Tanda-tanda Mulai Rapuh: Ketika Tubuh Tak Lagi Sekuat Dulu

Tanda-tanda Mulai Rapuh: Ketika Tubuh Tak Lagi Sekuat Dulu

Seiring bertambahnya usia, tubuh memang mengalami banyak perubahan. Namun, ada kalanya perubahan tersebut bukan sekadar bagian dari penuaan normal, melainkan sinyal bahwa tubuh mulai kehilangan ketahanannya. Kondisi ini dikenal sebagai kerapuhan atau frailty.

Dunialansia.com – Sahabat Lansia, apakah kamu merasa tubuh lebih lemah, bergerak semakin lambat, atau cepat lelah dibandingkan sebelumnya? Bisa jadi itu bukan hanya soal usia, melainkan tanda awal kerapuhan.

Kerapuhan (frailty) terjadi ketika tubuh secara keseluruhan kurang mampu menghadapi stres, penyakit, atau cedera, serta lebih lambat pulih.

Kabar baiknya, tanda-tanda kerapuhan bisa dikenali sejak dini, sehingga masih ada kesempatan untuk mengambil langkah agar tubuh tetap kuat dan mandiri lebih lama.

 

1. Mudah lelah dan kehabisan energi.

Merasa lelah meski sudah tidur cukup? Kelelahan yang berlangsung terus-menerus hingga mengganggu aktivitas sehari-hari merupakan tanda penting kerapuhan.

Kamu mungkin cepat merasa “habis tenaga” saat melakukan kegiatan yang dulu justru terasa menyenangkan, atau membutuhkan waktu istirahat jauh lebih lama dari biasanya.

 

2. Berat badan turun tanpa alasan yang jelas.

Penurunan berat badan tanpa diet—sekitar 4–5 kg atau lebih dalam setahun—perlu diwaspadai. Yang berkurang sering kali bukan hanya lemak, tetapi juga massa otot.

Penyebabnya bisa beragam, dari nafsu makan menurun, masalah gigi, hingga efek samping obat. Jika berat badan turun tanpa sebab jelas, sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter.

 

3. Tubuh terasa lebih lemah dari sebelumnya.

Mulai kesulitan membuka stoples, membawa belanjaan, atau bangkit dari kursi? Kelemahan otot sering menjadi tanda awal kerapuhan. Aktivitas yang dulu terasa ringan, kini membutuhkan usaha ekstra.

Kondisi ini terjadi karena otot perlahan kehilangan kekuatan dan massa. Meski begitu, dengan latihan dan pola hidup yang tepat, kondisi ini masih bisa dicegah dan diperbaiki.

 

4. Kecepatan berjalan melambat.

Berjalan lebih lambat dari biasanya adalah salah satu tanda kerapuhan yang cukup jelas.

Jika kamu membutuhkan waktu lebih lama untuk menyeberang jalan, mengikuti langkah orang lain, atau berjalan mengelilingi lingkungan sekitar, kondisi ini patut diperhatikan.

Kecepatan berjalan yang menurun sering berkaitan dengan kelemahan otot dan gangguan keseimbangan, yang akhirnya meningkatkan risiko jatuh.

 

5. Aktivitas fisik semakin berkurang.

Mulai menghindari kegiatan fisik yang dulu kamu sukai?

Aktivitas fisik yang rendah bisa menjadi penyebab sekaligus gejala kerapuhan. Misalnya, memilih tidak naik tangga, jarang berjalan kaki, atau berhenti melakukan hobi yang membutuhkan gerak.

Jika dibiarkan, kurang gerak akan mempercepat kelemahan tubuh.

 

6. Masalah keseimbangan semakin sering.

Sering merasa goyah, perlu berpegangan pada dinding atau perabot, atau takut terpeleset?

Gangguan keseimbangan meningkatkan risiko jatuh dan dapat menandakan kerapuhan yang sedang berkembang.

Beberapa orang juga merasa pusing saat berdiri terlalu cepat atau khawatir berjalan di permukaan yang tidak rata—takut tersandung.

 

7. Kekuatan genggaman melemah.

Kekuatan genggaman tangan mencerminkan kekuatan otot tubuh secara keseluruhan.

Jika jabat tangan terasa lebih lemah, sering menjatuhkan barang, atau kesulitan membuka tutup botol dan memutar gagang pintu, ini bisa menandakan penurunan massa otot di seluruh tubuh.

Karena itu, tenaga kesehatan sering menggunakan tes genggaman tangan untuk menilai risiko kerapuhan.

 

Sahabat Lansia, mengenali tanda-tanda kerapuhan sejak dini adalah langkah penting untuk menjaga kualitas hidup di usia lanjut.

Kerapuhan bukanlah kondisi yang harus diterima begitu saja. Dengan perhatian dan kesadaran yang tepat, tubuh masih memiliki kesempatan untuk dipertahankan kekuatannya.

Kabar baiknya, ada langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk melawan kerapuhan dan membantu tubuh tetap kuat serta mandiri lebih lama. (*)

Sumber:
WebMD
Foto:
Freepik

 

 

Sahabat Lansia, dunialansia.com bukan merupakan praktik konsultasi medis, diagnosis, ataupun pengobatan. Informasi di situs web ini tidak boleh digunakan sebagai pengganti konsultasi atau saran medis profesional. Bila Sahabat Lansia memiliki masalah kesehatan atau penyakit tertentu atau kebutuhan medis yang spesifik, konsultasikan dengan tenaga medis atau tenaga kesehatan profesional.
Yuk, berbagi artikel ini agar manfaatnya dirasakan oleh banyak orang.