Dehidrasi pada lansia kerap luput dikenali karena gejalanya muncul secara perlahan dan tidak khas. Keluhannya sering menyerupai kondisi lain yang umum terjadi pada usia lanjut, seperti kelelahan, perubahan suasana hati, atau gangguan daya ingat.
Dunialansia.com – Sahabat Lansia, dehidrasi pada lansia sering kali sulit dikenali karena gejalanya muncul secara samar, berbeda dari orang yang lebih muda. Keluhannya kerap mirip dengan kondisi lain yang juga umum pada usia lanjut, seperti penurunan daya ingat, suasana hati yang murung, atau sekadar rasa lelah biasa.
Tak heran jika anggota keluarga atau caregiver sering menganggap kondisi ini sebagai bagian normal dari proses penuaan. Akibatnya, tanda-tanda awal dehidrasi terabaikan dan peluang untuk mencegah komplikasi pun terlewat.
Lansia Lebih Rentan Mengalami Dehidrasi
Seiring bertambahnya usia, tubuh mengalami perubahan fisiologis yang membuat lansia lebih mudah kekurangan cairan. Antara usia 50 hingga 80 tahun, total kandungan air tubuh menurun sekitar 10%. Artinya, cadangan cairan pada lansia memang sudah lebih sedikit dibandingkan orang yang lebih muda.
Selain itu, fungsi ginjal juga menurun. Ginjal menjadi kurang efisien dalam mempertahankan air di tubuh sehingga cairan lebih mudah terbuang melalui urine. Kondisi ini meningkatkan risiko dehidrasi, jika asupan cairan tidak mencukupi.
Faktor penting lainnya adalah menurunnya rasa haus. Pada usia lanjut, mekanisme tubuh yang memberi sinyal haus tidak lagi sepeka sebelumnya. Penelitian menunjukkan lansia yang tidak minum selama 24 jam tidak merasakan haus sekuat orang yang lebih muda. Artinya, saat lansia akhirnya merasa haus, dehidrasi ringan sebenarnya sudah terjadi lebih dulu.
Selain faktor penuaan alami, banyak lansia juga mengonsumsi obat-obatan tertentu yang dapat mempercepat kehilangan cairan tubuh. Obat diuretik untuk tekanan darah tinggi serta beberapa obat diabetes dapat meningkatkan produksi urine, sehingga cairan tubuh lebih cepat keluar. Digabung dengan rasa haus yang melemah, lansia dapat kehilangan banyak cairan tanpa menyadari tubuhnya membutuhkan asupan air tambahan.
Perubahan Fisik yang Menandakan Dehidrasi
Tanda fisik awal sering terlewat karena munculnya secara perlahan dan tidak mencolok. Mulut dan bibir yang terasa kering kerap dianggap sepele. Kulit yang kehilangan elastisitas—ditandai dengan kulit yang kembali lebih lambat saat dicubit—juga sering tidak disadari.
Gejala lain yang dapat muncul, di antaranya adalah kram otot (terutama di kaki), sakit kepala yang semakin terasa sepanjang hari, berkurangnya keringat meski cuaca panas, mata yang tampak cekung, serta rasa lemas yang tidak biasa.
Sementara itu, warna urine merupakan indikator sederhana yang penting. Urine berwarna kuning tua, amber, atau menyerupai madu menandakan tubuh kekurangan cairan. Idealnya, urine berwarna kuning pucat. Frekuensi buang air kecil juga perlu diperhatikan. Pada lansia sehat, frekuensinya sekitar 4—6 kali sehari; penurunan frekuensi perlu mendapatkan perhatian.
Sembelit juga sering menyertai dehidrasi. Sistem pencernaan membutuhkan cairan yang cukup agar dapat bekerja dengan baik. Jika sembelit hanya ditangani dengan menambahkan asupan serat tanpa memperbaiki asupan cairan, masalah utamanya tetap tidak terselesaikan.
Tanda Peringatan Perilaku dan Emosi
Dehidrasi tidak hanya memengaruhi kondisi fisik, tetapi juga suasana hati dan perilaku. Lansia yang kekurangan cairan dapat menjadi lebih mudah marah, gelisah, emosinya cepat berubah dan lebih sensitif.
Sebagian lansia juga menarik diri dari lingkungan sekitar serta kehilangan minat terhadap aktivitas yang biasanya mereka sukai. Tidur berlebihan atau lelah terus-menerus tanpa sebab yang jelas, meskipun cukup beristirahat, juga sering muncul.
Sayangnya, tanda-tanda ini kerap disalahartikan sebagai perubahan kepribadian atau gejala depresi, bukan sebagai masalah fisik akibat kekurangan cairan.
Kebingungan Berbahaya antara Dehidrasi dan Demensia
Dehidrasi dapat menimbulkan gangguan kognitif yang menyerupai demensia, seperti kebingungan ringan, disorientasi, sulit berkonsentrasi, dan mudah lupa. Pada sebagian lansia, kondisi ini sering muncul di waktu sore atau malam ketika kehilangan cairan sepanjang hari telah menumpuk.
Saat tubuh kekurangan cairan, aliran darah ke otak berkurang dan pasokan oksigen ke jaringan saraf menurun. Hal ini dapat memicu delirium, yaitu kebingungan akut dan disorientasi yang berbeda dari demensia. Sayangnya, kondisi ini sering disalahartikan sebagai tanda perkembangan penyakit demensia.
Sahabat Lansia, dehidrasi pada lansia bukan sekadar kurang minum, melainkan kondisi yang dapat memengaruhi fisik, emosi, dan fungsi otak secara perlahan.
Karena gejalanya sering menyerupai proses penuaan atau penyakit lain, dehidrasi kerap luput dikenali.
Kesadaran akan tanda-tanda halus ini menjadi langkah awal yang sangat penting untuk mencegah dampak yang lebih serius dan menjaga kualitas hidup lansia. (*)
[ Mencegah Dehidrasi pada Lansia: Langkah Sederhana yang Berdampak Besar ]
Sumber:
Medical Daily
Foto:
Freepik

Dibangun oleh sejumlah orang muda dan calon lansia. Melalui dunialansia.com, kami mengajak seluruh orang muda untuk peduli lansia, sekaligus mempersiapkan diri menjadi lansia yang SMART (Sehat, Mandiri, Aktif, Rajin, Taat).




