Hot flashes adalah rasa panas mendadak yang sering dialami perempuan menjelang atau selama menopause. Satu dari tiga perempuan melaporkan mengalami lebih dari 10 kali rasa panas dalam sehari. Seperti apa rasa panasnya?
Dunialansia.com – Sahabat Lansia, hot flashes merupakan salah satu gejala paling umum menopause. Biasanya dirasakan segera setelah siklus haid mulai tidak teratur, sekitar akhir usia 40-an hingga awal 50-an.
Hot flashes adalah rasa panas yang tiba-tiba, paling sering memengaruhi wajah, leher, dan dada. Rasa panas ini juga dapat disertai keringat berlebih.
Sekitar tiga dari empat perempuan melaporkan mengalami hot flashes pada tahun-tahun menjelang menopause, masa yang disebut perimenopause.
Seperti Apa Rasanya Hot Flashes?
Rasa panas yang muncul berbeda-beda pada setiap orang. Bagi sebagian perempuan, sensasi ini berlangsung singkat dan ringan, sementara bagi yang lain bisa terasa intens dan mengganggu aktivitas.
Selama hot flashes, seseorang juga dapat mengalami hal-hal berikut:
- Kulit tampak memerah dan berbintik-bintik.
- Jantung berdebar atau detak jantung meningkat.
- Keringat berlebih, terutama di tubuh bagian atas.
- Kulit terasa lembap dan dingin.
- Menggigil setelah rasa panas mereda.
- Perasaan cemas atau tidak nyaman.
Hot flashes bisa ringan, bisa juga begitu hebat sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
Jika hot flashes sampai memengaruhi aktivitas harian atau tidur, sebaiknya konsultasikan dengan dokter. Ada berbagai pilihan pengobatan yang dapat membantu mengurangi gejala.
Berapa Lama dan Seberapa Sering Hot Flashes Terjadi?
Tidak hanya intensitasnya yang bervariasi, tetapi lamanya setiap episode hot flash juga bervariasi. Satu hot flash dapat berlangsung selama 1—5 menit.
Sebagian orang dapat mengalaminya beberapa kali sehari. Bahkan, 1 dari 3 perempuan melaporkan mengalami lebih dari 10 kali rasa panas dalam sehari.
Durasi kemunculannya pun bervariasi. Ada yang mengalami hot flashes hanya selama beberapa bulan, sementara yang lain mengalaminya bertahun-tahun, bahkan hingga lebih dari satu dekade.
Hot flashes dapat muncul kapan saja, baik siang maupun malam. Saat terjadi di malam hari, gejala ini disebut keringat malam dan dapat mengganggu kualitas tidur.
Menopause Bukan Satu-satunya Penyebab Hot Flashes
Perubahan kadar hormon sebelum, selama, dan setelah menopause merupakan penyebab paling umum hot flashes.
Penurunan kadar estrogen diduga memengaruhi sistem pengatur suhu tubuh di otak (hipotalamus), sehingga tubuh bereaksi seolah-olah terlalu panas.
Namun, menopause bukan satu-satunya penyebab hot flashes. Sensasi panas ini juga bisa disebabkan oleh gangguan tiroid, infeksi, atau efek sampaing obat tertentu.
Karena itu, perempuan yang belum memasuki masa perimenopause tetapi mengalami hot flashes, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mencari tahu penyebab pastinya.
Sahabat Lansia, memahami penyebab dan pola hot flashes dapat membantu mengenali perubahan tubuh yang terjadi selama masa transisi menopause.
Bila gejalanya terasa mengganggu, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter agar mendapatkan penanganan yang sesuai dan menjaga kualitas hidup tetap baik.
Kenali juga faktor risiko hot flashes dan tips mengatasinya. (*)
Sumber:
Cleveland Clinic
Mayo Clinic
Foto:
Freepik

Dibangun oleh sejumlah orang muda dan calon lansia. Melalui dunialansia.com, kami mengajak seluruh orang muda untuk peduli lansia, sekaligus mempersiapkan diri menjadi lansia yang SMART (Sehat, Mandiri, Aktif, Rajin, Taat).




