Diabetes sering dikelilingi berbagai anggapan keliru yang dapat membingungkan dan bahkan menyesatkan. Ketahui fakta medis di balik mitos yang beredar.
Dunialansia.com – Sahabat Lansia, diabetes merupakan penyakit kronis yang terjadi ketika tubuh tidak dapat mengatur kadar glukosa (sejenis gula) dalam darah. Karena kondisinya kompleks, wajar bila banyak orang memiliki pertanyaan atau kebingungan seputar penyebab maupun penanganannya.
Sayangnya, berbagai mitos yang beredar justru sering menyesatkan. Berikut beberapa di antaranya, lengkap dengan penjelasan faktanya.
Mitos #1: Tidak ada anggota keluarga yang menderita diabetes, jadi risikonya kecil.
Fakta:
Riwayat keluarga memang meningkatkan risiko terkena diabetes tipe 1 dan tipe 2. Namun, banyak diabetesi (penderita diabetes) tidak memiliki kerabat dekat kondisi tersebut.
Selain faktor keluarga, sejumlah kondisi juga meningkatkan risiko diabetes tipe 2, seperti:

- Kelebihan berat badan atau obesitas.
- Berusia 45 tahun ke atas.
- Pradiabetes
- Sindrom ovarium polikistik.
- Riwayat diabetes gesrasional.
- Faktor keturunan tertentu (Hispanik/Amerika Latin, Afrika Amerika, Indian Amerika, penduduk asli Alaska, beberapa kelompok penduduk Kepulauan Pasifik dan Asia Amerika).
Risiko dapat ditekan dengan menjaga berat badan sehat, aktif bergerak, dan mengonsumsi makanan bergizi seimbang.
Mitos #2: Kelebihan berat badan otomatis menyebabkan diabetes.
Fakta:
Kelebihan berat badan memang meningkatkan risiko, tetapi tidak berarti seseorang pasti menderita diabetes. Bahkan, orang dengan berat badan normal pun dapat mengalaminya. Mengatur pola makan dan meningkatkan aktivitas fisik adalah langkah terbaik untuk menurunkan risiko.
Mitos #3: Mengonsumsi banyak gula menyebabkan diabetes.
Fakta:
Gula bukan penyebab langsung diabetes, tetapi konsumsinya tetap harus dibatasi.
Makanan yang kita konsumsi akan diubah menjadi glukosa, lalu diangkut oleh insulin ke dalam sel untuk dijadikan energi.
Pada diabetes, produksi atau fungsi insulin terganggu, sehingga glukosa menumpuk dalam darah. Pada orang tanpa diabetes, konsumsi gula berlebihan umumnya berdampak pada kenaikan berat badan dan inilah yang kemudian meningkatkan risiko diabetes.
Mitos #4: Setelah didiagnosis menderita diabetes, perlu menjalani diet khusus.
Fakta:
Pola makan diabetesi pada dasarnya serupa dengan pola makan sehat untuk semua orang, yaitu berpedoman pada prinsip gizi seimbang.
Karbohidrat sebaiknya diperoleh dari sayuran, biji-bijian utuh, buah, dan kacang-kacangan. Hindari atau batasi makanan tinggi lemak, natrium, dan gula.
Agar lebih terarah, rencana makan sebaiknya disusun bersama tenaga kesehatan sehingga dapat diterapkan secara konsisten untuk membantu mengelola diabetes.
Mitos #5: Diabetesi tidak boleh mengonsumsi makanan manis.
Fakta:
Gula sederhana menyebabkan lonjakan kadar glukosa yang lebih tinggi. Namun, makanan manis tidak sepenuhnya dilarang—hanya perlu direncanakan dengan tepat.
Makanan manis sebaiknya dikonsumsi pada momen tertentu atau sebagai camila yang menggantikan sebagian porsi karbohidrat harian.
Bagi pengguna insulin, dosis mungkin perlu disesuaikan berdasarkan anjuran dokter.
Mitos #6: Menggunakan insulin berarti gagal mengelola diabetes.
Fakta:
Pada diabetes tipe 1, insulin memang wajib karena tubuh tidak lagi memproduksinya. Pada diabetes tipe 2, kebutuhan insulin bisa meningkat seiring menurunnya kemampuan tubuh memproduksinya.
Penggunaan insulin bukan tanda kegagalan—justru merupakan bagian penting dari pengelolaan diabetes agar kadar gula tetap dalam batas aman.
Mitos #7: Olahraga tidak aman bagi diabetesi.
Fakta:
Aktivitas fisik sangat penting dalam pengelolaan diabetes. Olahraga membantu meningkatkan sensitivitas tubuh terhadap insulin dan menurunkan kadar A1C—salah satu pemeriksaan penting untuk menilai kontrol gula darah.
Rekomendasi olahraga adalah minimal 150 menit per minggu dengan intensitas sedang hingga berat, seperti jalan cepat, ditambah dua sesi latihan kekuatan. Jika masih baru memulai, berjalan cepat adalah pilihan yang baik.
Konsultasikan dengan tenaga kesehatan mengenai rencana olahraga yang aman, terutama terkait kondisi mata, jantung, dan kaki. Bila mengonsumsi obat diabetes, tanyakan cara mencegah gula darah rendah selama berolahraga.
Mitos #8: Diabetes tipe 2 tidak perlu terlalu dikhawatirkan.
Fakta:
Pradiabetes saja sudah meningkatkan risiko berkembang menjadi diabetes dalam 10 tahun. Pradiabetes adalah kondisi kadar gula darah berada di atas normal, tetapi belum termasuk kisaran diabetes.
Langkah pencegahan melalui gaya hidup tetap penting. Menurunkan berat badan dengan berolahraga 150 menit per minggu dapat membantu mengembalikan kadar gula ke batas normal. Konsultasikan dengan tenaga kesehatan untuk mengevaluasi risiko dan langkah pencegahannya.
Mitos #9: Konsumsi obat diabetes dapat dihentikan setelah kadar gula terkontrol.
Fakta:
Sebagian diabetesi tipe 2 memang dapat mengendalikan gula darah tanpa obat melalui perubahan gaya hidup, seperti menurunkan berat badan, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, dan olahraga teratur.
Namun, diabetes bersifat progresif. Artinya, kebutuhan obat dapat muncul kembali meskipun sudah berusaha menjaga kesehatan sebaik mungkin. Evaluasi medis tetap diperlukan.
Sahabat Lansia, memahami perbedaan antara mitos dan fakta membantu kita mengambil keputusan yang lebih tepat dalam menjaga kesehatan.
Pilihlah sumber terpercaya dan jangan ragu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan bila ada hal yang membingungkan.
Kesehatan adalah perjalanan panjang—dan pengetahuan yang tepat selalu menjadi langkah awal terbaik. (*)
Sumber:
MedlinePlus
Foto:
Freepik

Dibangun oleh sejumlah orang muda dan calon lansia. Melalui dunialansia.com, kami mengajak seluruh orang muda untuk peduli lansia, sekaligus mempersiapkan diri menjadi lansia yang SMART (Sehat, Mandiri, Aktif, Rajin, Taat).




