Penurunan nafsu makan di usia 60+ bisa disebabkan perubahan tubuh, faktor emosional, hingga penyakit kronis. Kenali penyebabnya dan cegah risiko malnutrisi sejak dini.
Seiring bertambahnya usia, banyak orang mulai kehilangan selera makan. Makanan favorit tak lagi menggugah selera, porsi makan mengecil, bahkan kadang lupa makan. Perubahan ini bisa dipicu oleh faktor tubuh seperti penurunan indra penciuman dan perasa, perubahan hormon, hingga penyakit kronis. Faktor emosional dan sosial—misalnya depresi atau tinggal sendiri—juga berperan. Akibatnya, asupan gizi berkurang, berat badan menurun, dan kesehatan pun terancam. Mengenali penyebabnya adalah langkah awal untuk mengatasinya.
Banyak orang mengira penurunan nafsu makan di usia lanjut hanyalah masalah selera. Faktanya, ini fenomena umum yang bisa memengaruhi kesehatan secara serius. Menurut data, hingga 30% lansia mengalami perubahan nafsu makan. Makanan yang dulu terasa lezat, kini tak lagi membangkitkan selera. Porsi makan mengecil, jenis makanan berubah, bahkan kadang makan jadi terlewat.
Ada beberapa hal yang menjadi penyebabnya:
1. Perubahan pada tubuh.
Seiring bertambahnya usia, tubuh mengalami banyak perubahan yang memengaruhi selera dan jumlah makanan yang dikonsumsi. Penurunan fungsi indra penciuman dan perasa membuat makanan terasa hambar. Perubahan hormonal, terutama setelah menopause, juga berperan. Selain itu, penglihatan yang menurun membuat tampilan makanan kurang menarik. Kemampuan organ-organ dalam metabolisme juga mengalami penurunan, akibatnya penyerapan nutrisi juga menjadi kurang efisien. Sehingga meski kebutuhan kalori berkurang, kebutuhan gizi justru meningkat.
2. Pengaruh faktor emosional dan sosial.
Kondisi mental dan lingkungan sangat memengaruhi selera makan. Depresi, kesepian, atau kehilangan pasangan hidup bisa membuat seseorang tidak bersemangat untuk makan. Bagi mereka yang tinggal sendiri, tak ada dorongan sosial untuk makan bersama. Akibatnya, makan sering tergantikan oleh camilan ringan yang tidak bergizi, dan kebutuhan nutrisi harian tidak tercapai.
3. Penyakit kronis dan obat-obatan.
Hampir semua penyakit—mulai dari flu hingga sembelit—dapat mengganggu nafsu makan. Penyakit kronis seperti diabetes, penyakit jantung, kanker, atau nyeri sendi lebih sering menyebabkan penurunan selera makan jangka panjang. Ditambah lagi, lebih dari 250 jenis obat dapat memengaruhi rasa dan aroma makanan, atau menurunkan nafsu makan secara langsung.
DAMPAK PADA KESEHATAN
Kehilangan nafsu makan di usia lanjut bukan sekadar masalah berat badan yang turun. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat memicu malnutrisi, yaitu kekurangan zat gizi yang dibutuhkan tubuh untuk berfungsi optimal. Kekurangan vitamin dan mineral seperti vitamin B12, D, kalsium, magnesium, dan zat besi bisa menimbulkan berbagai masalah serius, misalnya:
- Sistem imun melemah, membuat tubuh lebih rentan terkena infeksi seperti flu, pneumonia, atau infeksi saluran kemih.
- Kekuatan otot berkurang, yang meningkatkan risiko jatuh dan cedera pada lansia.
- Kesehatan tulang menurun akibat kekurangan kalsium dan vitamin D, sehingga risiko osteoporosis dan patah tulang semakin tinggi.
- Gangguan fungsi jantung akibat rendahnya asupan kalium dan magnesium.
- Penurunan fungsi kognitif, termasuk daya ingat dan konsentrasi, yang dapat mempercepat terjadinya demensia.
- Penyembuhan luka melambat karena tubuh kekurangan protein dan vitamin C.
Dampak-dampak ini sering kali muncul secara bertahap sehingga tidak langsung terlihat. Itulah sebabnya, mengenali tanda-tanda awal seperti perubahan selera makan, cepat kenyang, atau mulai menghindari jenis makanan tertentu sangatlah penting. Intervensi dini—baik dengan penyesuaian menu, pemeriksaan kesehatan, maupun dukungan sosial—dapat mencegah masalah berkembang menjadi kondisi yang membahayakan kesehatan dan kualitas hidup.
Sumber : sixtyandme.com
Foto : freepik.com

Dibangun oleh sejumlah orang muda dan calon lansia. Melalui dunialansia.com, kami mengajak seluruh orang muda untuk peduli lansia, sekaligus mempersiapkan diri menjadi lansia yang SMART (Sehat, Mandiri, Aktif, Rajin, Taat).




