SEKS SETELAH USIA 50: Antara Tabu dan Kesehatan yang Terancam

SEKS SETELAH USIA 50: Antara Tabu dan Kesehatan yang Terancam

Di usia 50 ke atas, tubuh mungkin berubah. Namun, kebutuhan akan keintiman dan kebersamaan tetaplah ada. Sayangnya, topik ini masih dianggap tabu. Padahal, jika terus dibiarkan, dampaknya bisa mengancam kesehatan.

Dunialansia.com – Sahabat Lansia, kita tak ragu membicarakan nyeri sendi, tekanan darah, atau keluhan pencernaan. Namun, soal kesehatan seksual? Sering kali kita memilih diam—karena tabu. Padahal, ini bisa berdampak pada kesehatan.

“Menariknya, kebanyakan orang berusia di atas 50 sepakat bahwa keintiman dan kesenangan di ranjang adalah kebutuhan seumur hidup. Namun, justru hal ini yang paling jarang dibicarakan, apalagi saat muncul masalah,” kata Kathleen Cameron, mantan Direktur Senior di Pusat Penuaan Sehat NCOA.

Jajak Pendapat Nasional tentang Penuaan Sehat dari Universitas Michigan mencatat, sebanyak 76% responden setuju bahwa seks merupakan bagian penting dalam hubungan romantis di segala usia. Namun, hanya 17% yang pernah membicarakan masalah seksual dengan dokternya dalam dua tahun terakhir.

 

KETIKA SEKS JADI TABU, KESEHATAN JADI KORBAN

Mengapa topik ini begitu sulit diangkat setelah usia 50?

Menurut Cameron, tabu dan kecanggungan menjadi tembok penghalang. Padahal, semakin kita menghindar, semakin banyak kesalahpahaman yang timbul dan bisa berdampak pada kesehatan.

Beberapa kondisi medis bahkan dapat muncul pertama kali sebagai disfungsi seksual. Jika kita malu membicarakannya, dokter mungkin tidak menyadari penyebab serius yang mendasarinya.

Komunikasi yang tertutup dengan pasangan juga meningkatkan risiko penyakit menular seksual (PMS), seperti herpes genital, hepatitis B, sifilis, dan gonore.

Menjalani kehidupan intim yang sehat setelah usia 50 bukanlah mimpi. Kuncinya adalah berani membawa kesehatan seksual ke ruang terang—dan itu dimulai dari kita sendiri.

 

APA ITU KESEHATAN SEKSUAL?

Menurut American Sexual Health Association (ASHA), kesehatan seksual adalah kemampuan untuk menghargai dan menikmati seksualitas kita sepanjang hidup. Ini mencakup:

  • Merasakan kenikmatan dan kepuasan seksual.
  • Mendapat akses informasi dan layanan kesehatan seksual.
  • Bisa bicara terbuka tentang kesehatan seksual dengan pasangan atau tenaga kesehatan.

Saat hal-hal ini terhambat, kesejahteraan kita pun ikut terpengaruh—baik secara pribadi maupun sosial.

 

MENGAPA PENTING SETELAH USIA 50?

Banyak yang bertanya, “Usia berapa pria mulai kehilangan gairah?” atau “Kapan wanita berhenti aktif secara seksual?”

Menurut Cameron, ini pertanyaan umum. “Yang penting untuk diketahui adalah tidak ada usia spesifik kapan seksualitas ‘berhenti’,” jelasnya.

Lagi pula, tambahnya, kita manusia pada dasarnya adalah makhluk seksual—dan kita tidak tiba-tiba kehilangan minat pada seks atau karena kita berusia 50 tahun. Justru kesehatan seksual sangat penting seiring bertambahnya usia.

Kesehatan seksual memungkinkan kita untuk menciptakan dan mempertahankan keintiman emosional dengan pasangan. Bahkan, membantu mengurangi stres, menurut penelitian.

Kesehatan seksual juga mendukung kesehatan kita secara keseluruhan. Misalnya, seks teratur dapat mengurangi risiko kolesterol tinggi dan bahkan dapat menurunkan tekanan darah. Sebaliknya, kesehatan fisik yang baik memiliki efek positif pada kesehatan seksual.

Sahabat Lansia, tubuh kita boleh berubah seiring bertambahnya usia. Namun, hal itu tidak harus menghalangi kehidupan seks yang sehat. Jangan biarkan tabu merenggut kesejahteraan kita. Sudah waktunya bicara terbuka, demi kesehatan yang menyeluruh.

Ketahui perubahan apa saja yang terjadi setelah usia 50 dan cara menjaga kesehatan seksual di usia senja. (*)

 

Sumber:
NCOA (2/1/2025)

Foto:
Freepik

 

 

Sahabat Lansia, dunialansia.com bukan merupakan praktik konsultasi medis, diagnosis, ataupun pengobatan. Informasi di situs web ini tidak boleh digunakan sebagai pengganti konsultasi atau saran medis profesional. Bila Sahabat Lansia memiliki masalah kesehatan atau penyakit tertentu atau kebutuhan medis yang spesifik, konsultasikan dengan tenaga medis atau tenaga kesehatan profesional.
Yuk, berbagi artikel ini agar manfaatnya dirasakan oleh banyak orang.