Pandemi telah berakhir. Namun, Covid-19 belum berakhir. Cermati gejalanya. Jangan anggap remeh cegukan yang berlangsung lebih dari dua hari.
Dunialansia.com – Sahabat Lansia, pandemi Covid-19 telah dinyatakan berakhir sejak Mei 2023 oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Namun, Covid-19 masih menyebar secara global dan menjadi penyakit endemik. Covid-19 belum berakhir, cermati gejalanya.
Covid-19 adalah penyakit pernapasan yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2, sejenis virus korona. Penyakit ini menular dan menyebar dari orang ke orang melalui droplet pernapasan yang mengandung virus penyebab Covid-19.
Setelah terpapar virus, gejala biasanya muncul 2—14 hari kemudian. Gejalanya bermacam-macam, dari ringan hingga berat. Seringnya menyebabkan gejala pernapasan yang terasa seperti pilek, flu, atau pneumonia.
Gejala Covid-19
- Batuk
- Demam atau menggigil.
- Diare
- Hidung tersumbat atau berair.
- Kehilangan indra perasa atau penciuman.
- Kelelahan (fatigue).
- Kesulitan berpikir dan fokus (kabut otak).
- Meriang (panas-dingin).
- Mual atau muntah.
- Nyeri otot atau tubuh.
- Sakit kepala.
- Sakit tenggorokan.
- Sesak napas atau kesulitan bernapas.
Penting dicatat, daftar gejala ini tidak mencakup semua kemungkinan gejala. Gejala dapat berubah dengan munculnya varian baru Covid-19 dan dapat bervariasi bergantung pada status vaksinasi.
JANGAN ANGGAP REMEH CEGUKAN
Siapa sangka, cegukan juga merupakan salah satu gejala Covid-19. Seorang pria berusia 60 tahun di Istanbul mengalami cegukan selama tiga hari. Ia lalu pergi ke rumah sakit untuk memeriksakannya.
Dokter di departemen neurologi rumah sakit melakukan MRI pada kepalanya, tetapi tidak ditemukan adanya kelainan pada otak pria tersebut. Begitu pun hasil pemeriksaan di departemen penyakit, semuanya—dari suhu tubuh, kadar oksigen, hingga denyut jantung dan pernapasan—normal.
Hasil pemeriksaan darah juga tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi influenza ataupun respiratory syncytial virus (RSV)
Namun, saat dokter mendengarkan paru-paru pasien, mereka mendengar “suara berderak lembap yang jelas.” Pemindaian CT pada dada pria tersebut menunjukkan nodul di kedua paru-paru—yang biasanya merupakan tanda pneumonia virus.
Keesokan harinya, analisis sampel usap tenggorokan menunjukkan, sang pria terinfeksi SARS-CoV-2, virus corona yang menyebabkan Covid-19.
Beberapa studi kasus yang diterbitkan awal 2000-an mengaitkan cegukan terus-menerus—berlangsung selama dua hari atau lebih—dengan pneumonia.
Penelitian medis yang diterbitkan pada 2020 dan 2021 menunjukkan, Covid-19 juga dapat menyebabkan cegukan terus-menerus dan dapat membuat serangan cegukan lebih lama serta lebih parah dari biasanya.
Sahabat Lansia, Covid-19 belum berakhir, ketahui cara penularannya dan lakukan pencegahan. Jika merasakan atau mengalami gejala Covid-19, segera lakukan tes PCR (polymerase chain reaction) di puskesmas atau klinik terdekat. Hingga kini, tes PCR merupakan pemeriksaan diagnostik yang dianggap paling akurat untuk memastikan apakah seseorang menderita Covid-19 atau tidak. (*)
Sumber:
CDC (10/3/2025)
Cleveland Clinic (28/2/2025)
Live Science (23/4/2025)
Foto:
Freepik

Dibangun oleh sejumlah orang muda dan calon lansia. Melalui dunialansia.com, kami mengajak seluruh orang muda untuk peduli lansia, sekaligus mempersiapkan diri menjadi lansia yang SMART (Sehat, Mandiri, Aktif, Rajin, Taat).




