Sindrom patah hati sering disangka serangan jantung karena gejalanya mirip. Padahal, keduanya berbeda. Kenali tanda-tandanya agar tidak keliru dan bisa segera mendapat pertolongan medis yang tepat.
Dunialansia.com – Sahabat Lansia, sindrom patah hati yang secara medis dikenal sebagai kardiomiopati takotsubo memiliki gejala yang mirip dengan serangan jantung. Yuk, kenali gejalanya, ketahui pula penyebabnya.
Meskipun sama-sama menyebabkan sesak napas dan nyeri dada, sindrom patah hati berbeda dari serangan jantung.
Pada sindrom patah hati, tidak terjadi penyumbatan arteri koroner dan tidak menimbulkan kerusakan jantung permanen.
Kondisi ini biasanya muncul setelah stres fisik atau emosional yang mendadak. Gejalanya bisa terasa dalam hitungan menit hingga jam setelah peristiwa yang menegangkan terjadi.
Namun, sebagian kecil orang dengan sindrom patah hati tidak dapat mengidentifikasi pemicu atau penyebab stresnya.
Karena gejalanya sangat mirip dengan serangan jantung, sebaiknya segera pergi ke rumah sakit jika mengalami keluhan-keluhan tersebut.
Pemeriksaan medis penting untuk memastikan apakah itu serangan jantung, sindrom patah hati, atau kondisi lain.
Gejala utama sindrom patah hati meliputi:
- Nyeri dada yang tiba-tiba dan parah (angina).
- Sesak
- Melemahnya ventrikel kiri jantung.
Tanda dan gejala lainnya termasuk:
- Kelelahan yang datang tiba-tiba.
- Detak jantung tidak teratur (aritmia).
- Tekanan darah rendah (hipotensi).
- Jantung berdebar-debar.
- Keringat dingin, pusing, atau bahkan pingsan.
STRES EMOSIONAL DAN FISIK YANG BERAT
Peneliti belum mengetahui secara pasti penyebab sindrom patah hati. Namun, sebagian besar kasus dipicu oleh stres emosional atau fisik yang berat, yang menyebabkan lonjakan hormon stres di dalam tubuh.
Saat seseorang menghadapi tekanan fisik atau emosional yang berat, tubuh melepaskan hormon stres (seperti adrenalin) dalam jumlah tinggi. Lonjakan ini “mengejutkan” jantung dan membuat fungsinya terganggu sementara waktu.
Beberapa penyebab stres emosional, antara lain:
- Meninggalnya orang terdekat.
- Perceraian atau perpisahan.
- Kehilangan sesuatu yang sangat berarti—misalnya, rumah, hewan peliharaan, atau kerugian finansial.
- Berita mengejutkan, baik kabar buruk maupun kabar gembira.
- Peristiwa traumatis, seperti kecelakaan atau bencana alam.
- Ketakutan yang sangat intens.
- Berbicara di depan umum.
- Kemarahan yang luar biasa.
Sementara itu, stres fisik dapat berupa:
- Penyakit berat atau kronis.
- Peristiwa fisik yang melelahkan.
- Kecelakaan mobil atau trauma fisik lainnya.
- Masalah kesehatan, seperti: serangan asma atau kesulitan bernapas, kejang, stroke, demam tinggi, gula darah rendah (hipoglikemia), kehilangan banyak darah atau operasi besar.
WASPADAI TANDA, KENALI PEMICU
Sahabat Lansia, dengan mengenali gejala sindrom patah hati dan memahami berbagai penyebanya, kita bisa lebih waspada dan segera mencari pertolongan medis.
Kebanyakan orang yang mengalami sindrom patah hati dapat pulih sepenuhnya, tetapi ada pula yang mengalami komplikasi serius. Ketahui selengkapnya di artikel berikutnya. (*)
Sumber:
Cleveland Clinic, Harvard Health
Foto:
Freepik

Dibangun oleh sejumlah orang muda dan calon lansia. Melalui dunialansia.com, kami mengajak seluruh orang muda untuk peduli lansia, sekaligus mempersiapkan diri menjadi lansia yang SMART (Sehat, Mandiri, Aktif, Rajin, Taat).




