Osteoartritis (OA) adalah bentuk artritis paling umum yang menyebabkan nyeri, peradangan, dan kekakuan sendi. Kondisi ini lebih sering dialami perempuan, terutama setelah usia 50, akibat kombinasi multifaktor, seperti pengaruh usia, hormon, anatomi tubuh, juga berat badan.
Dunialansia.com – Sahabat Lansia, osteoartritis (OA) adalah bentuk artritis paling umum yang menyebabkan nyeri sendi, peradangan, dan kekakuan. Gejalanya biasanya mulai muncul setelah usia 50 dan lebih sering dialami perempuan.
Penelitian menunjukkan, perempuan jauh lebih mungkin terkena OA seiring bertambahnya usia. Perempuan di atas 65 tahun hampir dua kali lebih mungkin menderita OA dibandingkan laki-laki.
Sebuah meta-analisis tahun 2005 juga menemukan perbedaan lokasi OA antara perempuan dan laki-laki.
Kejadian OA tangan dan lutut serta insiden OA pinggul lebih tinggi pada perempuan. Sementara itu, laki-laki di bawah 55 tahun berisiko lebih tinggi mengalami OA tulang belakang leher.
Sebagai contoh, OA lutut dialami sekitar 10% perempuan usia 40—49 tahun, sementara pria hanya 7%. Prevalensinya meningkat menjadi 35% perempuan dan 19% laki-laki di usia 60—69.
MENGAPA RISIKO PEREMPUAN LEBIH TINGGI?
Menurut ahli, penyebab pastinya belum sepenuhnya jelas. Namun, ada beberapa faktor yang berperan, di antaranya:
# Harapan Hidup
Perempuan umumnya hidup lebih lama daripada laki-laki. Karena risiko OA meningkat seiring bertambahnya usia, maka semakin panjang usia perempuan, semakin besar kemungkinan mengalami OA.
# Genetika
Riwayat artritis dalam keluarga dapat meningkatkan risiko seseorang terkena artritis. Jika ibunya menderita artritis, anak perempuan lebih berisiko mengalaminya pada sendi dan usia yang sama. Risiko juga lebih tinggi jika memiliki saudara perempuan dengan OA.
# Hormon
Estrogen (hormon seks perempuan) berubah selama masa menstruasi dan menopause. Estrogen berperan mengendalikan peradangan.
Setelah menopause, kadar estrogen menurun drastis sehingga risiko artritis meningkat.
Ada bukti bahwa hormon berperan dalam perbedaan tingkat OA antara perempuan dan laki-laki. Perbedaan dalam volume tulang rawan lutut ditemukan lebih besar setelah usia 50, menunjukkan kemungkinan keterlibatan hormon.
Selain itu, perbedaan prevalensi OA lutut dan tangan setelah usia 55 semakin menegaskan peran menopause dalam perkembangan OA.
# Kelebihan Berat Badan
Kelebihan berat badan atau obesitas merupakan salah satu faktor risiko OA paling signifikan, baik pada perempuan maupun laki-laki. Setiap satu gram berat badan memberikan tekanan tiga kali lipat pada setiap sendi lutut.
Selain itu, persentase lemak tubuh yang lebih tinggi juga dapat meningkatkan peradangan yang mempercepat proses kerusakan sendi.
# Anatomi Tubuh
Bentuk sendi dan kekuatan otot memengaruhi risiko OA. Perempuan memiliki pinggul yang lebih lebar daripada laki-laki, sehingga tekanan pada lutut lebih besar.
Sebuah studi menemukan permukaan tulang lutut perempuan tidak bergerak sebaik pria, sehingga dapat memberi tekanan lebih besar pada sendi yang dapat mempercepat keausan.
Selain itu, pria umumnya memiliki otot lebih kuat yang membantu melindungi sendi dari cedera.
# Cedera Sendi
Cedera sendi, terutama pada anterior cruciate ligament (ACL), merupakan faktor risiko signifikan OA.
Perempuan memiliki kelenturan sendi yang berubah seiring dengan fluktuasi hormon normal, sedangkan pria tidak.
Para peneliti menemukan perempuan atlet dengan cedera ACL memiliki risiko 4—6 kali lebih tinggi mengalami OA lutut.
Bahkan, lebih dari separuh perempuan pemain sepak bola dengan cedera ACL menunjukkan tanda-tanda OA dalam 12 tahun berikutnya.

Sahabat Lansia, perempuan memang lebih berisiko mengalami OA. Penyebabnya bersifat multifaktorial. Meskipun beberapa faktor tidak dapat diubah, masih ada beberapa cara untuk mengurangi risiko terkena osteoartritis. Nantikan artikel berikutnya. (*)
Sumber:
* Arthritis New Zealand
* Hospital for Special Surgery
* Medanta Hospital
Foto:
Freepik

Dibangun oleh sejumlah orang muda dan calon lansia. Melalui dunialansia.com, kami mengajak seluruh orang muda untuk peduli lansia, sekaligus mempersiapkan diri menjadi lansia yang SMART (Sehat, Mandiri, Aktif, Rajin, Taat).




