BAKTERI BAIK (MIKROBIOMA) DAN KESEHATAN LANSIA (I)

BAKTERI BAIK (MIKROBIOMA) DAN KESEHATAN LANSIA (I)

Yuk, kenali bakteri baik di perut sebagai kunci penuaan sehat dan bahagia.

Sahabat Lansia, di dalam tubuh kita, tepatnya di usus, hidup triliunan mikroorganisme yang ikut menjaga kesehatan setiap hari? Mereka bukan kuman jahat, melainkan teman baik yang dikenal sebagai mikrobioma usus. Mikrobioma ini terdiri dari ribuan spesies bakteri dan jamur yang bekerja tanpa henti untuk membantu tubuh kita—mulai dari mencerna makanan, memperkuat sistem imun, hingga menjaga suasana hati tetap stabil.

Uniknya, mikrobioma usus bukan hanya kumpulan bakteri biasa. Mereka terlibat dalam banyak proses penting tubuh, termasuk membantu tubuh menyerap nutrisi, mengurangi peradangan, dan bahkan melindungi dari berbagai penyakit kronis yang sering muncul di usia lanjut.

MENGAPA MEREKA PENTING BAGI LANSIA?

Seiring bertambahnya usia, kemampuan tubuh untuk menyerap nutrisi dari makanan bisa menurun. Di sinilah peran bakteri baik menjadi sangat penting. Mereka membantu mengolah serat dan nutrisi yang tidak bisa dicerna sendiri oleh tubuh. Hasilnya? Tubuh tetap mendapatkan energi dan gizi yang cukup meski porsi makan lebih sedikit.

Tak hanya itu, mikrobioma usus yang sehat juga membantu meredam peradangan kronis yang bisa memicu penyakit seperti radang sendi, diabetes, dan gangguan jantung. Sistem imun pun menjadi lebih seimbang dan tidak ‘panik’ menghadapi hal-hal kecil.

PERUBAHAN MIKROBIOMA SEIRING USIA

Sayangnya, keragaman bakteri baik dalam usus biasanya menurun saat usia bertambah. Hal ini bisa disebabkan oleh perubahan pola makan, penggunaan obat-obatan, stres, kesepian, atau menurunnya aktivitas fisik. Jika keseimbangan bakteri terganggu, maka bakteri jahat bisa mengambil alih dan menimbulkan gangguan seperti sembelit, diare, perut kembung, bahkan infeksi saluran kemih atau pneumonia.

Kenapa emosi bisa mengganggu pencernaan?

Pernahkah merasakan: saat cemas atau stres, perut jadi mulas, kembung, atau mual. Itu bukan kebetulan. Ternyata, otak dan usus kita saling terhubung lewat apa yang disebut sumbu otak-usus (gut-brain axis). Artinya, otak dan usus kita saling berkomunikasi. Ketika pikiran sedang gelisah, maka bisa langsung memengaruhi kerja pencernaan. Dan sebaliknya, ketidakseimbangan bakteri usus juga bisa membuat kita lebih mudah cemas atau murung. Karena itulah, usus sering disebut sebagai “otak kedua”.

Ini terungkap pada sebuah penelitian yang dimuat dalam jurnal Nature Reviews Gastroenterology & Hepatology (2016) mengungkapkan bahwa stres psikologis dapat mengubah komposisi mikrobioma usus dan meningkatkan peradangan. Selain itu, gaya hidup yang tidak aktif, pola tidur yang buruk, dan konsumsi makanan tidak seimbang juga memperburuk ketidakseimbangan mikroba usus, terutama pada lansia.

Sumber : sixtyandme.com

Foto : freepik.com

Yuk, berbagi artikel ini agar manfaatnya dirasakan oleh banyak orang.