5 Oktober – Hari Meningitis Sedunia: Kesadaran Global untuk Selamatkan Nyawa

5 Oktober – Hari Meningitis Sedunia: Kesadaran Global untuk Selamatkan Nyawa

Setiap tahun, meningitis merenggut ribuan nyawa dalam sekejap. Hari Meningitis Sedunia hadir untuk membuka mata kita bahwa penyakit ini nyata, cepat, dan berbahaya. Inilah saatnya kita bersama memberi perhatian, dukungan, dan harapan bagi mereka yang terdampak.

Dunialansia.com – Sahabat Lansia, Hari Meningitis Sedunia pertama kali diperingati pada 2009 atas inisiatif komunitas penyintas dan keluarga penderita.

Awalnya diperingati setiap 24 April, tetapi sejak 2022 dipindahkan ke 5 Oktober agar lebih banyak negara bisa berpartisipasi dan tidak berbenturan dengan kampanye kesehatan lain.

 

LAHIRNYA HARI MENINGITIS SEDUNIA

Meningitis adalah peradangan pada selaput otak dan sumsum tulang belakang (meninges) yang dapat menyerang siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Penyakit ini berkembang sangat cepat dan menyebabkan kematian dalam hitungan jam.

Sayangnya, banyak orang masih minim pengetahuan tentang penyakit ini, termasuk cara melindungi diri dan orang yang mereka cintai. Dukungan terhadap penyintas juga sering kali kurang, membuat mereka merasa terisolasi.

Kebutuhan akan kebersamaan melahirkan konferensi dunia pertama tentang meningitis pada 2004, yang lalu membentuk Confederation of Meningitis Organisations (CoMO)—jaringan organisasi meningitis internasional pertama

CoMO menyatukan tenaga kesehatan, penyintas, dan keluarga terdampak untuk saling terhubung dan mendorong perubahan.

Pada Januari 2009, CoMO mengorganisasi Hari Meningitis Sedunia. Tujuannya: menyatukan komunitas global, meningkatkan pengetahuan masyarakat, dan mencegah orang baru mengenal penyakit ini ketika sudah terlambat.

Sejak itu, kampanye tahunan ini terus berjalan dengan dukungan Meningitis Research Foundation (MRF) dan telah pula mendapatkan dukungan dari organisasi kesehatan terkemuka, seperti WHO, CDC, dan UNICEF.

 

SAATNYA DUNIA PEDULI MENINGITIS

Sahabat Lansia, meningitis adalah darurat kesehatan global.

Setiap tahun, sekitar 2,3 juta orang di seluruh dunia terdampak, dengan 1 dari 5 penyintas mengalami cacat seumur hidup, dan sekitar 40% kematian akibat meningitis terjadi pada anak di bawah 5 tahun.

Meningitis bakteri adalah bentuk paling berbahaya, bisa membunuh hanya dalam hitungan jam. Gejalanya mirip dengan penyakit lain, seperti flu, malaria, atau COVID-19. Bedanya, meningitis menyebabkan penurunan kondisi tubuh yang sangat cepat sehingga membutuhkan penanganan medis segera.

Dengan tingkat keparahan dan risiko penyebarannya, meningitis memang butuh perhatian dunia. Melalui kesadaran dan kerja sama global, ada harapan besar penyakit ini bisa dikalahkan dalam masa hidup kita. (*)

 

Sumber:
Meningitis Research Foundation

 

Foto:
Freepik

 

 

Sahabat Lansia, dunialansia.com bukan merupakan praktik konsultasi medis, diagnosis, ataupun pengobatan. Informasi di situs web ini tidak boleh digunakan sebagai pengganti konsultasi atau saran medis profesional. Bila Sahabat Lansia memiliki masalah kesehatan atau penyakit tertentu atau kebutuhan medis yang spesifik, konsultasikan dengan tenaga medis atau tenaga kesehatan profesional.
Yuk, berbagi artikel ini agar manfaatnya dirasakan oleh banyak orang.