“Saya Berusia 78 Tahun dan Otak Saya Masih Setajam Silet”

“Saya Berusia 78 Tahun dan Otak Saya Masih Setajam Silet”

Siapa tak ingin memiliki otak yang tetap tajam seiring bertambahnya usia? Seorang profesor emeritus bidang pendidikan di York College of Pennsylvania membagikan rahasianya.

Dunialansia.com – Sahabat Lansia, menjaga otak tetap tajam di usia lanjut bukan hal mustahil. Bahkan, ada yang membuktikannya sendiri. Di usia 78, ia masih menulis, menjadi pembicara, dan berpikir dengan penuh semangat seperti masa mudanya.

Profesor emeritus bidang pendidikan di York College of Pennsylvania, Anthony D. Fredericks, membagikan rahasianya dalam tulisannya berjudul “I’m 78 and my brain is sharp as a whip—my No. 1 rule for a strong, healthy brain is so simple”, yang dipublikasikan di CNBC (11/7/2025)

 

SAYA SELALU INGIN TAHU

Sepanjang karier saya, saya telah menulis lebih dari 175 buku tentang beragam topik. Saya menghabiskan lebih dari tiga dekade sebagai profesor dan menjadi konsultan pada lebih dari 100 sekolah di seluruh Amerika Utara.

Kini, di usia 78 tahun, otak saya masih setajam silet. Meskipun sudah pensiun, saya tetap produktif—saya masih menulis buku, memberikan presentasi, dan menulis blog tentang psikologi.

Apa rahasianya? Sederhana saja: saya selalu ingin tahu!

Kimia otak kita berubah ketika kita menjadi penasaran. Rasa ingin tahulah yang mempertajam daya intelektual kita dan membuat kita tetap aktif secara mental hingga usia senja.

 

EMPAT ATURAN KETAT

Saya punya empat aturan keras agar otak tetap tajam dan cepat merespons.

  1. Saya mengakui ketidaktahuan saya.

Ada kepercayaan umum, pengetahuan adalah kunci kesuksesan. Namun, penelitian menunjukkan beberapa orang paling sukses justru menerima “ketidaktahuan alamiahnya”.

Mereka memahami masih banyak yang perlu dipelajari tentang dunia. Namun, mereka tidak membiarkan hal itu menghalangi kemajuan mereka. Sebaliknya, kesadaran ini memotivasi mereka untuk berbuat lebih banyak.

Menyadari apa yang belum kita tahu dapat menjadi langkah awal menuju pertumbuhan dan kreativitas yang luar biasa.

Bagaimana cara melakukannya?

Sekali atau dua kali seminggu, pilih topik yang kurang Anda kuasai, sebaiknya tidak berkaitan dengan pekerjaan atau latar belakang Anda. Misalnya, pilot pesawat tempur Perang Dunia II, lukisan gua prasejarah, atau pohon berbatang persegi.

Luangkan waktu 5—10 menit untuk mempelajari semua yang Anda bisa tentang topik tersebut. Tuliskan tiga fakta menarik. Ini adalah cara kecil tetapi ampuh untuk melatih otak Anda.

 

  1. Saya berlatih berpikir divergen.

Banyak dari kita terjebak dalam pola pikir konvergen—selalu mencari jawaban yang “benar”.

Sebagai pendidik sepanjang hidup saya, saya melihat sebagian besar sekolah melatih kita untuk fokus pada fakta. Misalnya: “Apa ibu kota negara bagian Pennsylvania?” Padahal, pertanyaan seperti “Menurutmu, di mana sebaiknya ibu kota Pennsylvania ditempatkan?” justru merangsang cara berpikir lebih kreatif.

Pertanyaan divergen atau pertanyaan terbuka memiliki banyak jawaban. Jenis pertanyaan ini membantu melatih otak untuk berpikir lebih dalam, fleksibel, dan tak mudah terpaku pada satu sudut pandang saja.

Bagaimana cara melakukannya?

