Saat Tubuh Berbicara: 10 Tanda Diabetes yang Perlu Dipahami Lansia

Saat Tubuh Berbicara: 10 Tanda Diabetes yang Perlu Dipahami Lansia

Diabetes sering berkembang tanpa gejala yang jelas. Pada lansia, sinyal tubuh kerap terasa seperti keluhan ringan yang mudah diabaikan. Memahami tanda-tanda kecil ini membantu deteksi dini dan mencegah komplikasi.

Dunialansia.com – Sahabat Lansia, diabetes menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat paling mengkhawatirkan karena berkontribusi besar terhadap tingginya angka kematian dan menurunnya harapan hidup.

Melansir BMC Geriatrics, prevalensi diabetes pada kelompok usia 65 tahun ke atas diperkirakan mencapai 19,3% atau sekitar 135,6 juta. Jumlah ini bisa terus meningkat dalam dua dekade mendatang hingga mencapai 19,6% atau 276,2 juta pada tahun 2045. Saat ini, International Diabetes Federation (IDF) mencatat, satu dari lima penyandang diabetes berusia di atas 65 tahun.

Tanda dan gejala diabetes bisa muncul berbeda pada setiap orang. Ada yang hanya mengalami keluhan ringan hingga tidak menyadarinya, sementara lainnya menunjukkan perubahan yang lebih jelas. Berikut 10 tanda peringatan yang penting diperhatikan oleh lansia, menurut National Council on Aging (NCOA).

1. Rasa haus meningkat dan sering buang air kecil.

Kadar gula darah tinggi membuat ginjal bekerja keras mengeluarkan glukosa berlebih melalui urine, sehingga tubuh menarik lebih banyak cairan. Akibatnya, seseorang merasa lebih haus dari biasanya (polidipsia) yang menyebabkan minum lebih banyak cairan dan buar air kecil lebih sering (poliuria).

2. Kelelahan yang ekstrem.

Tubuh kesulitan mengubah glukosa menjadi energi saat gula darah tinggi, sehingga mudah merasa lelah. Dehidrasi akibat diabetes juga bisa menyebabkan rasa lelah yang sangat.

3. Luka yang lambat sembuh.

Aliran darah yang terganggu akibat tingginya gula darah membuat luka kecil sekalipun membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih. Selain itu, perempuan dapat mengalami infeksi kandung kemih dan infeksi jamur vagina yang lebih sering.

4. Pusing dan/atau pingsan.

Penderita diabetes dapat mengalami episode gula darah rendah (hipoglikemia) yang menyebabkan lemas, pusing, gemetar, kebingungan, dan bahkan pingsan.

5. Sakit kepala.

Otak kita membutuhkan pasokan glukosa yang konsisten agar berfungsi dengan baik. Turun-naiknya kadar gula darah bisa memengaruhi pasokan tersebut, sehingga  memunculkan sakit kepala.

6. Sensasi kesemutan di tangan dan kaki.

Sekitar setengah dari penderita diabetes mengalami kerusakan saraf, terutama yang telah menderita diabetes selama bertahun-tahun. Istilah medisnya, neuropati perifer—menyebabkan kesemutan, mati rasa, lemas, atau bahkan nyeri di tangan dan kaki.

7. Penglihatan kabur.

Kadar glukosa darah yang tinggi dapat menarik cairan keluar dari lensa mata, sehingga menyulitkan mata untuk fokus dan akhirnya penglihatan menjadi kabur.

8. Masalah gusi.

Gula darah tinggi dapat melemahkan kemampuan tubuh untuk melawan infeksi, termasuk pada gusi dan tulang penyangga gigi. Gusi tampak merah, bengkak, nyeri, atau bernanah dan gigi pun bisa goyang.

9. Nafsu makan meningkat.

Pernahkah merasakan peningkatan nafsu makan yang tidak biasa, terutama saat mengonsumsi makanan manis? Kondisi ini disebut polifagia, terjadi ketika sel tidak mendapatkan cukup glukosa sehingga tubuh merespons dengan rasa lapar yang meningkat, bahkan setelah makan besar.

10. Mulut kering.

Kondisi ini disebut xerostomia. Kadar gula darah yang tinggi dapat mengurangi produksi air liur, hingga mulut terasa kering dan tidak nyaman. Gejala ini dapat muncul dan hilang seiring dengan fluktuasi gula darah.

 

Sahabat Lansia, mengenali tanda-tanda ini sangat penting. Jika mengalami salah satu gejala tersebut, segera konsultasikan dengan dokter. Deteksi dini diabetes dapat membantu mencegah komplikasi serius di kemudian hari. (*)

Foto:
Freepik

 

 

Sahabat Lansia, dunialansia.com bukan merupakan praktik konsultasi medis, diagnosis, ataupun pengobatan. Informasi di situs web ini tidak boleh digunakan sebagai pengganti konsultasi atau saran medis profesional. Bila Sahabat Lansia memiliki masalah kesehatan atau penyakit tertentu atau kebutuhan medis yang spesifik, konsultasikan dengan tenaga medis atau tenaga kesehatan profesional.
Yuk, berbagi artikel ini agar manfaatnya dirasakan oleh banyak orang.