KATARAK TERKAIT USIA: Penyebab Kebutaan Paling Umum pada Lansia

KATARAK TERKAIT USIA: Penyebab Kebutaan Paling Umum pada Lansia

Penglihatan mulai buram seiring bertambahnya usia? Bisa jadi itu tanda katarak terkait usia—penyakit mata yang juga menjadi penyebab kebutaan paling umum pada lansia. Kabar baiknya, katarak dapat diatasi. Segera periksakan mata jika mulai merasakan perubahan pada penglihatan.

Dunialansia.com – Sahabat Lansia, tentu tak asing lagi dengan katarak. Ini penyakit mata paling umum dan penyebab kebutaan nomor satu di seluruh dunia.

Kita umumnya mengenal katarak sebagai penyakit mata pada usia lanjut. Hal ini memang benar, karena sebagian besar katarak berkaitan proses penuaan alami pada lensa mata.

Namun, katarak juga dapat terjadi pada usia lebih muda, bahkan bayi baru lahir—disebut katarak kongenital.

Katarak adalah bercak putih keruh (kadang-kadang berwarna kuning atau kecokelatan) yang terbentuk pada lensa mata, bagian bening mata yang berfungsi memfokuskan cahaya.

Katarak terkait usia terjadi karena protein di lensa mata rusak dan menggumpal seiring pertambahan usia. Gumpalan ini membentuk area keruh pada lensa yang, seiring waktu, semakin parah dan membuat lensa semakin keruh.

Hampir 1 dari 5 orang berusia 65—74 memiliki katarak yang memengaruhi penglihatan mereka.

 

FAKTOR RISIKO KATARAK

Katarak terkait usia adalah jenis katarak paling umum. Risiko mengalaminya meningkat seiring pertambahan usia, terutama jika seseorang:

  • Merokok
  • Mengonsumsi alkohol berlebihan.
  • Memiliki riwayat katarak dalam keluarga. 
  • Menderita diabetes, tekanan darah tinggi, atau penyakit jantung.
  • Sering terpapar sinar matahari langsung tanpa pelindung.
  • Pernah mengalami cedera atau operasi mata, atau menjalani perawatan radiasi di tubuh bagian atas.
  • Mengonsumsi steroid jangka panjang—obat yang digunakan untuk mengobati beberapa masalah kesehatan, seperti radang sendi atau alergi.

 

KENALI PERUBAHAN PADA PENGLIHATAN

Katarak terkait usia berkembang perlahan dan tanpa rasa sakit. Pada tahap awal, gejalanya sering kali tidak terasa.

Namun, seiring perkembangannya, dapat terjadi perubahan pada penglihatan, seperti:

  • Penglihatan kabur atau berawan.
  • Warna tampak pudar.
  • Sulit melihat di malam hari.
  • Cahaya tampak terlalu terang atau menyilaukan.
  • Muncul lingkaran cahaya di sekitar sumber cahaya.
  • Penglihatan ganda (kadang hilang saat katarak membesar).
  • Sering mengganti resep kacamata atau lensa kontak.

Sebaiknya periksakan mata jika mengalami gejala-gejala tersebut.

 

PEMERIKSAAN & PENANGANAN KATARAK

Dokter mata dapat memeriksa katarak melalui pemeriksaan mata dengan dilatasi. Prosedur ini sederhana dan tidak menimbulkan rasa sakit.

Dokter akan memberikan beberapa tetes obat untuk melebarkan pupil, lalu memeriksa kondisi lensa mata—untuk memeriksa katarak dan masalah mata lainnya.

Seiring waktu, katarak dapat menyebabkan hilangnya penglihatan. Kabar baiknya, operasi katarak aman dan efektif.

Pada usia 80, sebagian besar orang menderita katarak atau telah menjalani operasi katarak.

 

PENTINGNYA DETEKSI DINI

Perubahan pada penglihatan akibat katarak juga bisa menandakan adanya masalah mata lain, glaukoma atau degenerasi makula.

Karena itu, pemeriksaan mata rutin sangat penting untuk diagnosis yang akurat dan penanganan yang tepat.

  • Usia ≥40 tahun: Lakukan pemeriksaan mata komprehensif dengan dilatasi secara berkala.
  • Usia ≥60 tahun: Disarankan menjalani pemeriksaan mata setiap 1–2 tahun.

Menjaga gaya hidup sehat—seperti tidak merokok, mengonsumsi makanan kaya antioksidan, dan melindungi mata dari sinar UV—dapat membantu memperlambat perkembangan katarak terkait usia. (*)

Tiga Jenis Utama Katarak Terkait Usia

 

Sumber:
NCOA
NEI

Foto:
Freepik

 

 

Sahabat Lansia, dunialansia.com bukan merupakan praktik konsultasi medis, diagnosis, ataupun pengobatan. Informasi di situs web ini tidak boleh digunakan sebagai pengganti konsultasi atau saran medis profesional. Bila Sahabat Lansia memiliki masalah kesehatan atau penyakit tertentu atau kebutuhan medis yang spesifik, konsultasikan dengan tenaga medis atau tenaga kesehatan profesional.

 

 

Yuk, berbagi artikel ini agar manfaatnya dirasakan oleh banyak orang.