STRES KRONIS: “Faktor Tersembunyi” di Balik RISIKO DEMENSIA

STRES KRONIS: “Faktor Tersembunyi” di Balik RISIKO DEMENSIA

Stres yang berlangsung lama ternyata bisa diam-diam merusak kesehatan otak. Meskipun banyak perhatian diarahkan pada cara mencegah penurunan daya pikir seiring bertambahnya usia, ternyata stres kronis justru menjadi faktor penting yang sering luput dibahas.

Dunialansia.com – Sahabat Lansia, saat ini banyak perhatian diarahkan pada cara mencegah penurunan daya pikir seiring bertambahnya usia. Namun, yang sering luput dari pembahasan adalah peran stres berkepanjangan dalam memengaruhi kesehatan otak dan meningkatkan risiko demensia.

Para profesor dari Penn State di Center for Healthy Aging yang ahli di bidang psikologi kesehatan dan neuropsikologi, mempelajari hubungan antara stres kronis dengan risiko demensia dan bagaimana hal itu memengaruhi kemampuan untuk tetap sehat seiring bertambahnya usia.

Dalam sebuah tinjauan ilmiah baru-baru ini, para peneliti menyimpulkan stres kronis merupakan “faktor tersembunyi” di balik penurunan fungsi otak seiring bertambahnya usia. Artinya, kemampuan berpikir, mengingat, dan berkonsentrasi bisa lebih cepat menurun jika stres tidak ditangani dengan baik.

 

DAMPAK STRES PADA OTAK TAK BISA DIREMEHKAN

Bagi sebagian orang, stres bisa terasa lebih berat, lebih sering, dan terus-menerus atau berkepanjangan. Stres kronis inilah yang paling konsisten dikaitkan dengan penurunan kesehatan—termasuk kesehatan otak.

Dampak stres pada otak tidak bisa diremehkan. Hal ini karena reaksi pikiran, tubuh, dan perilaku terhadap stres saling berkaitan erat, bahkan bisa saling memperburuk.

Sebagai contoh, hidup sendirian bisa menjadi sumber stres, terutama bagi lansia. Rasa kesepian dan isolasi sosial membuat seseorang lebih sulit menjalani gaya hidup sehat, serta lebih lambat mengenali tanda-tanda penurunan daya pikir dan mencari pertolongan.

Selain itu, stres dapat mengganggu kualitas tidur, mengurangi semangat untuk berolahraga, dan memengaruhi pola makan. Sebaliknya, kurang tidur dan kurang gerak dapat membuat kita lebih sulit mengatasi stres.

 

STRES SERING KALI DIABAIKAN DALAM UPAYA MENCEGAH DEMENSIA

Sejumlah penelitian menunjukkan, setidaknya ada 14 faktor yang berhubungan dengan risiko Alzheimer—jenis demensia paling umum—maupun bentuk demensia lainnya.

Beberapa faktor memang berada di luar kendali kita, seperti diabetes atau depresi. Namun, banyak juga faktor yang bisa kita kelola, seperti aktivitas fisik, makan sehat, dan keterlibatan sosial.

Yang sering tidak disadari adalah stres kronis sangat berkaitan erat dengan semua faktor yang berhubungan dengan risiko demensia.

Dalam kajian ilmiah terbaru, para peneliti—termasuk tim dari Penn State—menunjukkan, stres kronis dapat memengaruhi fungsi dan struktur otak, suasana hati, dan membuat kita kesulitan menjalani kebiasaan hidup sehat.

Sayangnya, dalam banyak program pencegahan demensia, faktor stres justru jarang dibahas.

Padahal, seiring waktu, dampak stres bisa menumpuk—melemahkan sistem tubuh, memengaruhi cara kita berpikir dan merasa, serta mengganggu hubungan sosial dengan orang lain.

Sahabat Lansia, memahami peran stres adalah langkah awal yang penting dalam menjaga kesehatan otak. Pada artikel berikutnya, kita akan bahas tentang mengelola stres untuk mendukung penuaan yang sehat. (*)

 

Menua dengan Sehat, Begini Kata Pakar )

 

Sumber:
The Conversation (28/5/2025)

Foto:
Freepik

 

 

Sahabat Lansia, dunialansia.com bukan merupakan praktik konsultasi medis, diagnosis, ataupun pengobatan. Informasi di situs web ini tidak boleh digunakan sebagai pengganti konsultasi atau saran medis profesional. Bila Sahabat Lansia memiliki masalah kesehatan atau penyakit tertentu atau kebutuhan medis yang spesifik, konsultasikan dengan tenaga medis atau tenaga kesehatan profesional.
Yuk, berbagi artikel ini agar manfaatnya dirasakan oleh banyak orang.