Setelah membahas lima faktor risiko demensia yang dapat dimodifikasi pada bagian pertama, kini kita melanjutkan dengan lima faktor risiko berikutnya yang juga dapat dikendalikan.
Dunialansia.com – Sahabat Lansia, pada bagian pertama kita telah membahas lima faktor risiko demensia yang dapat dimodifikasi. Kini, kita melanjutkan dengan lima faktor berikutnya yang juga dapat dikendalikan dan turut meningkatkan risiko demensia di usia lanjut, bila tidak dikelola dengan baik.
6. Depresi
Sebuah studi yang diterbitkan dalam JAMA Neurology menemukan, risiko demensia meningkat lebih dari dua kali lipat pada orang yang pernah didiagnosis depresi—bahkan jika depresinya terjadi bertahun-tahun sebelumnya.
Depresi di masa dewasa merupakan faktor risiko demensia, terutama di usia paruh baya.
7. Polusi Udara
Penelitian pada hewan menunjukkan bahwa paparan partikulat polusi udara dapat mempercepat degenerasi sistem saraf. Studi pada manusia juga menemukan, paparan partikel halus dalam polusi udara telah diidentifikasi sebagai faktor risiko potensial untuk demensia.
8. Masalah Tidur
Orang yang mengalami sleep apnea dan gangguan tidur lainnya dapat berisiko lebih tinggi terkena demensia.
Penelitian menemukan, mereka yang membutuhkan waktu lama untuk masuk ke fase tidur mimpi—disebut tidur REM (rapid eye movement)—dapat mengalami gejala awal Alzheimer.
Kurang tidur di usia paruh baya juga diketahui meningkatkan risiko demensia.
9. Trauma Kepala
Trauma kepala berat meningkatkan risiko penyakit Alzheimer. Beberapa studi besar menemukan orang berusia 50 ke atas yang mengalami cedera otak traumatis atau TBI (traumatic brain injury) memiliki risiko lebih tinggi terkena demensia.
Risiko tersebut paling tinggi pada enam bulan hingga dua tahun pertama setelah TBI, serta pada cedera yang parah atau berulang.
10. Vitamin & Obat-obatan Tertantu
Kekurangan vitamin D, vitamin B6, vitamin B12, dan folat dapat meningkatkan risiko demensia. Selain itu, beberapa obat-obatan juga dapat memengaruhi daya ingat. Konsultasikan dengan dokter terkait obat-obatan yang dikonsumsi untuk memastikan tidak berdampak negatif pada fungsi kognitif.
Sahabat Lansia, memahami faktor-faktor risiko yang dapat dikendalikan memberi kita kesempatan untuk menjaga kesehatan otak lebih baik sejak sekarang. Dengan mengenali risikonya, kita dapat mengambil langkah-langkah untuk menurunkan kemungkinan terjadinya demensia. Nantikan artikel selanjutnya. (*)
Sumber:
* Mayo Clinic
* NCOA
Foto:
Freepik

Dibangun oleh sejumlah orang muda dan calon lansia. Melalui dunialansia.com, kami mengajak seluruh orang muda untuk peduli lansia, sekaligus mempersiapkan diri menjadi lansia yang SMART (Sehat, Mandiri, Aktif, Rajin, Taat).




