Saat suhu udara menurun drastis, tubuh kita harus bekerja ekstra untuk mempertahankan kehangatan. Namun, pada kondisi tertentu, terutama pada kelompok rentan seperti lansia, suhu tubuh bisa turun terlalu rendah hingga memicu hipotermia. Jika tidak ditangani dengan cepat, kondisi ini bisa berakibat fatal.
Dunialansia.com – Sahabat Lansia, fenomena bediding atau suhu dingin yang menusuk tulang bisa menyebabkan kondisi serius yang disebut hipotermia, terutama pada kelompok yang rentan seperti lansia. Kenali gejalanya dan ketahui kapan perlu segera mencari bantuan medis.
Hipotermia terjadi ketika tubuh kehilangan panas lebih cepat daripada memproduksinya. Kondisi ini ditandai dengan suhu tubuh yang turun di bawah 35°C, sementara suhu tubuh normal rata-rata adalah 37°C.
Siapa pun dapat terkena hipotermia, tetapi lansia termasuk salah satu kelompok yang berisiko. Seiring bertambahnya usia, kemampuan mengontrol suhu tubuh mengalami penurunan.
Selain itu, lansia cenderung kurang aktif secara fisik dan memiliki lapisan lemak yang lebih tipis, sehingga tubuh lebih cepat kehilangan panas.
PENYEBAB HIPOTERMIA
Penyebab paling umum dari hipotermia adalah paparan suhu dingin dalam waktu lama, baik cuaca maupun air. Namun, lingkungan yang terasa “tidak terlalu dingin” pun bisa menjadi pemicu jika tubuh tidak cukup terlindungi.
Beberapa kondisi yang bisa menyebabkan hipotermia antara lain:
- Mengenakan pakaian yang tidak sesuai dengan suhu lingkungan.
- Terlalu lama berada di luar ruangan saat cuaca dingin.
- Tidak segera mengganti pakaian basah atau mencari tempat yang hangat.
- Terjatuh ke dalam air dingin, misalnya saat kecelakaan perahu.
- Tinggal di rumah yang terlalu dingin, baik karena pemanasan yang rusak atau penggunaan pendingin udara berlebihan.
GEJALA HIPOTERMIA
Gejala hipotermia sering kali muncul perlahan dan bisa tidak disadari oleh penderitanya. Salah satu tanda pertama adalah menggigil, mekanisme alami tubuh untuk menghasilkan panas.
Gejala lain yang perlu diwaspadai:
- Gemetaran hebat, gigi bergemeletuk.
- Bicara menjadi tidak jelas atau bergumam.
- Napas melambat dan dangkal.
- Denyut nadi lemah.
- Gerakan menjadi kaku dan koordinasi menurun.
- Rasa kantuk berlebihan dan kelelahan..
- Kebingungan atau kehilangan ingatan.
- Penurunan kesadaran.
- Pada bayi, kulit bisa tampak merah cerah dan terasa sangat dingin saat disentuh.
KEADAAN DARURAT MEDIS
Hipotermia bukan sekadar kedinginan biasa—kondisi ini merupakan keadaan darurat medis.
Hipotermia bisa memengaruhi kerja otak, membuat penderita sulit berpikir jernih, bahkan tidak menyadari bahwa dirinya dalam bahaya. Itulah mengapa penting untuk segera mencari bantuan medis jika mendapati gejala hipotermia, termasuk pada lansia.
Jika tidak ditangani dengan cepat, hipotermia dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti:
- Gagal jantung.
- Kerusakan hati.
- Gagal ginjal.
- Koma
- Kematian
Tingkat keparahan hipotermia dibagi menjadi:
- Hipotermia ringan: suhu tubuh 35°C hingga 32°C.
- Hipotermia sedang: 32°C hingga 28°C.
- Hipotermia berat: di bawah 28°C.
Semakin rendah suhu tubuh, semakin tinggi risiko kerusakan organ dan kematian. Hipotermia ringan masih bisa ditangani dengan cepat dan tepat, tetapi penting untuk tidak menyepelekan tanda-tandanya sejak awal.
Sahabat Lansia, jangan abaikan rasa dingin yang berlebihan, apalagi jika dialami oleh lansia. Hipotermia bisa terjadi tanpa disadari dan risikonya sangat nyata.
Selalu pastikan lansia berada di lingkungan yang hangat, berpakaian sesuai musim, dan tidak berada terlalu lama dalam kondisi basah atau dingin. Penanganan dini bisa menyelamatkan nyawa. (*)
Baca Juga:
Cara Aman Lindungi Lansia dari Fenoma Bediding
Sumber:
Cleveland Clinic (17/8/2023)
Mayo Clinic (16/4/2024)
Foto:
Freepik

Dibangun oleh sejumlah orang muda dan calon lansia. Melalui dunialansia.com, kami mengajak seluruh orang muda untuk peduli lansia, sekaligus mempersiapkan diri menjadi lansia yang SMART (Sehat, Mandiri, Aktif, Rajin, Taat).




