14 November, Hari Diabetes Sedunia: TETAP SEHAT MESKI DIABETES

14 November, Hari Diabetes Sedunia: TETAP SEHAT MESKI DIABETES

Diabetes tipe 2 paling umum dialami, modifikasi gaya hidup bantu mengatasi.

Dunialansia.com – Pandemi Covid-19 belum berakhir. Salah satu kelompok yang rentan terpapar virus ini adalah mereka yang memiliki penyakit penyerta (komorbid). Data yang dihimpun Satuan Tugas Penanganan Covid-19 per 13 Oktober 2020 menunjukkan, dari total kasus yang terkonfirmasi positif Covid-19, tercatat 1.488 pasien memiliki penyakit penyerta. Di antaranya: hipertensi (50,5%), diabetes (34,5%), dan penyakit jantung 19,6%.

Diabetes merupakan penyakit menahun (kronis) berupa gangguan metabolik yang ditandai dengan kadar gula darah melebihi batas normal. Makanan yang kita konsumsi, oleh tubuh, akan diubah menjadi glukosa (gula) sebagai sumber energi. Namun, untuk mengolah glukosa menjadi energi, tubuh membutuhkan insulin, hormon yang dihasilkan oleh pankreas.

Nah, pada diabetesi (sebutan untuk penderita diabetes), bisa jadi produksi insulinnya tidak mencukupi. Atau, produksinya cukup, tetapi tubuh tidak dapat menggunakannya dengan cara yang benar. Atau, bisa juga keduanya.

DIABETES TIPE 2 PALING UMUM

Ada dua jenis diabetes, yaitu diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2. Yang paling umum adalah diabetes tipe 2. Penyakit ini berkembang perlahan dan timbul setelah usia di atas 40. Sementara diabetes tipe 1, umumnya timbul sejak anak-anak atau remaja, meski dapat juga terjadi pada golongan usia lainnya.

Mereka yang kelebihan berat badan, tidak aktif, atau memiliki riwayat keluarga diabetes lebih berisiko terkena diabetes tipe 2. Begitu pula dengan perempuan yang memiliki riwayat diabetes gestasional (diabetes yang berkembang selama kehamilan).

 

PRADIABETES

Mereka yang mengalami pradiabetes lebih berisiko terkena diabetes tipe 2. Orang dikatakan mengalami pradiabetes bila kadar gula darahnya lebih tinggi dari normal tetapi tidak cukup tinggi untuk disebut diabetes. Orang dengan pradiabetes memiliki peluang lebih besar terkena diabetes tipe 2 dan mengalami serangan jantung atau stroke.

Pencegahan atau setidaknya menunda terkena penyakit ini dapat dilakukan dengan cara menurunkan berat badan, mengonsumsi makanan sehat, dan olahraga teratur. Dokter dapat membantu membuat pilihan makanan sehat dan aktivitas fisik, juga pemberian obat resep bila memang dibutuhkan untuk menunda/mencegah penyakit ini. Yang juga penting, berhenti merokok, karena perokok lebih mungkin terkena diabetes tipe 2.

 

KENALI GEJALANYA

Seringnya, gejala ini berkembang perlahan dan tidak disadari. Bahkan, tak jarang malah “diabaikan” oleh lansia karena menganggapnya sebagai gejala penuaan. Konsultasikan ke dokter bila merasakan/mengalami gejala-gejala berikut:

  • Merasa lelah.
  • Cepat lapar dan mudah haus.
  • Kehilangan berat badan, padahal tidak sedang dalam program penurunan berat badan.
  • Sering buang air kecil.
  • Masalah penglihatan, seperti buram/kabur.
  • Bila ada luka, lama sembuhnya.

MODIFIKASI GAYA HIDUP

Diabetes, seiring waktu dapat menimbulkan masalah kesehatan serius, seperti penyakit jantung, stroke, ginjal, masalah mata, dan kerusakan saraf yang dapat menyebabkan amputasi. Lansia dengan diabetes juga memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami depresi dan gangguan kognitif daripada lansia tanpa diabetes.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh diabetesi untuk mencegah atau menunda munculnya masalah kesehatan terkait diabetes ini.

  1. Memeriksakan kesehatan secara berkala.

Penting mengontrol kadar gula darah, setidaknya setiap enam bulan sekali. Kadar yang sangat tinggi (disebut hiperglikemia) maupun sangat rendah (disebut hipoglikemia) dapat berisiko bagi kesehatan. Diabetesi juga perlu memeriksakan tekanan darah dan kadar kolesterol/trigliserida. Begitu pula dengan ginjal, karena diabetes dapat memengaruhi ginjal. Lakukan juga pemeriksaan mata tahunan agar kesehatan mata tetap terjaga.

  1. Mengonsumsi makanan sehat.

Bagi diabetesi, makanan yang dikonsumsi akan memengaruhi kadar glukosa. Jadi, perhatikan betul makanan yang akan dikonsumsi dan berapa banyak. Yang jelas harus dibatasi adalah makanan dan minuman manis, seperti kue, permen, soda, dan jus buah. Bila perlu, apalagi bagi diabetesi yang kelebihan berat badan, sebaiknya konsultasikan dengan ahli gizi.

  1. Aktif secara fisik, berhenti/tidak merokok.

Merokok meningkatkan risiko untuk banyak masalah kesehatan, termasuk serangan jantung dan stroke. Perokok memiliki kemungkinan 30—40% lebih tinggi terkena diabetes tipe 2 daripada bukan perokok. Sementara olahraga dapat meningkatkan kontrol glukosa darah yang lebih baik dan membantu mengurangi kelebihan berat badan. Bahkan, jenis olahraga tertentu dapat membantu mengatasi masalah kesehatan yang sering dialami lansia dengan diabetes, seperti gangguan keseimbangan dan fleksibilitas. Sebaliknya, tidak  berolahraga dapat meningkatkan beberapa risiko yang terkait dengan diabetes tipe 2,  termasuk penyakit kardiovaskular.

  1. Menjaga kesehatan kulit dan kaki.

Jaga kebersihan kulit dan gunakan pelembut kulit untuk mengatasi kekeringan. Rawat luka kecil dan memar untuk mencegah infeksi. Perhatikan kondisi kaki. Jika mengalami luka, lecet, luka pada kulit, infeksi yang tidak segera sembuh, sebaiknya periksakan ke dokter.

  1. Pengobatan

Dengan memerhatikan pola makan, menurunkan berat badan, dan berolahraga dapat mengontrol kadar gula darah diabetesi tipe 2. Namun terkadang tindakan ini belumlah cukup untuk menurunkan kadar gula darah mendekati kisaran normal, sehingga perlu dibarengi dengan pemberian obat. Konsumsi obat harus mengikuti anjuran dokter. Beri tahu dokter jika mengalami efek samping obat, begitu pun jika sedang mengonsumsi obat-obatan lain.

  1. Mengelola stres.

Tak kalah penting, mengelola stres. Terkadang, stres dapat menyebabkan makan berlebihan dan merokok, yang pada gilirannya dapat berdampak negatif pada gula darah. Berjalan-jalan di alam, mendengarkan musik favorit, membaca buku/novel, berolahraga, dan bermeditasi hanya salah satu dari banyak aktivitas menyenangkan yang dapat membantu mengurangi stres. (*)

Sumber:
Infodatin 2020, Dibetes Melitus
Kemenkes RI (kemkes.go.id)
Medical News Today
National Institute on Aging (nih.gov)

Foto:
Freepik.com

Yuk, berbagi artikel ini agar manfaatnya dirasakan oleh banyak orang.