9 Tanda Kekerasan pada Lansia

9 Tanda Kekerasan pada Lansia

Tindak kekerasan dapat terjadi pada siapa saja, tak terkecuali lansia. Setiap tahun, ratusan ribu orang di atas usia 60 dilecehkan, diabaikan, atau dieksploitasi secara finansial.

dunialansia.com – Sobat Muda, bila kita mendapati seorang lansia tampak tertekan atau bingung, gelisah, kerap mengurung diri, apalagi disertai dengan bekas luka pada tubuhnya, bisa jadi lansia tersebut telah mengalami tindak kekerasan. Duh!

BENTUK-BENTUK KEKERASAN PADA LANSIA

Tindak kekerasan pada lansia dapat terjadi di banyak tempat, termasuk di rumah si lansia itu sendiri, rumah anggota keluarga, dan panti wreda. Ada banyak jenis tindak kekerasan pada lansia, di antaranya:

Pelecehan Fisik
Terjadi ketika seseorang menyebabkan lansia mengalami cedera tubuh akibat mendapat pukulan, didorong, atau lainnya.

Pelecehan Emosional
Kadang-kadang disebut pelecehan psikologis, misalnya, lansia mendapatkan kata-kata yang menyakitkan, dibentak, diancam, atau berulang kali diabaikan. Melarang/mengupayakan agar lansia tidak bisa bertemu dengan teman dan kerabat dekat, juga termasuk pelecehan emosional/psikologis.

Pengabaian
Baik dari anggota keluarga maupun perawat/pendamping lansia, seperti: lalai atau tidak berusaha menanggapi kebutuhan lansia; meninggalkan lansia sendirian tanpa merencanakan untuk mendampingi atau merawatnya.

Pelecehan Seksual
Memaksa lansia untuk menonton film dewasa atau menjadi bagian dari tindakan seksual.

TANDA-TANDA KEKERASAN PADA LANSIA

Berikut ini beberapa tanda yang menunjukkan lansia mengalami tindak kekerasan:

  • Mengalami masalah tidur.
  • Tampak tertekan atau bingung.
  • Kehilangan berat badan tanpa alasan.
  • Menampilkan tanda-tanda trauma.
  • Menarik diri atau mengurung diri.
  • Tidak mau melakukan aktivitas yang disukainya.
  • Terdapat luka memar, luka bakar, atau bekas luka yang tak dapat dijelaskan.
  • Tampak berantakan dengan rambut tidak rapi/tak pernah dikeramas atau pakaian yang dikenakan kotor.

YUK, LAKUKAN INI!

Tindak kekerasan pada lansia tidak akan berhenti dengan sendirinya. Orang lain perlu turun tangan dan membantu. Banyak lansia merasa malu untuk melaporkan penganiayaan yang dialaminya. Atau, mereka takut jika laporan itu justru akan memperburuk situasi dan pelaku akan semakin bersikap tidak baik kepadanya.

Oleh karena itu, bila kita menemukan tanda-tanda kekerasan di atas ketika sedang mengunjungi lansia di rumahnya atau di fasilitas perawatan lansia atau bahkan orangtua/mertua kita sendiri yang mengalaminya, maka kita perlu berbicara dengan lansia tersebut untuk mencari tahu apa yang terjadi.

Ajak duduk berdua. Katakan bahwa kita merasa khawatir. Tawarkan untuk mengajaknya mendapatkan bantuan, misalnya, ke layanan perlindungan dan pengaduan hukum. Banyak lembaga layanan sosial dapat membantu mengatasi masalah emosional, hukum, dan keuangan yang dialami lansia. (*)

Lansia Rentan Alami Penyalahgunaan Harta dari Orang yang Tak Bertanggung Jawab

Selain masalah kekerasan, kita juga perlu berhati-hati untuk urusan harta/uang milik lansia. Pasalnya, harta/uang milik lansia rentan dicuri atau disalahgunakan untuk kepentingan pribadi seseorang, entah orang yang dikenal maupun tidak oleh si lansia.

Bentuknya bisa berupa memalsukan cek, mencuri uang pensiun dan tunjangan jaminan sosial, atau menggunakan kartu kredit dan ATM/rekening bank si lansia. Bahkan juga mengubah nama pada surat wasiat, rekening bank, polis asuransi jiwa, ataupun hak atas rumah tanpa izin dari lansia.

Itulah mengapa, kita perlu berhati-hati. Apalagi penyalahgunaan uang/harta ini sulit dideteksi. Bahkan, seseorang yang belum pernah si lansia temui/kenal pun dapat mencuri informasi keuangannya melalui telepon, misal.

Namun, bukan berarti kita lantas mengambil alih keuangan si lansia, lo. Tidak apa-apa, kok, jika orangtua/mertua kita yang lansia mengelola harta/keuangannya sendiri. Itu salah satu bentuk kemandirian lansia. Yang penting kita tak lupa memberikan informasi mengenai kemungkinan penyalahgunaan harta/uang tersebut oleh orang yang tidak bertanggung jawab dan mendiskusikan cara pencegahannya.(*)

Sumber:
National Institute on Aging (NIA)

Foto:
freepik.com

Tim DuLan
EDITOR
PROFIL
Berbagi itu indah

Tulisan Lainnya