Beberapa kali dalam seminggu, ajukan pertanyaan “Bagaimana jika…?” pada diri sendiri. Misalnya:

  • Bagaimana jika kamu bisa mengulang satu hari dalam hidupmu? Apa yang akan kamu lakukan?
  • Bagaimana jika satu peristiwa sejarah bisa diubah? Peristiwa apa yang akan kamu ubah?
  • Bagaimana jika kamu bisa sempurna dalam satu bakat tertentu atau cabang olahraga? Manakah yang akan kamu pilih?

Pertanyaan ini menyenangkan sekaligus membuka banyak jalan untuk eksplorasi pikiran. Otak pun jadi lebih lentur, aktif, dan siap menghadapi berbagai situasi.

 

  1. Saya memanfaatkan kekuatan kekaguman (rasa takjub).

Menurut para peneliti di Greater Good Science Center di Universitas California, Berkeley, rasa takjub (awe) bisa membangkitkan keingintahuan dan rasa kagum.

Momen takjub bisa muncul dari hal-hal sederhana maupun luar biasa—seperti menggendong bayi yang baru lahir, menyaksikan Grand Canyon untuk pertama kalinya, atau melihat sekumpulan kupu-kupu beterbangan di ladang terbuka.

Rasa takjub dari pengalaman seperti itu mampu meningkatkan kesejahteraan, membangun sikap positif, dan meningkatkan rasa ingin tahu.

Bagaimana cara melakukannya?

Cobalah 1—2 kali dalam sebulan mengunjungi tempat yang belum pernah kamu datangi sebelumnya. Tak perlu jauh—taman kota, kafe baru, atau jalan kecil yang belum pernah kamu lewati pun bisa jadi pilihan.

Temukan sesuatu yang membuatmu kagum. Amati, lalu catat apa yang kamu rasakan dan pikirkan.

 

  1. Saya mendiversifikasi daftar bacaan saya.

Membaca di luar bidang yang kita kuasai bisa menumbuhkan rasa ingin tahu alami. Dengan membuka diri terhadap berbagai cara berpikir, kita juga membuka peluang baru untuk belajar dan berkembang.

Setelah lebih dari 50 tahun mengajar, daftar bacaan saya justru dipenuhi buku-buku yang tak ada hubungannya dengan pendidikan. Misalnya, strategi pemasaran, paleontologi, budidaya tomat, perahu sempit Inggris, ekologi pulau, lari jarak jauh, dan pohon redwood.

Bagaimana cara melakukannya?

Kunjungi perpustakaan umum, lalu pilih setidaknya tiga buku tentang topik yang menarik minatmu. Namun, bukan bidang yang pernah kamu pelajari secara formal atau tekuni sebagai profesi. Bacalah setidaknya satu bab setiap hari, kamu mungkin akan menemukan hal-hal baru yang menakjubkan.

 

KUNCI UTAMA: JANGAN PERNAH BERHENTI PENASARAN

Sahabat Lansia, menjaga ketajaman otak tidak selalu harus lewat teka-teki silang atau suplemen. Rasa ingin tahu yang terus menyala adalah bahan bakar agar pikiran tetap hidup dan penuh semangat. Semakin banyak kita belajar, semakin muda otak kita terasa.

Jadi, teruslah penasaran, teruslah belajar, dan nikmati setiap penemuan kecil dalam hidup. Otak kita akan berterima kasih untuk itu. (*)

 

Foto:
Freepik

 

 

Sahabat Lansia, dunialansia.com bukan merupakan praktik konsultasi medis, diagnosis, ataupun pengobatan. Informasi di situs web ini tidak boleh digunakan sebagai pengganti konsultasi atau saran medis profesional. Bila Sahabat Lansia memiliki masalah kesehatan atau penyakit tertentu atau kebutuhan medis yang spesifik, konsultasikan dengan tenaga medis atau tenaga kesehatan profesional
Yuk, berbagi artikel ini agar manfaatnya dirasakan oleh banyak orang.