Keintiman bukan hanya urusan ranjang. Sentuhan, pelukan, saling percaya, dan berbagi cerita juga termasuk bentuk keintiman yang menyejukkan hati, apalagi di usia senja. Keintiman—baik emosional maupun fisik—berperan besar dalam menjaga kesehatan kita.
Dunialansia.com – Sahabat Lansia, banyak orang berpikir, keintiman hanya berkaitan dengan urusan ranjang. Padahal, keintiman jauh lebih luas dari itu.
Amanda Krisher, Associate Director, Behavioral Health di NCOA’s Center for Healthy Aging menjelaskan, keintiman bisa melibatkan seks, tapi tidak harus selalu begitu.
“Keintiman juga mencakup bentuk-bentuk pengalaman bersama dan kedekatan lainnya, baik dalam hubungan romantis maupun platonis,” ujarnya.
Dalam hubungan yang intim, kita merasa dihargai, diterima, dan terhubung secara batin dengan orang lain—secara emosional, fisik, maupun intelektual.
Keintiman bisa muncul lewat sentuhan fisik, seperti berpegangan tangan, berpelukan, atau bermesraan. Sedangkan keintiman emosional terjadi saat kita merasa nyaman berbagi pikiran, perasaan, dan rahasia, tanpa takut dihakimi.
Yang menarik, keinginan untuk merasakan keintiman tidak hilang meski usia terus bertambah. Bahkan, keintiman sangat penting bagi kesejahteraan lansia.
Manfaat Keintiman Untuk Kesehatan Lansia
Keintiman membawa banyak manfaat kesehatan nyata, antara lain:
- Menurunkan stres.
- Membantu pemulihan setelah sakit atau operasi.
- Mendorong kebiasaan hidup sehat.
- Memperpanjang harapan hidup.
Beberapa penelitian bahkan menunjukkan, keintiman seksual bisa membantu menangkal depresi.
Kasih sayang fisik juga berkaitan dengan tekanan darah yang lebih stabil dan meningkatkan hormon oksitosin—hormon yang menimbulkan rasa nyaman, tenang, dan bahagia.
TANTANGAN KEINTIMAN DI USIA SENJA
Meskipun penting, keintiman di usia lanjut punya tantangannya sendiri. Khususnya dalam hal keintiman seksual, sejumlah tantangan emosional, kognitif, dan fisik yang berkaitan dengan usia dapat menjadi kendala.
1. Faktor Emosional
Kita bisa membawa luka emosional dari masa lalu—kehilangan pasangan, perceraian, atau konflik keluarga. Hal-hal ini dapat menghambat dalam membangun kembali keintiman.
Jangan ragu untuk bercerita kepada orang terpercaya atau profesional, seperti konselor dan psikolog. Mengungkapkan perasaan bisa jadi langkah awal yang menenangkan.
2. Faktor Kognitif
Penuaan bisa memengaruhi daya ingat atau suasana hati. Misalnya, depresi dapat menurunkan harga diri dan minat terhadap keintiman fisik.
Momen-momen sederhana, seperti memeluk pasangan sambil menonton film favorit bersama, bisa membantu membangun kembali kedekatan.
3. Faktor Fisik
Tubuh yang menua memang membawa perubahan. Wanita bisa mengalami kekeringan pada vagina atau menurunnya gairah seksual, sementara pria bisa menghadapi disfungsi ereksi.
Belum lagi gangguan, seperti nyeri sendi, keterbatasan mobilitas, kelelahan, atau pemulihan pascaoperasi dan kondisi medis lainnya.
Namun jangan khawatir, banyak solusi yang bisa dicoba—dari pemakaian pelumas yang aman, alat bantu seksual, posisi yang nyaman, hingga konsultasi medis.
Kuncinya adalah komunikasi terbuka dengan pasangan serta keberanian untuk bereksperimen bersama pasangan.
Saat Citra Diri Menghalangi
Tak sedikit lansia merasa tubuhnya tak menarik lagi. Rasa malu atau citra diri negatif dapat menjauhkan kita dari keintiman. Jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Terapis bisa membantu kita berdamai dengan diri sendiri dan membangun kembali rasa percaya diri.
Sahabat Lansia, keintiman bukan soal usia, melainkan soal kedekatan yang tulus. Entah itu lewat pelukan, obrolan hangat, atau sekadar duduk berdampingan dalam diam, keintiman tetap bisa menjadi sumber kebahagiaan.
Buka kembali hati, karena cinta sejati dan keintiman—dalam bentuk apa pun—tetap indah di usia berapa pun. (*)
Baca juga:
7 Cara Meningkatkan Keintiman di Usia Senja
Sumber:
NCOA
Foto:
Freepik

Dibangun oleh sejumlah orang muda dan calon lansia. Melalui dunialansia.com, kami mengajak seluruh orang muda untuk peduli lansia, sekaligus mempersiapkan diri menjadi lansia yang SMART (Sehat, Mandiri, Aktif, Rajin, Taat).




