Studi: Vaksin Herpes Zoster Dapat Menurunkan Risiko Demensia

Studi: Vaksin Herpes Zoster Dapat Menurunkan Risiko Demensia

Studi terbaru menunjukkan vaksin herpes zoster dapat menurunkan risiko demensia hingga 20% pada lansia. Temuan ini memberikan harapan baru untuk pencegahan demensia di usia lanjut.

Dunialansia.com – Sahabat Lansia, siapa sangka vaksin herpes zoster dapat mengurangi risiko demensia pada lansia?

Demensia memengaruhi lebih dari 55 juta orang di seluruh dunia, dengan sekitar 10 juta kasus baru setiap tahun.

Herpes zoster disebabkan oleh virus varicella-zoster—virus yang sama dengan penyebab cacar air. Infeksi ini menimbulkan ruam yang menyakitkan.

Setelah terinfeksi cacar air—biasanya di masa kanak-kanak—virus tetap dorman di dalam sel saraf seumur hidup. Namun, virus ini dapat aktif kembali dan memicu herpes zoster pada lansia atau individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Studi yang dipimpin Stanford Medicine menemukan, lansia di Wales yang menerima vaksin herpes zoster memiliki kemungkinan 20% lebih rendah mengalami demensia dalam tujuh tahun berikutnya dibandingkan mereka yang tidak divaksin.

Temuan yang diterbitkan pada 2 April di Nature (2/4/2025) ini mendukung teori bahwa virus yang memengaruhi sistem saraf dapat meningkatkan risiko demensia.

 

Eksperimen Alamiah dari Program Vaksinasi Wales

Penelitian sebelumnya fokus pada akumulasi plak dan jaringan kusut di otak penderita Alzheimer. Karena belum ada terobosan dalam pencegahan atau pengobatan, beberapa peneliti mengeksplorasi peran infeksi virus tertentu.

Studi-studi sebelumnya yang menggunakan rekam medis sempat mengaitkan vaksin herpes zoster dengan tingkat demensia lebih rendah. Namun, semua studi itu menghadapi masalah bias: orang yang divaksinasi cenderung lebih sadar kesehatan, sehingga dianggap belum cukup kuat untuk dijadikan rekomendasi.

Dua tahun lalu, para peneliti menemukan “eksperimen alami” dalam peluncuran vaksin herpes zoster di Wales yang memungkinkan mereka meminimalkan bias tersebut.

Program vaksinasi dimulai 1 September 2013 dan memberikan hak vaksin bagi lansia 79 tahun selama satu tahun. Mereka yang berusia 78 mendapat vaksin tahun berikutnya, sedangkan lansia 80 tahun atau lebih tidak berhak.

Analisis mencakup lebih dari 280.000 lansia berusia 71–88 yang tidak menderita demensia saat program vaksinasi dimulai.

 

Efektivitas Vaksin dan Penurunan Risiko Demensia

Selama tujuh tahun, para peneliti membandingkan hasil kesehatan antara individu yang memenuhi syarat dan tidak untuk menerima vaksin. Hasilnya, vaksin mengurangi kejadian herpes zoster sekitar 37%, sejalan dengan temuan uji klinis sebelumnya, dan menurunkan kemungkinan demensia hingga 20%.

Menariknya, perlindungan terhadap demensia lebih nyata pada perempuan dibandingkan laki-laki. Hal ini mungkin berkaitan dengan perbedaan jenis kelamin dalam respons imun atau perbedaan dalam cara demensia berkembang.

Namun, mekanisme pasti bagaimana vaksin melindungi terhadap demensia—apakah melalui peningkatan kekebalan secara keseluruhan, pengurangan reaktivasi virus, atau jalur lain—masih belum diketahui.

Yang juga belum diketahui, apakah vaksin versi terbaru—hanya mengandung protein tertentu dari virus dan lebih efektif dalam mencegah herpes zoster—dapat memberi dampak serupa atau bahkan lebih besar pada demensia.

Sahabat Lansia, temuan ini menunjukkan vaksinasi bukan hanya melindungi dari penyakit infeksi, tetapi juga bisa memberikan manfaat tambahan bagi fungsi otak.

Dengan semakin banyak bukti ilmiah seperti ini, kita semakin menyadari bahwa langkah-langkah pencegahan sederhana—termasuk vaksinasi—dapat menjadi investasi penting untuk masa tua yang lebih sehat, aktif, berdaya ingat tajam, serta bahagia. (*)

Sumber:
Stanford Medicine

Foto:
Freepik

 

 

Sahabat Lansia, dunialansia.com bukan merupakan praktik konsultasi medis, diagnosis, ataupun pengobatan. Informasi di situs web ini tidak boleh digunakan sebagai pengganti konsultasi atau saran medis profesional. Bila Sahabat Lansia memiliki masalah kesehatan atau penyakit tertentu atau kebutuhan medis yang spesifik, konsultasikan dengan tenaga medis atau tenaga kesehatan profesional.
Yuk, berbagi artikel ini agar manfaatnya dirasakan oleh banyak orang.