Mengenal HIPERTENSI SEKUNDER

Mengenal HIPERTENSI SEKUNDER

Ada kondisi tertentu yang mendasari terjadinya hipertensi sekunder. Gejala yang muncul bergantung pada kondisi yang mendasarinya. Begitu pun pengobatannya.

Dunialansia.com – Sahabat Lansia, berbeda dari hipertensi primer yang tak diketahui penyebabnya, hipertensi sekunder dapat diidentifikasi penyebabnya.

Jika hipertensi primer (esensial) merupakan jenis hipertensi paling umum, maka hipertensi sekunder hanya sekitar 5—10 persen.

Menurut penelitian terbaru, jumlah kasus hipertensi sekunder mungkin lebih banyak dari yang terlihat. Ini karena banyak kasus keliru dikenali sebagai hipertensi primer.

Di antara orang-orang dengan hipertensi, hipertensi sekunder meliputi 17% dari mereka yang berusia 65 tahun atau lebih.

 

KETAHUI PENYEBABNYA

Sering kali, hipertensi sekunder disebabkan oleh kondisi medis lain atau obat-obatan atau zat tertentu yang digunakan pasien.

Mengobati penyebab yang mendasarinya dapat menurunkan tekanan darah ke tingkat yang lebih sehat.

Ada sejumlah kondisi yang dapat menyebabkan hipertensi sekunder. Antara lain: penyakit ginjal, hipertiroidisme dan hipotiroidisme, gangguan pernapasan saat tidur (obstructive sleep apnea), dan lainnya.

Penggunaan obat-obatan atau zat tertentu, termasuk beberapa obat kemoterapi dan pil KB, juga dapat menyebabkan hipertensi sekunder. Begitu pun alkohol, nikotin, dan suplemen herbal tertentu.

 

GEJALA AKIBAT PENYEBAB

Hipertensi sekunder juga tidak memiliki gejala, kecuali tekanan darah sangat tinggi. Itulah pentingnya pemeriksaan/pengukuran tekanan darah.

Namun, seseorang mungkin saja mengalami gejala, bergantung pada kondisi yang mendasarinya.

Gejala yang mungkin terjadi:

  • kelemahan atau kram otot.
  • sakit kepala.
  • berkeringat,
  • aritmia (detak jantung tidak teratur),
  • edema paru tiba-tiba (cairan di paru-paru),
  • gejala sleep apnea, seperti mengantuk di siang hari,
  • gejala penyakit tiroid, seperti jantung berdebar-debar, diare, dan intoleransi panas.

 

PENGOBATAN & PENCEGAHAN

Hipertensi sekunder yang tidak diobati, dapat menyebabkan penyakit jantung hipertensi, yaitu kerusakan pada jantung akibat tekanan darah tinggi selama bertahun-tahun.

Sebaliknya, dengan pengobatan yang tepat, hipertensi sekunder memiliki harapan positif. Pengobatan akan bervariasi bergantung pada kondisi yang mendasarinya.

Tentunya pengobatan harus didukung pula dengan gaya hidup sehat.

Pilihan gaya hidup juga dapat membantu mengurangi risiko beberapa kondisi yang mendasarnya, seperti penyakit ginjal dan aterosklerosis. Ini termasuk menghindari diet tinggi natrium dan tidak merokok.

Selain itu, deteksi dan pengobatan dini akan menurunkan risiko kerusakan pembuluh darah dan jantung akibat tekanan darah tinggi yang berkelanjutan.

Apalagi tidak semua hipertensi sekunder dapat dicegah, karena ada yang disebabkan oleh faktor genetik atau ciri-ciri bawaan sejak lahir.

 

TANDA BAHAYA

Lakukan tes hipertensi sekunder jika memiliki kondisi berikut:

  • Tekanan darah yang biasanya stabil, tiba-tiba naik.
  • Memiliki tekanan darah tinggi sebelum usia 30 tahun.
  • Mengalami krisis hipertensi (tiba-tiba memiliki tekanan darah tinggi yang berbahaya).
  • Mengonsumsi setidaknya tiga obat untuk menurunkan tekanan darah, tetapi tekanan darah masih tinggi (hipertensi resistan).
  • Gejala yang mungkin mengindikasikan kondisi yang mendasarinya.

 

 

Sumber:
Cleveland Clinic (28/4/2025)
Medical News Today (12/8/2024)

 
Foto:
Freepik

 

 

Sahabat Lansia, situs dunialansia.com bukan merupakan praktik konsultasi medis, diagnosis, ataupun pengobatan. Informasi di situs ini tidak boleh digunakan sebagai pengganti konsultasi atau saran medis profesional. Bila Sahabat Lansia memiliki masalah kesehatan atau penyakit tertentu atau kebutuhan medis yang spesifik, konsultasikan dengan tenaga medis atau tenaga kesehatan profesional.
Yuk, berbagi artikel ini agar manfaatnya dirasakan oleh banyak orang.