Penyebab Kanker: Mitos dan Fakta yang Perlu Diketahui

Penyebab Kanker: Mitos dan Fakta yang Perlu Diketahui

Banyak anggapan tentang penyebab kanker terdengar masuk akal, padahal tidak semuanya benar. Ketahui berbagai mitos yang sering beredar dan fakta ilmiah di baliknya.

Dunialansia.com – Sahabat Lansia, kesalahpahaman tentang penyebab kanker sering menimbulkan kecemasan yang tidak perlu. Berbagai anggapan lama yang beredar kerap terdengar masuk akal, padahal tidak didukung bukti ilmiah terbaru.

Mitos seputar kanker tidak hanya membuat orang khawatir, tetapi juga dapat menghambat pengambilan keputusan yang tepat terkait pencegahan dan pengobatan.

Karena itu, penting memahami informasi berbasis sains tentang faktanya.

 

Mitos #1: Antiperspiran atau deodoran menyebabkan kanker payudara.

Fakta: Sejauh ini, penelitian belum menemukan bukti antiperspiran dan deodoran menyebabkan atau meningkatkan risiko kanker payudara.

Beberapa laporan memang menyebutkan kandungan, seperti senyawa aluminium dan paraben, dapat masuk ke dalam tubuh melalui luka akibat bercukur. Namun, belum ada bukti klinis yang menunjukkan zat-zat tersebut menjadi penyebab kanker payudara. Bukti ilmiah yang ada justru menunjukkan, produk-produk ini tidak menyebabkan kanker.

Bagi yang merasa khawatir, menggunakan produk dengan kandungan bahan kimia yang dirasa lebih aman dapat menjadi pilihan pribadi.

Apakah Kita Dapat Mencegah Kanker ? 8 Kiat Mengurangi Risiko Terkena Kanker ]

 

Mitos #2: Memanaskan makanan dalam wadah plastik di microwave menyebabkan kanker.

Fakta: Wadah plastik yang berlabel aman untuk microwave seharusnya aman digunakan sesuai petunjuk. Masalah dapat muncul jika menggunakan wadah yang tidak dirancang untuk pemanasan, karena dapat meleleh dan berpotensi melepaskan zat kimia ke dalam makanan.

Oleh karena itu, pastikan wadah yang digunakan memiliki label aman microwave. Untuk keamanan tambahan, gunakan wadah kaca atau keramik saat memanaskan makanan.

 

Mitos #3: Telepon seluler menyebabkan kanker.

Fakta: Kanker disebabkan oleh mutasi genetik, sementara telepon seluler memancarkan energi frekuensi rendah yang tidak merusak gen. Hingga kini belum ada bukti ilmiah yang mengaitkan penggunaan ponsel dengan kanker.

 

Mitos #4: Sikap positif atau negatif menentukan risiko dan kesembuhan kanker.

Fakta: Belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan sikap seseorang menentukan risiko terkena kanker atau peluang kesembuhan. Wajar jika penderita kanker terkadang merasa sedih, marah, atau putus asa, dan di waktu lain merasa positif atau optimis.

Sikap positif memang dapat membantu seseorang tetap aktif secara fisik dan sosial, serta lebih terbuka terhadap dukungan emosional. Hal-hal tersebut dapat membantu proses menghadapi kanker, tetapi bukan penentu langsung perkembangan penyakit.

 

Mitos #5: Jika ada anggota keluarga yang menderita kanker, generasi berikutnya pasti berisiko.

Fakta: Hanya sekitar 5—10 persen kanker yang disebabkan oleh faktor keturunan. Dalam kasus ini, beberapa anggota keluarga dapat mengembangkan jenis kanker yang sama yang dikenal sebagai kanker herediter atau familial.

Sebagian besar kanker disebabkan oleh mutasi yang terjadi sepanjang hidup akibat penuaan serta paparan lingkungan, seperti asap rokok dan radiasi. Jenis ini disebut kanker non-herediter atau spontan.

Ketahui Jenis Kanker yang Paling Umum Didiagnosis pada Lansia ]

 

Mitos #6: Tidak ada riwayat kanker berarti bebas risiko.

Fakta: Data menunjukkan, sekitar 39% orang akan didiagnosis menderita kanker pada suatu tahap dalam hidupnya.

Sebagian besar kanker muncul akibat perubahan genetik seiring bertambahnya usia dan paparan lingkungan.

Faktor gaya hidup, seperti pola makan, jumlah asupan, dan aktivitas fisik juga dapat memengaruhi risiko terkena kanker.

 

Mitos #7: Penderita kanker tidak boleh mengonsumsi gula karena mempercepat pertumbuhan kanker.

Fakta: Semua jenis sel, termasuk sel kanker, membutuhkan gula darah—atau glukosa—sebagai sumber energi. Namun, mengonsumsi lebih banyak gula tidak membuat sel kanker tumbuh lebih cepat, sementara menghentikan konsumsi gula juga tidak membuat kanker tumbuh lebih lambat atau menghilang.

Meski demikian, konsumsi gula berlebihan dapat menyebabkan kenaikan berat badan, obesitas, dan diabetes, yang diketahui meningkatkan risiko beberapa jenis kanker. Karena itu, pembatasan gula tetap dianjurkan demi kesehatan secara umum.

[ Hari Kanker Sedunia 2025—2027: Saat Kanker Datang, Apa yang Dibutuhkan Pasien? ]

 

Sahabat Lansia, banyak mitos tentang kanker beredar luas dan terdengar meyakinkan, padahal tidak didukung bukti ilmiah. Memahami fakta yang benar dapat membantu mengurangi kecemasan, mengambil keputusan kesehatan yang lebih baik, serta fokus pada langkah pencegahan yang terbukti bermanfaat. (*)

 

Sumber:
* Mayo Clinic
* National Cancer Institute

Foto:
Freepik

 

 

Sahabat Lansia, dunialansia.com bukan merupakan praktik konsultasi medis, diagnosis, ataupun pengobatan. Informasi di situs web ini tidak boleh digunakan sebagai pengganti konsultasi atau saran medis profesional. Bila Sahabat Lansia memiliki masalah kesehatan atau penyakit tertentu atau kebutuhan medis yang spesifik, konsultasikan dengan tenaga medis atau tenaga kesehatan profesional.
Yuk, berbagi artikel ini agar manfaatnya dirasakan oleh banyak orang.