MENGENAL “WIDOWHOOD EFFECT”: Saat Kesedihan Menyentuh Batas Kehidupan

MENGENAL “WIDOWHOOD EFFECT”: Saat Kesedihan Menyentuh Batas Kehidupan

Setelah pasangan tiada, sebagian lansia merasa separuh jiwanya ikut pergi. Widowhood effect menunjukkan, kesedihan bisa berdampak serius pada kesehatan, bahkan dapat mengancam nyawa. Apa itu widowhood effect?

Dunialansia.com – Sahabat Lansia, mungkin kamu pernah mendengar kisah pasangan lansia yang selalu bersama hingga ajal menjemput. Tak lama setelah pasangannya meninggal, dia pun menyusul. Istilahnya, “widowhood effect”.

Widowhood effect adalah meningkatnya risiko kematian pada seseorang setelah kehilangan pasangan hidupnya. Efek ini berlaku bagi janda maupun duda. Fenomena ini telah dibuktikan dalam berbagai penelitian.

Studi (2023) pada hampir satu juta warga Denmark berusia 65 ke atas menunjukkan: semakin muda usia seseorang saat pasangannya meninggal, semakin besar kemungkinan ia akan meninggal dalam waktu satu tahun.

Pria dalam kondisi ini menghadapi risiko kematian 70% lebih tinggi, sedangkan wanita menghadapi risiko yang lebih rendah (27%) dibandingkan dengan wanita yang pasangannya masih hidup.

Studi sebelumnya bahkan menemukan, risiko kematian bisa meningkat hingga lebih dari 66% dalam 90 hari pertama setelah pasangan meninggal. Hasil penelitian ini berlaku baik untuk wanita maupun pria.

 

APA PENYEBAB WIDOWHOOD EFFECT?

Meski belum diketahui secara pasti, para ahli memiliki beberapa dugaan penyebab efek janda/duda ini, antara lain:

# Beban fisik dan mental sebagai pengasuh. 

Lansia yang merawat pasangannya yang sakit sering kali mengabaikan kesehatan dirinya sendiri. Setelah pasangannya meninggal, hal ini bisa berlanjut: tidak minum obat, tidak ke dokter, atau kehilangan motivasi menjaga diri.

# Dampak fisiologis dari kesedihan.

Kesedihan mendalam bisa menurunkan daya tahan tubuh, menyebabkan kurang tidur, kehilangan nafsu makan, hingga meningkatkan peradangan.

Studi dari Rice University (2018) menunjukkan kadar peradangan tubuh meningkat hingga 17% setelah kehilangan pasangan—dan ini berkaitan dengan risiko kesehatan yang serius, seperti serangan jantung dan stroke.

# Kurangnya dukungan sosial.

Banyak lansia mengandalkan pasangannya untuk menjaga kehidupan sosial. Setelah pasangan tiada, mereka bisa merasa terputus dari lingkaran sosial, yang berdampak buruk bagi kesehatan mental.

# Perubahan lingkungan.

Kematian pasangan kadang membuat seseorang harus pindah rumah atau tinggal bersama keluarga. Hal ini menyebabkan gangguan besar dalam rutinitas yang sudah mapan sehingga bisa memicu stres dan memperburuk kondisi kesehatan.

Dalam beberapa kasus, kesedihan yang sangat mendalam bahkan bisa memengaruhi jantung secara fisik—dikenal sebagai kardiomiopati Takotsubo atau sindrom patah hati. Kondisi ini lebih sering memengaruhi wanita, cenderung  terjadi dalam kasus kematian mendadak dan traumatis.

 

CINTA YANG TERUS DIJAGA MESKI DITINGGAL PERGI

Widowhood effect adalah pengingat betapa dalamnya ikatan emosional dan fisik antara pasangan lansia. Namun, kesedihan tidak harus dibiarkan menggerogoti kehidupan yang masih ada.

Dengan dukungan keluarga, komunitas, serta perhatian terhadap kesehatan fisik dan mental, lansia yang kehilangan pasangan tetap dapat menjalani hidup yang berarti dan bahagia.

Sahabat Lansia, jika kamu atau orang terdekat sedang mengalami kehilangan, jangan ragu mencari dukungan, ya. (*)

 

Sumber:
NCOA (2/5/2025)

Foto:
Freepik

 

 

Sahabat Lansia, dunialansia.com bukan merupakan praktik konsultasi medis, diagnosis, ataupun pengobatan. Informasi di situs web ini tidak boleh digunakan sebagai pengganti konsultasi atau saran medis profesional. Bila Sahabat Lansia memiliki masalah kesehatan atau penyakit tertentu atau kebutuhan medis yang spesifik, konsultasikan dengan tenaga medis atau tenaga kesehatan profesional.
Yuk, berbagi artikel ini agar manfaatnya dirasakan oleh banyak orang.