Stres merupakan bagian dari hidup, semua orang pernah mengalaminya. Meskipun wajar, stres yang dibiarkan terus-menerus bisa berdampak buruk bagi tubuh dan pikiran, bahkan meningkatkan risiko demensia. Kabar baiknya, stres bisa dikelola.
Dunialansia.com – Sahabat Lansia, penelitian menunjukkan, stres kronis bisa mempercepat penurunan daya pikir dan meningkatkan risiko demensia. Mengelola stres dapat membantu kita menua dengan sehat dan mengurangi risiko demensia.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan stres sebagai reaksi mental terhadap situasi yang menantang. Ini respons alami manusia ketika menghadapi situasi yang sulit atau mengancam.
Stres merupakan bagian dari hidup—semua orang pernah mengalaminya. Namun, ketika stres berlangsung terus-menerus, dampaknya bisa serius, terutama bagi kita yang sudah memasuki usia lanjut.
Stres kronis, yaitu stres yang berlangsung dalam waktu lama, bisa berdampak buruk bagi kesehatan seiring bertambahnya usia—termasuk radang sendi, diabetes, kanker, dan meningkatnya risiko demensia.
Stres kronis juga dapat mengurangi efektivitas vaksin tertentu pada lansia, seperti vaksin flu dan pneumonia. Bahkan, stres sebenarnya juga mempercepat proses penuaan.
Beberapa faktor yang umum memicu stres pada lansia:
- Penyakit kronis
- Tanggung jawab merawat pasangan, anak, dan cucu.
- Kehilangan orang tercinta.
- Rasa kesepian atau kebosanan.
- Kekhawatiran finansial.
- Perubahan besar dalam hidup, seperti pensiun atau pindah rumah.
MENGENALI TANDA-TANDA STRES
Stres dan peradangan dalam tubuh saling memengaruhi satu sama lain.
Saat seseorang mengalami stres, tubuh cenderung menghasilkan lebih banyak peradangan. Sebaliknya, peradangan yang menetap juga bisa meningkatkan stres.
Lingkaran ini dapat berujung pada berbagai gangguan kesehatan, baik fisik maupun mental.
Mengenali tanda-tanda stres secara emosional dan fisik dapat menjadi langkah awal yang penting untuk menjaga kesehatan.
Berikut beberapa tanda stres yang sering muncul pada lansia:
- Sakit kepala.
- Masalah pencernaan.
- Mudah marah.
- Jantung berdebar-debar.
- Gangguan tidur.
- Sulit berkonsentrasi.
- Menangis tanpa alasan yang jelas.
- Menarik diri dari lingkungan sosial.
Setiap orang bisa menunjukkan gejala berbeda—ada yang mengalami banyak gejala sekaligus, ada pula yang hanya satu-dua. Yang penting, jika suasana hati dan kebiasaan sehari-hari mulai berubah, jangan abaikan. Itu bisa jadi sinyal dari tubuh bahwa kita sedang mengalami stres.
STRES BISA DIKELOLA
Sahabat Lansia, stres memang tidak bisa dihindari sepenuhnya. Namun, kita bisa belajar mengelolanya agar tidak merusak kualitas hidup di usia lanjut.
Dengan pengelolaan stres yang tepat, kita bisa menjaga kesehatan otak, memperlambat proses penuaan, dan menurunkan risiko demensia.
Pada artikel berikutnya, kita akan membahas cara-cara praktis dan menyenangkan untuk mengelola stres. Tetap semangat dan jaga pikiran tetap sehat, ya. (*)
Sumber:
NCOA (5/5/2025)
Verywell Mind (20/4/2022)
Foto:
Freepik

Dibangun oleh sejumlah orang muda dan calon lansia. Melalui dunialansia.com, kami mengajak seluruh orang muda untuk peduli lansia, sekaligus mempersiapkan diri menjadi lansia yang SMART (Sehat, Mandiri, Aktif, Rajin, Taat).




