Lansia Tangguh = Lansia SMART: Sehat, Mandiri, Aktif, Rajin, Taat

Lansia Tangguh = Lansia SMART: Sehat, Mandiri, Aktif, Rajin, Taat

Menjadi lansia tangguh adalah dambaan setiap lansia.

dunialansia.com – Sobat Muda, pernahkah Anda berpikir, kelak Anda akan menjadi lansia yang seperti apa? Pastinya, kita enggak ingin jadi beban bagi keluarga atau orang lain. Sekalipun usia sudah di atas 60 tahun alias lansia, kita tetap ingin menjadi individu yang mandiri, individu yang sehat, individu yang tetap aktif dan produktif. Ya, kita ingin menjadi lansia tangguh!

“Menjadi lansia tangguh adalah dambaan, harapan setiap lansia,” kata Prof. (Em.) Dr. Saparinah Sadli dalam acara Talkshow Orang Muda Peduli Lansia dengan tema “Menjadi Lansia yang SMART” di RS Mayapada Lebak Bulus, Jakarta pada Sabtu, 27 April 2019.

Yang dimaksud lansia tangguh adalah lansia yang tidak menjadi beban bagi siapa pun—keluarga, masyarakat, pemerintah, bahkan juga dirinya sendiri—serta bisa mempertahankan kemandiriannya dalam berpikir dan bertindak.

KARAKTERISTIK LANSIA TANGGUH

Lebih lanjut dijelaskan oleh Ibu Sap, panggilan akrab Pemerhati Perempuan dan Lansia ini, lansia tangguh memiliki empat karakteristik sehat, yaitu sehat fisik, sehat mental, sehat emosional, dan sehat sosial.

Sehat fisik di usia lanjut bukan berarti tidak punya penyakit, seperti darah tinggi, rematik, katarak, dll. Akan tetapi, bagaimana si lansia bisa menemukan cara untuk menyesuaikan diri dengan penyakit tersebut dan menguasai kekurangan fisiknya.

Sehat mental, maksudnya lansia mau merawat potensi kognitifnya dengan melakukan rangsangan/stimulasi tertentu. Contoh, mau belajar sesuatu yang baru meskipun sulit, semisal, belajar menggunakan komputer/laptop, ikut latihan menari/menyanyi, kursus bahasa asing, dll.

Sehat emosional adalah dapat dan mau menemukan kegiatan/aktivitas yang menimbulkan rasa senang atau melakukan hobinya, seperti merajut, melukis, mengaji, berdiskusi, dsbnya.

Sehat sosial adalah mau berinteraksi sosial atau bersilaturahmi. Sayangnya, sehat sosial belum dianggap perlu/penting, baik oleh lansia sendiri maupun lingkungan atau keluarganya. Padahal, dampak dari tidak mau berinteraksi sosial adalah rasa sepi (alone and lonely) dan bosan.

LANSIA TANGGUH = LANSIA SMART

Jadi, meski sudah masuk usia lanjut, kita tetap bisa mengembangkan potensi diri yang kita miliki dengan menyesuaikan diri pada kondisi khusus yang kita alami. Contoh, lansia yang berada di kursi roda dan masih runtun pemikirannya, dapat berkontribusi sesuai profesi atau keterampilan yang dimilikinya.

Sobat Muda, inilah yang perlu kita tanamkan pada diri lansia, apakah itu orangtua/mertua maupun lansia pada umumnya (bahkan diri kita sendiri yang kelak akan menjadi lansia juga), bahwa menjadi lansia bukan berarti “tidak berdaya”. Kita bisa menjadi lansia yang SMART: Sehat, Mandiri, Aktif, Rajin, dan Taat (beribadah).

Foto-foto: Maria Octavia

Tim DuLan
EDITOR
PROFIL
Berbagi itu indah

Tulisan Lainnya