Diet Fleksitarian: Pola Makan Fleksibel yang Menyehatkan

Diet Fleksitarian: Pola Makan Fleksibel yang Menyehatkan

Diet fleksitarian disebut juga pola makan semi-vegetarian. Pola makan ini menekankan makanan nabati tetapi tetap fleksibel mengonsumsi daging. Cocok bagi lansia yang ingin hidup sehat tanpa pantangan ketat.

Dunialansia.com – Sahabat Lansia, diet fleksitarian merupakan salah satu jenis pola makan vegetarian yang bersifat lebih lentur. Namanya berasal dari kata fleksibel dan vegetarian. Karena itu, pola makan ini sering disebut juga semi-vegetarian.

Diet fleksitarian mengikuti prinsip pola makan nabati, tetapi masih memperbolehkan konsumsi daging dalam jumlah terbatas. Sebagian orang mungkin makan daging enam hari seminggu dan menjalani “Senin tanpa daging”, sementara yang lain makan daging hanya sekali seminggu.

 

Aturan Konsumsi Makanan Hewani dalam Diet Fleksitarian

Tidak ada batasan pasti mengenai seberapa banyak daging boleh dikonsumsi. Prinsip utamanya adalah mengurangi asupan makanan hewani sambil menekankan makanan nabati.

 Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Makanan hewani tidak dilarang.
  • Dapat mengonsumsi telur, susu, ayam, daging, ikan, dan makanan laut.
  • Mengurangi porsi daging sesuai kebutuhan atau target pribadi.

Tingkat pembatasan daging pada penganut fleksitarian umumnya dibagi menjadi tiga:

  • Ringan: Makan daging setiap hari kecuali pada hari tertentu, seperti “Senin tanpa daging”.
  • Sedang: Makan daging beberapa kali seminggu.
  • Ketat: Makan seperti vegetarian atau vegan pada sebagian besar waktu, dengan daging hanya sekali atau dua kali seminggu.

Menurut sebuah penelitian (2021), sekitar setengah dari seluruh penganut fleksitarian masih mengonsumsi daging empat hari atau lebih dalam seminggu.

Fleksitarian juga bisa memilih makan seperti vegetarian atau vegan pada beberapa hari, namun tidak setiap hari.

 

Makanan Nabati Kaya Zat Besi dan Protein

Pada hari-hari tanpa daging, penting untuk mengonsumsi makanan nabati tinggi protein dan nutrisi lainnya yang ditemukan dalam daging untuk menghindari kekurangan zat gizi mikro, seperti anemia defisiensi besi.

Beberapa zat gizi penting yang perlu diperhatikan meliputi:  

Sumber makanan nabati yang bisa menjadi pilihan, antara lain:

  • Kacang-kacangan (beans) dan polong-polongan (legumens).
  • Produk susu dan telur.
  • Sayuran berdaun hijau (tidak tinggi protein, tetapi kaya zat besi).
  • Kacang-kacangan (nuts) dan biji-bijian (seeds).
  • Biji-bijian utuh (whole grains).

 

Perhatian untuk Lansia!

Kekurangan protein dan asam amino bisa terjadi pada penganut diet fleksitarian yang jarang makan daging, terutama lansia.

Mengonsumsi suplemen protein yang mengandung asam amino esensial pada hari tanpa daging dapat menjadi cara praktis untuk membantu mencegah kekurangan nutrisi.

Namun, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau ahli gizi sebelum mengonsumsi suplemen untuk memastikan kesesuaiannya dengan kebutuhan tubuh.

 

Manfaat Diet Fleksitarian

Pola makan fleksitarian termasuk salah satu pilihan pola makan sehat yang mudah dijalankan. Penelitian menunjukkan, diet ini dapat membantu menurunkan risiko penyakit jantung.

Sebuah studi (2015) menemukan, pola makan semi-vegetarian dikaitkan dengan penurunan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular hingga 20% dibandingkan pola makan yang yang tidak pro-vegetarian. 

 

Manfaat Lainnya:

  • Membantu menurunkan berat badan.
  • Mengurangi risiko diabetes tipe 2 dan membantu mengelola pradiabetes.
  • Berpotensi melindungi tubuh dari beberapa jenis kanker.
  • Mendukung kelestarian lingkungan dengan mengurangi konsumsi daging berlebihan.

 

Sahabat Lansia, diet fleksitarian menawarkan keseimbangan antara pola makan nabati dan konsumsi daging secara bijak.

Bagi lansia, pola makan ini bisa menjadi pilihan sehat yang tetap praktis dijalani. Dengan perencanaan yang tepat dan asupan protein cukup, diet fleksitarian membantu menjaga kesehatan sekaligus memberi manfaat bagi bumi.

Namun, lansia memiliki kebutuhan nutrisi khusus, sehingga sebaiknya pola makan fleksitarian disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing dan dikonsultasikan dengan ahli gizi atau dokter terlebih dahulu. (*)

Sumber:
* Verywell Health
* WebMD

Foto:
Freepik

 

 

Sahabat Lansia, dunialansia.com bukan merupakan praktik konsultasi medis, diagnosis, ataupun pengobatan. Informasi di situs web ini tidak boleh digunakan sebagai pengganti konsultasi atau saran medis profesional. Bila Sahabat Lansia memiliki masalah kesehatan atau penyakit tertentu atau kebutuhan medis yang spesifik, konsultasikan dengan tenaga medis atau tenaga kesehatan profesional.
Yuk, berbagi artikel ini agar manfaatnya dirasakan oleh banyak orang.