumlah orang muda dan calon lansia. Melalui dunialansia.com, kami mengajak seluruh orang muda untuk peduli lansia, sekaligus mempersiapkan diri menjadi lansia yang SMART (Sehat, Mandiri, Aktif, Rajin, Taat).




